Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Agustus 2014
Minggu, 24 November 2013
Asal Usul Orang Minahasa
MINAHASA, Sulawesi Utara diperkirakan pertama kali telah
dihuni oleh manusia sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Para peneliti
memperkirakan suku bangsa Minahasa berasal dari Formosa Taiwan, keturunan
suku bangsa Austronesia dari Formosa Taiwan, yang melakukan perjalanan
panjang melalui Filipina dan terus ke Sulawesi. Banyak terdapat
kemiripan bahasa dari bahasa Minahasa dengan bahasa-bahasa di Formosa
Taiwan.
Menurut pendapat Tandean, seorang ahli bahasa dan huruf
Tionghoa Kuno, 1997, melakukan penelitian pada Watu Pinawetengan.
Melalui tulisan “Min Nan Tou” yang terdapat di batu itu, ia
mengungkapkan, tou Minahasa diperkirakan merupakan keturunan Raja Ming
yang berasal dari tanah Mongolia, yang datang berimigrasi ke Minahasa.
Arti dari Min Nan Tou adalah “orang turunan Raja Ming."
Tapi pendapat
tersebut dianggap lemah menurut David DS Lumoindong, karena kalau
Minahasa memang berasal dari keturunan Raja Ming, maka ilmu pengetahuan
dan kebudayaan Kerajaan Ming yang sudah pada taraf maju seharusnya
terlihat pada Peninggalan Arsitektur Minahasa ditahun 1200-1400, tetapi
kenyataannya peninggalan atau kebudayaan zaman Ming tidak ada satupun di
Minahasa, jadi pendapat Tandean lemah untuk digunakan sebagai dasar
dalam penulisan Sejarah Asal Usul Suku Minahasa.
Sedangkan berdasarkan
pendapat para ahli A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack, orang Minahasa
berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan pertalian Jepang dan
Mongol ialah memiki lipit Mongoloid dan kesamaan warna kulit, yaitu
kuning langsat. Persamaan dengan Mongol dalam sistem kepercayaan dapat
dilihat pada agama asli Minahasa Shamanisme sama seperti Mongol.
Dan juga dipimpin oleh walian (semacam pendeta/pemimpin agama) yang langsung dimasuki oleh opo. Agama Shamanisme ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol dan terlihat juga kemiripan dengan agama asli suku Dayak di Kalimantan, dan Korea.
Berdasarkan pendapat para ahli di antaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack yaitu berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan pertalian Jepang dan Mongol ialah memiki lipit Mongolia. Memang bangsa mongol terkenal dengan dengan gaya hidup berperang dengan menguasai 1/2 dunia saat dipimpin oleh Genghis Khan, dan bangsa Mongol menyebar tidak terkecuali pergi ke Manado.
Dan juga dipimpin oleh walian (semacam pendeta/pemimpin agama) yang langsung dimasuki oleh opo. Agama Shamanisme ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol dan terlihat juga kemiripan dengan agama asli suku Dayak di Kalimantan, dan Korea.
Berdasarkan pendapat para ahli di antaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack yaitu berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan pertalian Jepang dan Mongol ialah memiki lipit Mongolia. Memang bangsa mongol terkenal dengan dengan gaya hidup berperang dengan menguasai 1/2 dunia saat dipimpin oleh Genghis Khan, dan bangsa Mongol menyebar tidak terkecuali pergi ke Manado.
Persamaan dengan Mongol dalam sistem kepercayaan dapat dilihat
pada agama asli Minahasa Shamanisme sama seperti Mongol. Dan juga
dipimpin oleh Walian yang langsung dimasuki oleh opo. Agama Shamanisme
ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol. Dapat
dilihat juga di Kalimantan Dayak, dan Korea
Jadi orang Minahasa memang berasal dari keturunan ras Mongoloid, tetapi bukan orang Mongol. Ras ini juga terdapat pada suku Dayak, Nias dan Mentawai. Ras Mongoloid tersebut diperkirakan berasal dari Formosa Taiwan. Namun memang orang Minahasa sudah tidak murni dari Mongol saja, namun sudah campuran Spanyol, Portugis, dan Belanda yang diketahui keturunan Yahudi, namun lebih dipengaruhi oleh Kristen. Sebenarnya aslinya Suku Minahasa dari Mongol yang terkenal dengan kehebatan perang, dan Yahudi yang terkenal dengan kecerdasannya. Memang Belanda sebagi Yahudi yang masuk ke Indonesia hanya mendirikan 1 tempat ibadah di Indonesia silahkan lihat Sinagog di Tondano.
Seperti kita tahu Manado dalam prosesnya oleh Indonesia dibilang bangsa asing karena sangat dimanja oleh Belanda dan Sekutu. Serta sangat berbeda dengan ciri orang Indonesia pada umumnya.
Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku yaitu: 1.Babontehu, 2.Bantik, 3.Pasan Ratahan (Tounpakewa), 4.Ponosakan, 5.Tonsea, 6.Tontemboan, 7.Toulour, 8.Tonsawang, 9.Tombulu
Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995).
Jadi walaupun orang Minahasa ada di mana saja pada akhirnya akan kembali dan bersatu, waktu itu akan terjadi pada akhir jaman, yang tidak seorangpun yang tahu. Seperti Opo Karema pernah kasih amanat “Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.
Pada tahun masehi kira-kira awal abad 6, orang Minahasa telah membangun Pemerintahan Kerajaan di Sulawesi Utara yang berkembang menjadi kerajaan besar. Kerajaan ini memiliki pengaruh yang luas ke luar Sulawesi hingga ke Maluku.
Jadi orang Minahasa memang berasal dari keturunan ras Mongoloid, tetapi bukan orang Mongol. Ras ini juga terdapat pada suku Dayak, Nias dan Mentawai. Ras Mongoloid tersebut diperkirakan berasal dari Formosa Taiwan. Namun memang orang Minahasa sudah tidak murni dari Mongol saja, namun sudah campuran Spanyol, Portugis, dan Belanda yang diketahui keturunan Yahudi, namun lebih dipengaruhi oleh Kristen. Sebenarnya aslinya Suku Minahasa dari Mongol yang terkenal dengan kehebatan perang, dan Yahudi yang terkenal dengan kecerdasannya. Memang Belanda sebagi Yahudi yang masuk ke Indonesia hanya mendirikan 1 tempat ibadah di Indonesia silahkan lihat Sinagog di Tondano.
Seperti kita tahu Manado dalam prosesnya oleh Indonesia dibilang bangsa asing karena sangat dimanja oleh Belanda dan Sekutu. Serta sangat berbeda dengan ciri orang Indonesia pada umumnya.
Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku yaitu: 1.Babontehu, 2.Bantik, 3.Pasan Ratahan (Tounpakewa), 4.Ponosakan, 5.Tonsea, 6.Tontemboan, 7.Toulour, 8.Tonsawang, 9.Tombulu
Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995).
Jadi walaupun orang Minahasa ada di mana saja pada akhirnya akan kembali dan bersatu, waktu itu akan terjadi pada akhir jaman, yang tidak seorangpun yang tahu. Seperti Opo Karema pernah kasih amanat “Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.
Pada tahun masehi kira-kira awal abad 6, orang Minahasa telah membangun Pemerintahan Kerajaan di Sulawesi Utara yang berkembang menjadi kerajaan besar. Kerajaan ini memiliki pengaruh yang luas ke luar Sulawesi hingga ke Maluku.
Pada sekitar tahun 670, para
pemimpin dari suku-suku yang berbeda, dengan bahasa-bahasa yang berbeda,
bertemu di sebuah batu yang dikenal sebagai Watu Pinawetengan. Di sana
mereka mendirikan sebuah komunitas negara merdeka, yang membentuk satu
unit dan tetap bersatu untuk melawan setiap musuh dari luar jika mereka
diserang. Bagian anak suku Minahasa yang mengembangkan pemerintahannya
sehingga memiliki pengaruh luas adalah anak suku Tonsea pada abad 13,
yang pengaruhnya sampai ke Bolaang Mongondow dan daerah lainnya.
Kemudian keturunan campuran anak suku Pasan Ponosakan dan Tombulu
membangun pemerintahan kerajaan yang terpisah dari ke empat suku lainnya
di Minahasa.
FB by: Merry Kristina Kaunang
Rabu, 25 September 2013
8 Pemimpin Negara yang Paling Berpengaruh di Dunia
![]() |
| Bung Karno |
Tokoh penting AS di era Perang Dunia. Pemimpin besar yang menjadi panutan pemimpin-pemimpin modern di Amerika Serikat. Tegas, bijak, serta piawai menggunakan otaknya. Salah satu pemimpin paling bijaksana yang pernah berpijak di muka bumi.
