Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2016

Jembatan Soekarno Manado: Permainan Empat Warna dan Simbol Kerukunan

SEBAGAI Proklamator dan Presiden Pertama RI, nama Ir. Soekarno banyak diabadikan sebagai nama jalan, tempat, wilayah dan masih banyak lagi.

Di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sendiri, nama ini diabadikan sebagai nama jembatan. Jembatan Soekarno, itulah nama jembatan dengan panjang1.127 meter dan Lebar 17 meter. Membentang di atas Pelabuhan Manado menjadikan jembatan ini menjadi ikon baru ibukota provinsi itu.

Tidak hanya hari libur, warga Manado, bahkan dari Kabupaten/Kota lainnya setiap hari, terutama pagi dan sore hingga malam, akan berwisata di atas jembatan sambil menikmati panorama teluk Manado, serta tentu saja, Pulau Manado Tua yang memang tampak dengan jelas.

Daya tarik jembatan berbandrol Rp300,28 miliar ini akan lebih memanjakan mata setiap warga saat malam hari. Penempatan lampu empat (4) warna, kemudian memantul ke dua tiang utama.

Itulah keindahan yang disajikan Jembatan Soekarno, itulah kebangaan seluruh warga. Empat warna yang menghiasi angkasa, Merah, Biru, Kuning dan Hijau, seolah menggambarkan kehidupan warga Sulut yang penuh warna, pluralis namun senantiasa harmonis.

Maka, tak ada kata menyesal jika kita datang ke Manado dan menyapa jembatan Soekarno dengan empat warnanya sebagai simbol kerukunan!

Senin, 21 September 2015

Taman Kesatuan Bangsa Manado, Mana Tempat Dudukmu?

MELEPAS segala kepenatan usai seharian kerja, bisa dilakukan dengan duduk santai di Taman Kesatuan Bangsa(TKB), apalagi kalau mentari sudah mulai berkedip di ufuk barat. 

Paling asyik mengambil tempat duduk yang mengitari bundaran air mancur(meski terkadang airnya lagi malas sehingga kolamnya dengan bangga berkata 'aku kering ya lau').

Tapi, entah mau mau bertanya kepada siapa, kerap tempat duduknya hilang. Lho, koq bisa? Tentu saja bisa. Bagaimana caranya?. Untuk bisa mengetahui hilangnya tempat duduk, datanglah ke TKB sore jelang malam atau sekitar pukul 17.30 Wita..

Tempat duduk dipastikan masih menampakkan diri dengan jelas. Tunggu sekitar 30 menit, dipastikan setengah dari tempat duduk sudah berangsur menghilang.

Ini bukan tentang ilmu gaib, bukan juga hasil perbuatan dari para pedagang obat, yang memang sering mangkal di seputaran TKB, karena ini tentang aksi para pedagang kaki lima (PKL) yang mulai meletakkan barang dagangan di tempat duduk.

Tempat duduk akan hilang karena barang dagangan yang diletakkan sangat banyak. Kayaknya para PKL itu memang berniat buka kios di TKB.

Di sisi lainnya, pedagang makanan sudah pasang patok. Itu tempat mereka.

Kalau sudah begini, silahkan para pencari refreshing untuk mundur, duduk di tempat duduk di sisi lainnya kalau tidak mau berdiri.

Sungguh pemandangan yang aneh tapi sangat nyata, Para PKl dengan santainya mendudukan barang jualan tanpa peduli dengan warga yang sebetulnya ingin duduk. 

Tapi sejengkel apapun, itulah faktanya. So, Taman Kesatuan bangsa, di mana tempat dudukmu? Jangan pernah tanya kepada para penjual bongkahan batu akik, karena mereka memang berada di luar TKB.

Senin, 16 Maret 2015

Di Manado, Pijat Tradisional Bersaing Ketat dengan Rumah Kost

BISNIS rumah kost di Manado tergolong 'laris manis.' Mulai dari yang bertarif sederhana hingga tarif sekelas VIP menyebar di banyak titik.

Kalau dibilang populer, memang logis. Bayangkan saja. Ada orang yang beralamat di Manado bagian utara, lantaran sekolah/kuliah atau kerja di Manado bagian tengah atau selatan, lebih memilih indekost.

Rumah kost lantas tidak pernah sepi penghuni. Soal ada yang berniat 'off' atau keluar, kandidat pengganti sudah antri. Keluar itu pun, terkadang pindah tempat kost. Intinya, tetap 'ngekost.'

Selain bisnis rumah kost, Manado juga mulai dibanjiri bisnis pijat tradisional. Berneda karakter tapi punya banyak kemiripan. Orang yang ngekost dan masuk ke tempat pijat, pastilah ingin memperoleh kenyamanan.

Sebaliknya, semakin banyak 'peminat,' tentu pemilik kost dan tempat pijat kian pasti dalam hal income.

Melihat fenomena saat ini, sekilas tergambar sebuah 'pertarungan.' Kedua bisnis ini berlomba - lomba menjadi yang terpopuler dengan ragam 'menu' dan 'trik' biar disegani oleh peminat.

Indikasinya, jika sebelumnya satu pemilik sampai memiliki dua tempat kost, ada owner tempat pijat tradisional saat ini bahkan memiliki lebih dari 3 tempat.

Persaingan ketat sedang berlangsung!(Fik)