7. CHE GUEVARA
Adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba. Keberaniannya melebihi singa, jiwanya berapi membara membakar semangat pasukannya. Salah satu pemimpin militer terbaik yang pernah ada di era modern. Kekuatannya setara Caesar dengan kombinasi sifat langka manusia yang kental dalam darahnya.
6. VLADIMIR ILYICH UYANOV
Salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam sejarah politik dunia. Seorang revolusioner penting dan pemimpin besar bangsa Russia. Kecerdasannya adalah mutlak, kepemimpinannya amat menonjol dalam lembar sejarah hitam putih. Seorang pemimpin yang menjadi panutan turunan Russia hingga sekarang.
5. NELSON MANDELA
Pemimpin Afrikan yang identik dengan kata "Apartheid". Pria kulit hitam yang begitu menentang pengelompokan ras manusia. Pembunuh Apartheid yang terkenal, legenda hidup yang masih bersinar di daratan benua hitam. Sang Madiba yang agung dan legendaris. Sifatnya yang tegar dan berani dalam menegakan kemanusiaan di muka bumi.
4. ABRAHAM LINCOLN
Pemimpin besar AS yang bersifat tegar dan pantang menyerah. Bapa kemerdekaan Amerika, julukan yang Ia dapat setelah melaksanakan usaha heroiknya menumpas perbudakan di Amerika Serikat yang berakhir tragis. Presiden yang berkorban nyawa atas perbuatannya menentang perbudakan.
3. NAPOLEON BONAPARTE
Adalah realitas dari tokoh Robin Hood. Penegak keadilan bermodal semangat dan kepercayaan pada keadilan. Kaisar besar penakluk bangsa Prancis yang berselimut ketidak adilan. Seorang tokoh panutan para pemimpin militer hingga saat ini. Sifat paling terkenalnya adalah keyakinannya akan keadilan.
2. MAHMUD AHMADINEJAD
Salah satu pemimpin yang menjadi cermin kesederhanaan umat Tuhan yang mulia. Pria yang menjadi presiden ke 6 Iran ini menunjukan bahwa semua manusia adalah sama. Kemewahan dan harta hanya racun belaka, kekayaan yang sesungguhnya adalah bagaimana seorang pemimpin berkorban untuk rakyatnya dan menjunjung tinggi keadilan serta selembar contoh perilaku dan moral yang bijak. Satu-satunya Presiden yang sangat amat merakyat di jaman modern ini.
1. Soekarno
Urutan kedua ditempati oleh Presiden terbaik yang pernah dimiliki Negara ini. Tegas, Bijak, dan Cerdas. Pidatonya menggila, membakar semangat rakyatnya. Kharismanya membuai hingga sederet wanita tunduk oleh sifat flamboyannya. Otaknya pun moncer!! hasil didikan lantai dingin ruang jeruji besi, pembuangan dan perenungan. Tak kurang beberapa negara adi daya pernah di pecundanginya dengan diplomasi yang elegan selalu menjadi kekuatannya. Belahan dunia manapun dalam sejarah mereka, pernah mengenal bagaimana pria ini membawa dan menjunjung harga diri negaranya dengan segenap jiwa dan semangatnya.
Sumber: koedahitam
Sabtu, 14 September 2013
Museum Nasional Kehilangan 4 Artefak Emas yang Bernilai Historis
![]() |
| Wadah Bertutup yang turut raib (foto: kompas.com) |
Keempat artefak tersebut terletak di dalam satu buah lemari kaca yang berada di ruang Kasana, lantai dua gedung lama museum terbesar di Asia Tenggara itu. Keempat artefak tersebut berukuran relatif kecil.
"Kemarin Museum Nasional kehilangan empat koleksinya, berupa lempeng emas temuan abad 18 oleh Belanda. Seluruhnya merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad 10 Masehi," kata Kacung Marijan, Pelaksana Tugas Dirjen Kebudayaan, Kamis (12/9/2013).
Berikut keempat artefak yang hilang tersebut:
1. Lempeng Naga Mendekam Berinskipsi, merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10 Masehi. Ditemukan di Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur. Artefak ini berbentuk naga dalam posisi melingkar, pada kepala naga tersebut terdapat mahkota. Artefak berukuran panjang 5,6 sentimeter dan lebar 5 sentimeter ini terbuat dari lempengan emas tipis yang dipukul-pukul dan kemudian dipotong sehingga membentuk seekor naga.
2. Lempeng Bulan Sabit Beraksara, ditemukan di Patirthan Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur, merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10 Masehi. Benda yang mempunyai panjang 8 sentimeter dan lebar 5,5 sentimeter ini berbentuk seperti bulan sabit berbahan emas. Di kedua ujung benda tersebut terdapat deretan empat buah segitiga runcing yang sangat kecil. Deretan segitiga tersebut terlihat seperti cakar.
3. Wadah Bertutup (Cepuk), benda yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada akhir abad ke-10 masehi ini ditemukan di Patirthan Jalatunda, Mojokerto, Jawa Timur. Benda dengan diameter 6,5 sentimeter dan tinggi 6,5 sentimeter ini berbentuk seperti dandang bertutup tanpa pegangan yang berukuran sangat kecil. Permukaan benda tersebut tidak rata dan bagian dasarnya sedikit cembung. Tutupnya berbentuk bundar, serta terdapat pegangan tutup yang berbentuk bulatan seperti stupa dan berongga, serta terdapat goresan yang melingkari pegangan tutup.
4. Lempeng Harihara, benda dengan panjang 10,5 sentimeter dan lebar 3,5 sentimeter ini berbahan emas dan perak. Sampai saat ini belum diketahui dari peninggalan siapa benda yang ditemukan di Belahan, Penanggungan, Jawa Timur, ini. Lembaran ini melukiskan arca Harihara yang berdiri di atas bantalan teratai ganda. Rambut arca tersebut ditata meruncing ke atas diikat dengan hiasan rambut berbentuk bunga mekar. Letak kedua tangannya di depan perut. Sinar kedewaan berada di belakang kepala berbentuk oval, berhiaskan motif lidah api.
Sumber: kompas.comhttp://megapolitan.kompas.com/read/2013/09/12/2127017/Inilah.Keempat.Artefak.Emas.Museum.Nasional.yang.Dicuri.Itu.
Minggu, 01 September 2013
Maria Walanda Maramis : Pahlawan Nasional Perempuan Asal Sulawesi Utara
JASAD pahlawan nasional asal
Sulawesi Utara (Sulut), Walanda Maramis telah pergi, terpendam di perut
bumi. Namun, semangat perjuangannya tetap membekas di para kalangan
perempuan abad ini. Perjuangan tersebut bisa direkam dari jejak bentukan
organisasi Walanda Maramis yang sampai sekarang ini masih mengurat
nadi, tak lekang dimakan oleh jaman modernisasi.
Biodata Singkat
Nama lengkap:
Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis
Tempat Lahir : Kema 1 Desember 1872
Pendidikan : Sekolah Dasar
Wafat: 22 April 1924
Organisasi yang dimaksud adalah Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Paula Lengkong, wanita asal Sulut yang masih ikut sumbangsih meneruskan perjuangan Walanda Maramis menuturkan, PIKAT berdiri Juli 1917 oleh putri asal Kawanua bernama lengkap Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis di Minahasa.
"PIKAT membangun dan bergerak dalam pemberdayaan perempuan, kegiatan sosial, pendidikan dan budaya berwawasan kebangsaan," tuturnya, seusai acara tabur bunga HUT Walanda Maramis ke-138, di komplek pemakaman Walanda Maramis Jalan Bitung Manado, Rabu (1/12/2010).
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PIKAT tersebut menjelaskan, atas landasan semangat luhur perjuangan Walanda Maramis, PIKAT menjadi warisan perjuangan di sepanjang jaman, berperan membangun keluarga berkualitas, mandiri dan berbudi pekerti yang tulus. "Kami akan terus tularkan ke wanita generasi muda, pewaris bangsa masa depan," ujarnya.
Baru-baru ini, ungkapnya, PIKAT melakukan gerakan sosial berupa pemberian bantuan sembako bagi 37 kepala keluarga mantan pengidap penyakit Kusta dan 80 orang untuk para janda lansia. Bahkan, wujud pengembangan sumber daya manusia perempuan Indonesia, para aktivis PIKAT tergerak menyelenggarakan pelatihan kreativitas membuat rangkaian seni bunga, busana dan memasak. "Khusus di Sulut ada 23 cabang. Jadi jika di total keseluruhan secara nasional ada 56 cabang," tuturnya.
Menelisik ke belakang, tutur Jelly Pontoh Adam Ketua Bidang I PIKAT Sulut, terbentuknya PIKAT dimuali pada masa penjajahan Belanda. Garis perjuangannya di bidang pendidikan, keterampilan dan sosial. "Dahulu belum ada kesempatan belajar yang lebih tinggi dari tingkat sekolah dasar bagi anak- anak wanita pribumi yang diciptakan oleh pemerintah Belanda di Minahasa waktu itu," katanya.
Bidang pendidikan, hal utama yang dipikirkan Walanda Maramis ketika itu. Sebab, bisa berguna memperbaiki nasib anak-anak wanita yang tidak dapat melanjutkan sekolah, jadi setiap wanita harus menyadari untuk memiliki pendidikan keterampilan sebelum berumah tangga untuk mampu mendidik anak-anaknya. "Mendirikan taman pendidikan bukanlah ia seorang diri. Ia dibantu oleh banyak orang dengan mengikutsertakan ibu-ibu berpengaruh, terpelajar dan di hormati," ujar Jelly.
Ketika 2 Juli 1918, sejarah berbicara adanya pendirian sekolah bernama Huis Houd School PIKAT di Manado. Bermodalkan semangat dan tekad bulat, sekolahnya menampung gadis yang telah tamat di SR tanpa memandang golongan atas, menengah dan rendah. "Memberi pelajaran dan bimbingan mengenai tata cara mengatur rumah tangga dan keterampilan wanita, tuturnya.
Sekolah tersebut jelasnya, menjadi sekolah wanita pertama yang mempergunakan rumah dipinjamkan tanpa sewa, dalam batas waktu yang tidak ditentukan seorang pedagang Belanda yang tertarik akan cita-cita Maria Walanda Maramis. "Memudahkan pengajarannya, siswa akan lebih terkonsentrasi belajar," ujarnya.
Memasuki 10 Mei 1919 dengan uang pinjaman, PIKAT membeli tanah dan rumah di daerah Titiwungen Manado, dipergunakan sebagai asrama PIKAT benama Huizw Maria. Dan singkat kata, Tahun 1926 PIKAT membeli tanah di Sario, dibangun gedung PIKAT. Memasuki tahun 1932 dibuka sekolah PIKAT di Sario bernama Meisyes Vakschool. Ketika itu murid berjumlah 20 orang dari tamatan HIS dengan guru-guru pertamanya tamatan dari Opleiding School Voor Onderwijzeres di Jakarta.
Kini cabang-cabang PIKAT telah tersebar di Minahasa, Sangihe Talaud, Gorontalo, Poso, Donggala, Makassar, Jakarta, Bogor, Malang, Bandung, Cimahi, Magelang, Balikpapan, Sanga-sanga Dalam dan Kota Raja. "Tujuan penyebaran PIKAT agar cita-citanya untuk kemajuan wanita tersebar dibeberapa tempat dan memperoleh dukungan dan bantuan dari kaum wanita lainnya," katanya.
Jelly, aktivis PIKAT yang sudah puluhan tahun ini menuturkan, ketika tahun 1935 PIKAT membuka sekolah di Gorontalo, Kotamobagu, Sangihe Talaud dan Jakarta. Namun akibat pemboman sekutu pada perang dunia II, gedung-gedung PIKAT mengalami kehancuran. "Masa perang kolonial gedung sekolah PIKAT jadi incaran tembakan penjajah," ungkapnya.
Sejak peristiwa itulah, di tahun 1950 pengurus PIKAT bekerja sama dengan kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, gedung PIKAT di Sario Manado digunakan selama 10 tahun oleh Sekolah Kepandaian Putri. "Untungnya pemerintah Indonesia ketika itu mau memperbaiki gedung sekolah tersebut," ujarnya.
Kepergian Walanda Maramis dari tanah air Republik Indonesia adalah duka anak bangsa, namun hasil perjuangannya telah membekas, sebagai inspirasi generasi muda untuk membangun bangsa. Tidak heran, sebagai apresiasinya, dalam Surat keputusan Presiden RI No 012/K/1969 tertanggal 20 Mei 1969, Maria Walanda Maramis ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.
"Oleh Gubernur Sulut di jaman Mayjen H V Worang, dibangun patung Maria Walanda Maramis di Manado. Dan di era Ketua PIKAT Hilda Rantung Karepouwan bersama organisasi wanita dan pemerintah daerah Sulut membangun makam serta monumen Maria Walanda Maramis di desa Maumbi kecamatan Airmadidi kabupaten Minahasa," katanya
Sumber : budisusilo
Biodata Singkat
Nama lengkap:
Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis
Tempat Lahir : Kema 1 Desember 1872
Pendidikan : Sekolah Dasar
Wafat: 22 April 1924
Organisasi yang dimaksud adalah Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT). Paula Lengkong, wanita asal Sulut yang masih ikut sumbangsih meneruskan perjuangan Walanda Maramis menuturkan, PIKAT berdiri Juli 1917 oleh putri asal Kawanua bernama lengkap Maria Yosephine Catherina Walanda Maramis di Minahasa.
"PIKAT membangun dan bergerak dalam pemberdayaan perempuan, kegiatan sosial, pendidikan dan budaya berwawasan kebangsaan," tuturnya, seusai acara tabur bunga HUT Walanda Maramis ke-138, di komplek pemakaman Walanda Maramis Jalan Bitung Manado, Rabu (1/12/2010).
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat PIKAT tersebut menjelaskan, atas landasan semangat luhur perjuangan Walanda Maramis, PIKAT menjadi warisan perjuangan di sepanjang jaman, berperan membangun keluarga berkualitas, mandiri dan berbudi pekerti yang tulus. "Kami akan terus tularkan ke wanita generasi muda, pewaris bangsa masa depan," ujarnya.
Baru-baru ini, ungkapnya, PIKAT melakukan gerakan sosial berupa pemberian bantuan sembako bagi 37 kepala keluarga mantan pengidap penyakit Kusta dan 80 orang untuk para janda lansia. Bahkan, wujud pengembangan sumber daya manusia perempuan Indonesia, para aktivis PIKAT tergerak menyelenggarakan pelatihan kreativitas membuat rangkaian seni bunga, busana dan memasak. "Khusus di Sulut ada 23 cabang. Jadi jika di total keseluruhan secara nasional ada 56 cabang," tuturnya.
Menelisik ke belakang, tutur Jelly Pontoh Adam Ketua Bidang I PIKAT Sulut, terbentuknya PIKAT dimuali pada masa penjajahan Belanda. Garis perjuangannya di bidang pendidikan, keterampilan dan sosial. "Dahulu belum ada kesempatan belajar yang lebih tinggi dari tingkat sekolah dasar bagi anak- anak wanita pribumi yang diciptakan oleh pemerintah Belanda di Minahasa waktu itu," katanya.
Bidang pendidikan, hal utama yang dipikirkan Walanda Maramis ketika itu. Sebab, bisa berguna memperbaiki nasib anak-anak wanita yang tidak dapat melanjutkan sekolah, jadi setiap wanita harus menyadari untuk memiliki pendidikan keterampilan sebelum berumah tangga untuk mampu mendidik anak-anaknya. "Mendirikan taman pendidikan bukanlah ia seorang diri. Ia dibantu oleh banyak orang dengan mengikutsertakan ibu-ibu berpengaruh, terpelajar dan di hormati," ujar Jelly.
Ketika 2 Juli 1918, sejarah berbicara adanya pendirian sekolah bernama Huis Houd School PIKAT di Manado. Bermodalkan semangat dan tekad bulat, sekolahnya menampung gadis yang telah tamat di SR tanpa memandang golongan atas, menengah dan rendah. "Memberi pelajaran dan bimbingan mengenai tata cara mengatur rumah tangga dan keterampilan wanita, tuturnya.
Sekolah tersebut jelasnya, menjadi sekolah wanita pertama yang mempergunakan rumah dipinjamkan tanpa sewa, dalam batas waktu yang tidak ditentukan seorang pedagang Belanda yang tertarik akan cita-cita Maria Walanda Maramis. "Memudahkan pengajarannya, siswa akan lebih terkonsentrasi belajar," ujarnya.
Memasuki 10 Mei 1919 dengan uang pinjaman, PIKAT membeli tanah dan rumah di daerah Titiwungen Manado, dipergunakan sebagai asrama PIKAT benama Huizw Maria. Dan singkat kata, Tahun 1926 PIKAT membeli tanah di Sario, dibangun gedung PIKAT. Memasuki tahun 1932 dibuka sekolah PIKAT di Sario bernama Meisyes Vakschool. Ketika itu murid berjumlah 20 orang dari tamatan HIS dengan guru-guru pertamanya tamatan dari Opleiding School Voor Onderwijzeres di Jakarta.
Kini cabang-cabang PIKAT telah tersebar di Minahasa, Sangihe Talaud, Gorontalo, Poso, Donggala, Makassar, Jakarta, Bogor, Malang, Bandung, Cimahi, Magelang, Balikpapan, Sanga-sanga Dalam dan Kota Raja. "Tujuan penyebaran PIKAT agar cita-citanya untuk kemajuan wanita tersebar dibeberapa tempat dan memperoleh dukungan dan bantuan dari kaum wanita lainnya," katanya.
Jelly, aktivis PIKAT yang sudah puluhan tahun ini menuturkan, ketika tahun 1935 PIKAT membuka sekolah di Gorontalo, Kotamobagu, Sangihe Talaud dan Jakarta. Namun akibat pemboman sekutu pada perang dunia II, gedung-gedung PIKAT mengalami kehancuran. "Masa perang kolonial gedung sekolah PIKAT jadi incaran tembakan penjajah," ungkapnya.
Sejak peristiwa itulah, di tahun 1950 pengurus PIKAT bekerja sama dengan kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, gedung PIKAT di Sario Manado digunakan selama 10 tahun oleh Sekolah Kepandaian Putri. "Untungnya pemerintah Indonesia ketika itu mau memperbaiki gedung sekolah tersebut," ujarnya.
Kepergian Walanda Maramis dari tanah air Republik Indonesia adalah duka anak bangsa, namun hasil perjuangannya telah membekas, sebagai inspirasi generasi muda untuk membangun bangsa. Tidak heran, sebagai apresiasinya, dalam Surat keputusan Presiden RI No 012/K/1969 tertanggal 20 Mei 1969, Maria Walanda Maramis ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.
"Oleh Gubernur Sulut di jaman Mayjen H V Worang, dibangun patung Maria Walanda Maramis di Manado. Dan di era Ketua PIKAT Hilda Rantung Karepouwan bersama organisasi wanita dan pemerintah daerah Sulut membangun makam serta monumen Maria Walanda Maramis di desa Maumbi kecamatan Airmadidi kabupaten Minahasa," katanya
Sumber : budisusilo
Alex Evert Kawilarang : Pendiri Kopasus yang Pernah Menempeleng Soeharto
Alex
Evert Kawilarang memulai karirnya pada 1945 sebagai perwira
penghubung dengan Pasukan Inggris di Jakarta . Ia pernah menjadi
Komandan Resimen Infanteri Bogor, kemudian pada 1946 menjadi
Komandan Brigade II Sukabumi. Pada 1948, Kawilarang menjabat sebagai
Komandan Brigade I/Siliwangi di Yogyakarta.
Pada 1949 ia menjadi Komandan Teritorium Sumatera Utara, lalu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium I hingga 1950. Pada 1951, ia menjabat Panglima TT VII/Indonesia Timur dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi. Alex Kawilarang pernah disorot pers ibukota pada tahun limapuluhan.
Ketika itu secara mengejutkan Alex menangkap Menlu Roeslan Abdulgani di lapangan terbang Kemayoran dengan tuduhan korupsi. Roeslan ketika itu bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri. Belakangan Presiden Soekarno meminta Panglima Siliwangi ini membebaskan kembali Menlunya itu.
Langkah Alex yang lain yang sulit dilupakan masyarakat politik pada limapuluhan ialah ketika ia menempeleng Soeharto di Makassar. Alex Kawilarang marah karena selaku Panglima Wirabuana ia baru melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.
Tetapi Soekarno menyodorkan radiogram yang baru diterimanya bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Ternyata pasukan yang harus mempertahankan kota Makassar yaitu Brigade Mataram telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Alex menjadi marah dan buru-buru kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto: "sirkus apa-apaan nih?" kata Kawilarang sambil menempeleng Soeharto.
Pada 1949 ia menjadi Komandan Teritorium Sumatera Utara, lalu menjabat Panglima Tentara dan Teritorium I hingga 1950. Pada 1951, ia menjabat Panglima TT VII/Indonesia Timur dan pada November tahun yang sama menjadi Panglima TT III/Siliwangi. Alex Kawilarang pernah disorot pers ibukota pada tahun limapuluhan.
Ketika itu secara mengejutkan Alex menangkap Menlu Roeslan Abdulgani di lapangan terbang Kemayoran dengan tuduhan korupsi. Roeslan ketika itu bersiap-siap untuk berangkat ke luar negeri. Belakangan Presiden Soekarno meminta Panglima Siliwangi ini membebaskan kembali Menlunya itu.
Langkah Alex yang lain yang sulit dilupakan masyarakat politik pada limapuluhan ialah ketika ia menempeleng Soeharto di Makassar. Alex Kawilarang marah karena selaku Panglima Wirabuana ia baru melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.
Tetapi Soekarno menyodorkan radiogram yang baru diterimanya bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar. Ternyata pasukan yang harus mempertahankan kota Makassar yaitu Brigade Mataram telah melarikan diri ke lapangan udara Mandai. Maka tidaklah mengherankan bahwa Alex menjadi marah dan buru-buru kembali ke Makassar. Setibanya di lapangan udara ia langsung memarahi komandan Brigade Mataram Letkol Soeharto: "sirkus apa-apaan nih?" kata Kawilarang sambil menempeleng Soeharto.
Maka dapatlah dimengerti, akibat peristiwa tersebut, hingga saat
Kawilarang meninggal, Soeharto tidak pernah berbicara dengan
bekas atasannya itu. Penghargaan kepada A.E. Kawilarang secara resmi
baru diberikan pada 1999 yang lalu, sewaktu Habibie berkuasa.
Alex-lah yang membentuk Satuan Komando Tentara
Teritorium III pada 1952, "cikal bakal" Kopassus yang berganti nama
beberapa kali. Dari Kesatuan Komando Angkatan Darat, lalu berubah menjadi
Resimen Para Komando Angkatan Darat, kemudian Komando Pasukan Sandi Yudha
(1969), dan terakhir Komando Pasukan Khusus (1984), sampai sekarang.
Sumber : langitkata
Sumber: Radio Nederland Seksi indonesia http://www.rnw.nl/ranesi/html/kawilarang.html
DR. GSSJ Ratulangi, Gubernur Sulawesi Pertama, Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
DR. G.S.S.J. Ratulangi lengkapnya Gerungan Saul Samuel Jacob
Ratulangi lahir di Tondano, Sulawesi Utara, tanggal 5 Nopember 1890.
Setelah menamatkan Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano, ia
melanjutkan pelajaran ke Sekolah Teknik di Jakarta. Pada tahun 1915 ia
berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah Menengah di
negeri Belanda dan empat tahun kemudian doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam
di Swiss. Sewaktu berada di negeri Belanda DR. G.S.S.J. Ratulangi
diangkat menjadi ketua Indische Vereniging dan di Swiss menjadi ketua
organisasi pelajar-pelajar Asia. Indische
Vereniging yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia
adalah organisasi pelajar-pelajar Indonesia di negeri Belanda.
Setelah kembali dari Eropa, Sam Ratulangi mengajar ilmu pasti di AMS
(setingkat Sekolah Menengah Umum) Yogyakarta. Ketika bertugas di
Bandung, ia mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia. Dari tahun 1924
sampai 1927, ia menjadi SekretarisDewan Minahasa di Manado. Jabatan itu
dipergunakan untuk melakukan usaha yang bermanfaat bagi rakyat, seperti
pembukaan daerah baru untuk pertanian, mendirikan yayasan dana belajar,
dan lain-lain. Berkat perjuangannya, Pemerintah Belanda menghapuskan
kerja paksa di Minahasa.
Pada tahun 1927 Ratulangi diangkat menjadi anggota Volksraad. Ia
mengajukan tuntutan supaya Pemerintah Belanda menghapuskan segala
perbedaan dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan antara
orang-orang Belanda dan penduduk Indonesia. Kegiatan lain adalah turut
mendirikan Vereniging Indonesische Academici (Persatuan Kaum Sarjana Indonesia) dan bersama dr. Amir, menerbitkan majalah mingguan Peninjauan. Kegiatan karang-mengarang kemudian menghasilkan buku Indonesia in de Pacifik. Dari tahun 1938 sampai 1942, ia menjadi redaksi mingguan politik Nationale Commentaren.
Pada masa pendudukan Jepang Ratulangi diangkat menjadi anggota
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sesudah Negara RI terbentuk,
diangkat menjadi Gubernur Sulawesi. Waktu itu Sulawesi sudah diduduki
oleh NICA/Belanda. Ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Serui, Irian
Jaya. Sesudah dibebaskan, Sam Ratulangi kembali ke Jawa. Dalam Agresi
Militer II Belanda, ia ditangkap kembali. Ia meninggal dunia di Jakarta
pada tanggal 30 Juni 1949 dalam kedudukan sebagai tawanan musuh.
Makamnya kemudian dipindahkan ke Tondano. Sam Ratulangi dijadikan
Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden
Republik Indonesia No. 590 Tahun 1961, tanggal 9 Nopember 1961.
Sumber : albumpahlawan
Pierre Tendan, Teguh dalam Pengabdian
![]() |
| Add caption |
Meskipun
Pierre adalah putra seorang dokter, namun minatnya pada bidang militer ternyata
cukup besar. Oleh karena itu, setelah lulus Sekolah Menengah Atas bagian B,
Pierre mendaftarkan diri ke Akademi Militer Jurusan Teknik (Akmil Jurtek).
Di
Akademi Militer, Pierre tergolong taruna yang cakap dan berprestasi. Tak heran,
jika ia akhirnya diangkat menjadi Komandan Batalyon Taruna dan Ketua Senat
Korps Taruna. Ketika menjadi Kopral Taruna, Pierre mendapat tugas praktik
lapangan untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatera Utara.
Operasi
militer bernama Operasi Sapta Marga ini berada di bawah Komando Brigjen
Jatikusumo dalam kesatuan zeni tempur. Tahun 1962, Pierre Tendean lulus dari
Akademi Militer dan bertugas sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2
Kodam II/Bukit Barisan, Medan. Kemudian ia mengikuti pendidikan intelejen untuk
tugas penyusupan ke daerah Malaysia.
Ketika
itu, konfrontasi Indonesia dengan Malaysia sedang memanas. Operasi penyusupan
ke Malaysia ini merupakan operasi siaga yang merupakan bagian dari pelaksanaan
Dwi Komando Rakyat (Dwikora).
April
1965, Pierre Tendean diangkat menjadi Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan
Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/Kasab) Jenderal Abdul
Haris (AH) Nasution. Jenderal Nasution ketika itu merupakan perwira tinggi yang
paling diincar PKI untuk dibunuh. Nasution, dianggap sebagai musuh besar sehingga
menjadi target utama.
PKI
kemudian menyantroni rumah Nasution untuk menculik dan membunuhnya. Namun
Nasution berhasil menyelamatkan diri. Sementara itu, Pierre yang tertangkap
mengaku dirinya adalah Jenderal AH Nasution. Pierre akhirnya dibunuh dan jenasahnya
ditanam bersama ketujuh pahlawan revolusi lainnya di lubang buaya.
Sebagai
ajudan dan pengawal, Pierre Tendean dengan setia dan tabah melindungi Jenderal
AH Nasution sehingga akhirnya harus menjadi korban. Negara mengangkat Pierre
Tendean sebagai pahlawan revolusi berdasarkan SK Presiden RI No. 111/KOTI/1965.
Lahir : Jakarta, 21 Februari 1939
Wafat : Jakarta, 1 Oktober 1965
Makam : TMP Kalibata, Jakarta
Sumber:
Ajisaka, Arya. 2004. Mengenal Pahlawan
Indonesia. Jakarta: Kawan Pustaka
Robert Wolter Monginsidi : “ Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku“
Ini kisah perjuangan seorang pahlawan nasional Robert Wolter
Monginsidi yang ditetapkan pada tahun 1973 dan mendapat gelar Bintang
Gerilya (tahun 1958) dan Bintang Maha Putera Kelas III (tahun 1960).
Dilahirkan di Manado Sulawesi Utara pada tanggal 14 Februari tahun
1925. Robert Wolter Monginsidi atau biasa mendapat sebutan dan panggilan
kesayangan ‘Bote’ tepatnya terlahir di pesisir desa Malalayang dari
ayah Petrus Monginsidi dan ibu Lina Suawa.
Semangat Bote untuk menuntut ilmu sangat tinggi sehingga walau waktu itu sulit untuk mendapatkan pendidikan usaha keras Bote akhirnya mendapatkan jalannya. Ia berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan HIS tahun 1931, Sekolah MULO Frater Don Bosco Manado dan berlanjut ke Sekolah Pertanian yang didirikan Jepang di Tomohon serta Sekolah Guru Bahasa Jepang. Pendidikan terakhirnya ini yang menghantarkannya untuk menjadi seorang guru Bahasa Jepang di Malalayang Liwutung dan Luwuk Banggai dalam usia muda 18 tahun.
Semangat Bote untuk menuntut ilmu sangat tinggi sehingga walau waktu itu sulit untuk mendapatkan pendidikan usaha keras Bote akhirnya mendapatkan jalannya. Ia berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan HIS tahun 1931, Sekolah MULO Frater Don Bosco Manado dan berlanjut ke Sekolah Pertanian yang didirikan Jepang di Tomohon serta Sekolah Guru Bahasa Jepang. Pendidikan terakhirnya ini yang menghantarkannya untuk menjadi seorang guru Bahasa Jepang di Malalayang Liwutung dan Luwuk Banggai dalam usia muda 18 tahun.
Pada saat itu Perang Dunia kedua sedang berkecamuk, setelah tentara
Jepang tunduk kepada sekutu akibat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima
dan Nagasaki akhirnya Jepang mundur dari banyak wilayah termasuk di
Indonesia. Jepang juga keluar dan digantikan oleh tentara Belanda yang
masuk ke Makasar. Pada saat itu bersamanya dengan Robert
Woltermongonsidi yang juga ke Kota Makassar dan terus melanjutkan
sekolah lagi di SNIP Nasional kelas III di tahun 1945.
Perjuangan pergerakan kemerdekaan sangat menyebar diseluruh Indonesia, termasuk juga ke Sulawesi Selatan di Makassar. Banyak anak-anak muda berkumpul untuk meluapkan emosinya atas masuknya lagi tentara Belanda ke Indonesia. Para pemuda ini mendirikan organisasi perlawanan terhadap penjajah organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), terpilih sebagai Ketua Ranggong daeng rongo, Sekjen Wolter Monginsidi.
Bote bersama para pemuda perjuangan revolusi menggerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan kekuatan dan peralatan sedanya terbukti para pemuda dapat mempersulit gerakan para serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Berbagai taktik dan strategi Wolter memimpin gerakan perlawanan yang mencengangkan serta menegangkan pihak Belanda.
Keberhasilan dalam perjuangannya melawan penjajah, serta tekadnya untuk membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah sungguh tak dapat diraihnya dengan tuntas karena pada tanggal 28 Februari 1947 Wolter ditangkap tentara Belanda di Sekolah SMP Nasional Makassar.
Walau rantai-rantai mengikatnya di belakang terali besi, namun niat untuk meneruskan perjuangan bersama putra-putra bangsa terbaik tetap bergelora agar terbebas dari kunkungan penjajah. Pada tanggal 17 Oktober 1948 malam, bersama Abdullah Hadade, HM Yoseph dan Lewang Daeng Matari melarikan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur, sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan Wolter dari luar telah menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukan di dalam roti.
Namun, walaupun tekadnya dapat terwujud tapi udara kebebasan hanya dihirupnya selama 10 hari sehingga impiannya melanjutkan perjuangan pupus, ketika pasukan Belanda menyekap kembali Wolter pada tanggal 28 Oktober 1948. Tertangkapnya Wolter akibat dari ruang gerak mereka sudah sangat sempit, juga, akibat bujukan dan rayuan Belanda untuk memberi hadiah bagi siapa saja yang menangkap Wolter diberi uang Rp 400,- Abdullah Hadade Rp 300,- HM Yoseph Rp 200,- dan Lewang Daeng Matari Rp 100,-. Dengan hadiah uang para pejuang kita dikhianati, di mana-mana ada mata-mata Belanda sehingga Wolter pernah mengatakan “ Tidak ada lagi bantal untuk kubaringkan kepalaku di sini.”
Wolter dimasukkan ke dalam tahanan di Kiskampement Makassar dengan tangan dan kakinya dirantai dan dikaitkan di dinding tembok. Wolter dijatuhi vonis hukuman mati pada tanggal 26 Maret 1949 oleh hakim Meester B Damen.
Dalam perenungannya menjalani hari-hari penuh duka mendekam di penjara menanti eskekusi hukum mati, Robert Wolter Monginsidi, mencoba menerobos kembali ke alam bebas lewat goresan pena yang dirangkai dalam deretan kata bermakna untuk saudara-saudaranya dan anak-anak bangsa sebagai ungkapan tekad dan kesetiaannya terhadap ibu pertiwi Indonesia serta harapan untuk meneruskan perjuangan suci buat bangsanya.
Salah satu pesan Robert Wolter Mongonsidi yang terkenal yaitu : "Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan."
Sesaat sebelum menuju ke tempat penembakan Wolter menjabat tangan semua yang hadir dan kepada regu penembak. Wolter berkata; “ Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.“
Ketegaran dan keteguhan hati menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap; “ Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.“
Dengan pekikan’ Merdeka….merdeka..merdeka.. !!! dari Wolter, maka 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya, 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar, dan seketika ia terkulai. Wolter gugur dalam usia 24 tahun.
Tulisan ini sebagian bersumberkan dari riwayat Robert Wolter Mongonsidi yang ditulis oleh Drs. A. Noldi. Mandagie dalam peringatan 56 tahun wafatnya Bote di Tana’ Lapang Malalayang, Senin 05 September 2005. Tulisannya sudah dilakukan pengeditan oleh Redaksi.
Perjuangan pergerakan kemerdekaan sangat menyebar diseluruh Indonesia, termasuk juga ke Sulawesi Selatan di Makassar. Banyak anak-anak muda berkumpul untuk meluapkan emosinya atas masuknya lagi tentara Belanda ke Indonesia. Para pemuda ini mendirikan organisasi perlawanan terhadap penjajah organisasi kelaskaran yang disebut LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi), terpilih sebagai Ketua Ranggong daeng rongo, Sekjen Wolter Monginsidi.
Bote bersama para pemuda perjuangan revolusi menggerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan kekuatan dan peralatan sedanya terbukti para pemuda dapat mempersulit gerakan para serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Berbagai taktik dan strategi Wolter memimpin gerakan perlawanan yang mencengangkan serta menegangkan pihak Belanda.
Keberhasilan dalam perjuangannya melawan penjajah, serta tekadnya untuk membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah sungguh tak dapat diraihnya dengan tuntas karena pada tanggal 28 Februari 1947 Wolter ditangkap tentara Belanda di Sekolah SMP Nasional Makassar.
Walau rantai-rantai mengikatnya di belakang terali besi, namun niat untuk meneruskan perjuangan bersama putra-putra bangsa terbaik tetap bergelora agar terbebas dari kunkungan penjajah. Pada tanggal 17 Oktober 1948 malam, bersama Abdullah Hadade, HM Yoseph dan Lewang Daeng Matari melarikan diri dari penjara melalui cerobong asap dapur, sebelum pelarian dilaksanakan, kawan-kawan Wolter dari luar telah menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukan di dalam roti.
Namun, walaupun tekadnya dapat terwujud tapi udara kebebasan hanya dihirupnya selama 10 hari sehingga impiannya melanjutkan perjuangan pupus, ketika pasukan Belanda menyekap kembali Wolter pada tanggal 28 Oktober 1948. Tertangkapnya Wolter akibat dari ruang gerak mereka sudah sangat sempit, juga, akibat bujukan dan rayuan Belanda untuk memberi hadiah bagi siapa saja yang menangkap Wolter diberi uang Rp 400,- Abdullah Hadade Rp 300,- HM Yoseph Rp 200,- dan Lewang Daeng Matari Rp 100,-. Dengan hadiah uang para pejuang kita dikhianati, di mana-mana ada mata-mata Belanda sehingga Wolter pernah mengatakan “ Tidak ada lagi bantal untuk kubaringkan kepalaku di sini.”
Wolter dimasukkan ke dalam tahanan di Kiskampement Makassar dengan tangan dan kakinya dirantai dan dikaitkan di dinding tembok. Wolter dijatuhi vonis hukuman mati pada tanggal 26 Maret 1949 oleh hakim Meester B Damen.
Dalam perenungannya menjalani hari-hari penuh duka mendekam di penjara menanti eskekusi hukum mati, Robert Wolter Monginsidi, mencoba menerobos kembali ke alam bebas lewat goresan pena yang dirangkai dalam deretan kata bermakna untuk saudara-saudaranya dan anak-anak bangsa sebagai ungkapan tekad dan kesetiaannya terhadap ibu pertiwi Indonesia serta harapan untuk meneruskan perjuangan suci buat bangsanya.
Salah satu pesan Robert Wolter Mongonsidi yang terkenal yaitu : "Jangan takut melihat masa yang akan datang. Saya telah turut membersihkan jalan bagi kalian meskipun belum semua tenagaku kukeluarkan."
Sesaat sebelum menuju ke tempat penembakan Wolter menjabat tangan semua yang hadir dan kepada regu penembak. Wolter berkata; “ Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa saudara-saudara.“
Ketegaran dan keteguhan hati menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap; “ Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.“
Dengan pekikan’ Merdeka….merdeka..merdeka.. !!! dari Wolter, maka 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya, 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar, dan seketika ia terkulai. Wolter gugur dalam usia 24 tahun.
Tulisan ini sebagian bersumberkan dari riwayat Robert Wolter Mongonsidi yang ditulis oleh Drs. A. Noldi. Mandagie dalam peringatan 56 tahun wafatnya Bote di Tana’ Lapang Malalayang, Senin 05 September 2005. Tulisannya sudah dilakukan pengeditan oleh Redaksi.
Sumber : indonesianvoices
Mengenal Raja Manganitu, Don Jugov Sint Santiago
Tahun 1571 Spanyol menaklukan Philliphina, sampai kemudian Bataha mulai mengikuti pendidikan di Universitas Santo Tomas Manilla ( Intramuros ), letaknya di pulau Luzon. Ketika itu, Spanyol sudah memperluas kekuasaannya ke seluruh kepulauan Philliphina termasuk sebagian wilayah di utara Indonesia. Bataha mulai kuliah di Universitas St. Tomas pada tahun 1666 dalam usia empat puluh empat tahun.
Bataha menyelesaikan pendidikan tahun 1670. Selama masa pendidikan, Bataha sempat pulang dan mempersunting putri bangsawan Tahuna bernama Lekumbuwe. Dari perkawinan tersebut memperoleh anak bernama Dalepe.
Hari masih pagi, Bataha sudah bangun dari tempat tidur. Nampaknya sedang berkemas. Hari itu juga dia harus meninggalkan Manilla dan pulang ke Manganitu, karena masa belajarnya sudah selesai. Empat tahun bukanlah waktu yang pendek. Ditempat ini, tepatnya di Universitas Santo Thomas, banyak hal sudah ia pelajari. Letak Universitas St. Tomas tidak jauh dari Fort Santiago . Sampai menjelang keberangkatan, Bataha tidak lagi bertemu dengan temannya dari Siau, Franciscus Xaverius Batahi.
Sebagai seorang Khatolik, bataha tidak melupakan perlengkapan yang berhubungan dengan keagamaan seperti biblle,rosario dan buku – buku lainnya termasuk buku-buku pelajaran. Berat rasa meninggalkan teman-temannya. Tetapi bataha harus pulang. Dipintu kamar, sekali saja dia melakukan tanda salib.
Dengan banyak perlengkapan pergilah Bataha menuju pantai. Dipelabuhan sudah siap sebuah Konteng, perahu kerajaan yang dikirim ayahnya Datu Tompoliu (datu adalah sebutan untuk raja di kepulauan sangihe). Dari perahu menunggu seorang Bobato, seorang Kapiten laut, pengawal istana, alanga atau elang (hamba atau budak) yang bertugas sebagai pendayung. Ada juga seorang kakek tua yang memegang Tagonggong. Perahu ini cukup mewah untuk ukuran masa itu. Pada bagian Ujung haluan dan buritan terdapat pahatan berbentuk buah bitung. Dengan dipapah oleh para pengawal dia naik ke perahu. Belum juga duduk dia melakukan satu kali lagi tanda salib.
Sangat kental nilai-nilai Khatolik pada dirinya. Maklumlah, Bataha sudah di baptis sebagai khatolik dengan nama Don Jugov Sint Santiago waktu kecil di Istana Tatahikang. Bataha, dibesarkan dalam kalangan keluarga Khatolik di istana kerajaan yang dibangun kakeknya Liuntolosang, bersama ayahnya di Kauhis.
Terdengar komando,…..siap berangkat dari Kapiten Laut. Tak ada angin, tak ada ombak, memuluskan perjalanan pulang ke Manganitu. Dari Manila mereka melewati Ilo-ilo, jolo, cotabato, general santos, menyusur pulau-pulau di Philliphina sampai ke ujung pulau Mindanao selatan, pulau Balut dan seterusnya. Mulai Nampak Marore, sementara Miangas terlihat sangat kecil. Pelayaran mereka semakin dekat dan sudah kelihatan samar-samar pulau sangihe. Semakin dekat makin jelas pulau Nipa dan sekitarnya, pulau Beng darat. Saat ini haluan mengarah ke selatan melewati pulau Batunderang, pulau Bebalang, pulau Mahumu, tanjung Sahong, tanjung Lelapide, tanjung Bulude, akhirnya sampailah mereka di wilayah kerajaan Manganitu dibawah kekuasaan ayahnya Tompoliu. Sesudah melewati pelabuhan kerajaan yang terletak di semulawak, perahu diarahkan keantara dua pulau kecil di depan Tatahikang.
Disana sudah bersiaga prajurit kerajaan, para dayang, terutama isteri dan adik-adiknya, tampak Diamanti dan Sapela yang melambaikan tangan. Sang ayah berdiri di atas tanjung mengapit pedang barļa. Tompoliu, kelihatan sudah semakin tua. Tergambar kegembiraan di rautnya karna telah datang sang penerus kerajaan.
Perjalanan yang ditempuh berhari - hari lamanya. Hari ketika Bataha tiba tepat dihari Minggu. Tanpa lelah, diperintahkanya para pekerja perahu untuk mengantarnya ke Gereja. Letak Gereja dari Istana sekitar 5 km. Sesampai ditanjung Liang, Gereja yang dulunya megah, sekarang mulai rusak. Sejak tahun 1619, para pemeluk Khatolik adalah musuh bagi VOC , terutama warga Spanyol dan Portugis. Penduduk dipaksa untuk menganut agama Kristen Protestan. Semua yang berhubungan dengan kegiatan keagaman Khatolik dimusnahkan.
UPACARA MELAHUNDUITANG
Hari masih pagi buta, beberapa orang Minihu (tukang palakat) telah beranjak dari tempatnya ke semua desa di pusat kerajaan Manganitu, mulai dari Barangka sampai ke Kauhis. Mereka mengumumkan penyampaian dari Datuk Tompoliu bahwa akan ada pengangkatan raja baru untuk menggantikan kedudukannya.
Beberapa hari kemudian bataha dipanggil oleh ayahnya. Malam hari diruangan utama berkumpullah kerabat Istana. Terlihat beberapa allangga, elang kerajaan mempersiapkam ruangan membersihkan lantai yang akan diduduki. Beberapa tikar dari bahan pandan terbentang dilantai. Sekejap, satu-satu padamara mulai di pasang. Saat sebelum kegiatan dimulai terdengar musik mengalun yang di kumandangkan oleh sekelompok pemain musik Oli’ di teras depan istana. Sebuah Tagonggong kerajaan ditabuh berkali-kali, sesudah itu suasana menjadi hening.
Padamara di Istana kerajaan Manganitu.
Duduklah Tompoliu dan berkata ; Aku sudah sangat tua, saatnya kedudukan raja diganti oleh orang yang lebih muda. Dilihatnya Bataha, dan menoleh keisterinya Lawewe, tampak juga di samping kanan, saudara kandung Tompoliu bernama Lantemona. Ada percakapan kecil dengan Lantemona. Sang Boki kelihatan biasa-biasa saja, sambil mengunyah sirih.
Tompoliu kembali bercerita, diantaranya tentang silsilah Tolosang. Kakek kalian Liuntolosang mati dan dipancung kepalanya di Tahuna karena mempertahankan batas kerajaan yang dirampas Kerajaan Tahuna. Kini pasukan VOC mengambil hak kita.
Banyak hal telah mebebani kerajan Sejak orang tua saya berkuasa. Untuk itu saya menetapkan seorang pengganti, yaitu Bataha. Disamping sebagai seorang terpelajar, dia juga memikul tanggung jawab “ I akang ganting ghagurang “. Semua sepakat. Lantemona menyerahkan sebuah Baļa (pedang raja) dan bengko (tombak) pusaka yang digunakan membunuh Pulungtumbage dalam perang Tahuna - Manganitu. Ayahnya Tompoliu menyerahkan satu gulungan rokok peninggalan dari Lumanu (kulano Manganitu).
Setelah mengadakan persiapan, tibalah hari penobatan Raja baru. Penobatan raja baru diadakan melalui upacara Melahunduitang atau penobatan pengeran diatas pangeran. Bataha duduk bersila, kedudukanya berada di posisi terdepan menghadap Raja Tompoliu. Iring –iringan musik Oli’ berbunyi disertai suara seorang perempuan tua yang mÄ• denden (berpantun).
Suara tagonggong berbunyi dilanjutkan dengan pengucapan sasalamate sebagai pesan dan nasehat kepada raja baru. Tidak tampak nuansa keagamaan khatolik di dalam acara. Karena sejak Spanyol dan Portugis tidak lagi berkuasa atas sangihe, misi khatolik telah ditinggalkan selama kurang lebih 100 tahun, sampai kemudian datang Misi Zending. Yang tampak hanyalah, ampuang, tatanging dan bihing yang sibuk membakar kemenyan. Mereka datang sebagai tamu.
Beberapa hari setelah pengangkatan Bataha menjadi Raja, meninggallah sang ayah “Tompoliu” . Kabut duka menyelimuti rumah raja Tompoliu di Tatahikang. Jenasah sang raja dimakamkan dibelakang Istana raja. Penghargaan terakhir, dibuatlah sebuah makam indah, yang dibuat dari susunan batu-batu dengan konstruksi berbentuk lonjong setinggi limapuluh sentimeter. Sebelum meninggallnya sang ayah, Santiago memperisteri Maiang sebagai isteri ke dua dan memperanakan seorang putera bernama Sinadia.
Makam : Raja Tompoliu di Tatahikang
TUMBAL PERSELISIHAN SPANYOL DAN VOC
Bataha menjadi raja atas Manganitu, pada tahun 1670. Hal pertama yang dilakukan adalah memindahkan pusat kerajaan ke Bowongtiwo Kauhis. Kedudukan Bowongtiwo berada di atas tanjung liang yang dulunya adalah pusat kerajaan pertama yang disebut Kerajaan Kauhis. Jarak dari Tatahikang ke Bowongtiwo diperkirakan 3 km. Pemindahan pusat kerajaan disebabkan dua alasan yaitu ; Mengenang masa kecil dan konsep strategi pertahanan perang. Bataha dibesarkan oleh kakeknya Liuntolosang yang juga adalah Raja pertama kerajaan Manganitu.
Tahun pertama pemerintahan Bataha dikerajaan Manganitu, mulai disusun strategi pertahanan kerajaan terhadap serangan musuh. Istana kerajaan di Bowongtiwo adalah tempat yang paling baik untuk memantau kedatangan musuh dari dua sisi. Bataha dapat memandang langsung dari depan istana. Dari Bowongtiwo dapat dipantau perahu-perahu yang masuk dari selatan di depan Tanjung Bulude dan dari utara di depan Maselihe.
Masa disaat pemerintahan Bataha, merupakan masa yan berat bagi Kerajaan-kerajaan utara dan Kesultanan – kesultanan di Kepulauan Maluku, termasuk Kesultanan di kepulauan Philliphina. Daerah ini merupakan jalur pelayaran ke utara Nusantara. Kondisi pelayaran ini dipenuhi dengan keinginan monopoli dagang antara Kerajaan Portugis, Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Belanda. Pulau Sangihe merupakan pelintasan utama armada laut Spanyol dari Philliphina ke Kepulauan Maluku.
30 Maret 1667 diadakan perjanjian antara sultan Ternate, sultan Tidore yang menyerahkan wilayah kekuasaannya sebagai bagian dari VOC. Ketika itu sultanat ternate dan sultanat tidore telah mengklaim kekuasaan atas Jazirah Minahasa dan kepulauan Sangihe. 15 Mei 1671, Tuan-tuan XVII atau de heren zeventjen sebagai pelindung VOC di kerajaan Belanda menetapkan Siau sebagai bagian dari kekuasan VOC. Sejak saat itu daerah-daerah yang berpotensi rempah-rempah dikepulauan Sangihe mulai dikuasai VOC. Keberanian VOC merampas daerah yang sebelumnya dikuasai Spanyol karena didukung oleh kesultanan Tidore sebagai kakitangan VOC. Keinginan bangsa barat memonopoli perdagangan di utara Nusantara menjadikan beberapa kerajaan sebagai taruhan kemenangan. Kepulauan sangihe mempunyai kedudukan yang sama dengan kepulauan Maluku. Keadaan alam sangihe dipenuhi dengan tanaman Pala,kelapa, disamping itu ada juga tanaman cengkeh.
Semenjak Tompoliu memerintah dikerajaan Manganitu, sudah terjalin persahabatan yang erat antara Spanyol dan Kerajaan Manganitu. Untuk menjaga kerajaan Manganitu dari kemungkinan serangan VOC, spanyol telah menghadiahkan dua buah meriam besar. Persahabatan inilah yang memicu keinginan VOC untuk menaklukan Manganitu. Dalam masa pemerintahan Raja Bataha, kerajaan Manganitu mencoba mengambil hati raja-raja lain di pulau Sangihe menyatukan tujuan untuk berperang melawan VOC. Dikirimlah beberapa utusan dengan maksud mengadakan kesepakatan menjelang masuk dan berkuasanya VOC di kepulauan Sangihe. Bataha tahu persis misi bangsa barat datang ke Timur semenjak belajar di Manilla. Setibanya di Manganitu dia baru sadar bahwa neg’rinya sedang dijajah.
BERSIAP UNTUK BERPERANG
Suatu hari diawal tahun 1675 dalam istana kerajaan Manganitu, telah berkumpul pejabat-pejabat kerajaan. Bataha duduk di tempat duduk yang agak rendah sehingga kakinya dapat di lipat. Disekitar bataha sudah duduk bersila dilantai, para Bobato kerajaan Manganitu dan kapiten laut dan pejabat istana lainnya. Hadir juga adik-adik dari Bataha yaitu Diamanti, Sapela, Apueng, Gaghinggihe. Dibagian belakang terdapat hokolimampulo (Bangsawan) dan Bahaning beo’e (para pemberani). Bataha menyampaikan keadaan Nusantara, dengan penuh keyakinan dia mengatakan bahwa kita sedang di permainkan. Kita bukan sahabatnya Spanyol, kedatangan mereka hanya ingin mengambil apa yang kita tanam. Adapun VOC adalah warga yang datang dari daerah yang sama dengan Spanyol. Pasti keinginannya sama seperti yang telah dilakukan di Maluku. Kita jangan sama seperti Mandarsyah……….
Sesaat kemudian Bataha memerintahkan seorang prajurit dipintu masuk untuk mengambil krikil dipantai. Sang prajurit dengan seorang Allangga turun kepantai mengambil krikil secukupnya. Bataha mulai menunjukan melalui batu-batu kecil, meletakan pada posisinya di lantai yang terbuat dari papan. Apa yang ditunjukannya adalah posisi Spanyol di Manila dan jalur pelayaran ke Maluku. Bataha juga menunjukan kemungkinan masuknya Belanda dari arah Tamako. Hari mulai gelap datang seorang kerabat raja menjamu orang-orang didalam istana. Percakapan dihentikan sejenak karena telah ada Sagu bakar diatas piring porselin yang siap dimakan dan beberapa ekor ikan laut. Bataha lalu menjelaskan bermacam strategi yang diperlukan dalam rangka menghadapi VOC jika menyerang Kerajaan Manganitu seperti yang telah dilakukan di Kerajaan Siau. Banyak hal yang sudah dibicarakan termasuk kesiapan Perahu-perahu perang dan alat – alat perang. Kedudukan para bahaning beo’e dilokasi masing-masing. Pertemuan hari itu berakhir menjelang subuh.
Yang mendorong Bataha untuk bersiap perang adalah “Palakat Panjang” atau Lange Contract yang dikeluarkan VOC, sangat merugikan pihak kerajaan. Isi Plakat panjang antara lain. Musnahkan tanaman cengkeh, tidak boleh ada penganut agama Khatolik dan semua benda yang digunakan di gereja khatolik sebagai bentuk kekafiran. Semua wajib menganut agama Kristen Protestan. Beberapa benda yang ada di gereja khatolik kauhis ditanam didekat salah satu muara sungai di perkampungan kauhis. Sebelum kemudian gereja tersebut dihancurkan oleh VOC.
Sebagai seorang raja yang terpelajar, bataha menganggap perjanjian itu merugikan kerajaan dan rakyatnya. Bataha yang juga seorang khatolik merasa tersinggung dan terhina atas perintah untuk menghancurkan benda –benda yang berhubungan dengan gereja.
Setelah mendengar berita tersebut dia lalu meremas Rosario ditangannya, kelihatan mulutnya komat-kamit. Mungkin mengucapkan doa. Sejak mendengar berita tersebut semakin gencar dia menggalakan persiapan perang.
PEPERANGAN DIMULAI
Waktu perang datang juga. Sultan sibori anak sultan Mandarsyah dari Maluku diperalat oleh VOC datang ke Manganitu untuk mempertegas perjanjian yang telah dibuat sepihak. Bataha harus dihukum. Tapi hasilnya, Bataha tidak mau menandatangani surat perjanjian tersebut. Sultan sibori kembali ke Maluku untuk menyampaikan hal tersebut kepada pihak VOC. Sambil menunggu jawaban dari pihak VOC, Bataha mengadakan pertemuan dengan para pejabat kerajaan dan semua pihak yang terlibat dan melibatkan diri dalam peperangan. Dalam pertemuan itu dengan tegas Bataha berkata : “ I kite mendiahi wuntuang ‘u seke,nusa kumbahang katumpaeng” yang artinya, kita harus menyiapkan pasukan perang, negeri kita jangan dimasuki musuh.
VOC membuat siasat baru yaitu mempersunting Sibori atas putri raja Tabukan bernama Maimuna. Pernikahan tersebut dilakukan untuk mempermudah masuknya pasukan VOC dan sekutunya Sultan Sibori untuk tinggal lama di pulau Sangihe. Sejak saat itu di mulailah peperangan antara VOC dan sekutunya Sultan Sibori melawan pasukan Kerajaan Manganitu.
Armada VOC dikirim dari Maluku sampai ke pusat kerajaan Tabukan di Soa Tebe. Dari Tabukan mereka menyusur pantai sampai ke Tanjung Maselihe. Memasuki laut didekat tanjung Lesa para pengintai yang bersembunyi di Lembabua sudah meberikan pesan kepada pasukan dikerajaan Manganitu secara berantai. Bataha memantau dari depan Istana di atas tanjung liang. Dengan cekatan, Bataha dan para prajurit langsung turun ke Semulawak karena perahu perang ada dipantai tersebut. Bataha memimpin langsung peperangan dilaut sebagai panglima laut.
Strategi perang yang digunakan adalah : Bataha menggempur pasukan laut musuh mulai dari pantai Bahoi,dia sendiri yg menjadi panglima laut. Sedangkan Diamanti berada dipantai dengan pasukan darat. Jika mungkin pasukan laut dan pasukan di pantai melemah, maka Sapela sudah siap dengan pasukan gunung. Kalau sampai terdesak mereka akan berlindung di atas bukit yang jauh dari pantai seperti di daerah bentihe, peka dan berakhir di Longso (dekat batumbakara). Disana terdapat benteng kecil yang disusun dari batu-batu besar. Benteng tersebut bernama Batumbakara.
Berhari-hari lamanya mereka melakukan pertempuran, akan tetapi pasukan Bataha tidak dapat dikalahkan. Banyak korban jatuh dari kedua pihak. Melihat keadaan tersebut, oleh VOC perang dihentikan. VOC mencari siasat baru untuk mengalahkan Bataha. Dicarinyalah teman dekat Bataha untuk membujuk Santiago agar menyerah. Ditemukanlah dua sahabat Bataha. Mereka adalah Sasebohe dan Bawohanggima, masing-masing dari Tabukan dan dari Pensu’.
Lokasi tempat pelaksanaan Eksekusi Bataha Santiago, berdasarkan penggalian dari Bapak, Maker Madonsa (budayawan Sangihe)
Diketahui bahwa Santiago berada di bekas istana di Tatahikang. Mereka mencari bataha untuk berunding. Kedatangan mereka diketahui oleh Bataha. Bataha dan prajuritnya langsung berlari menyusur pantai sampai ke pantai kauhis. Dipantai kauhis bertemulah dua pihak tersebut. Sasebohe dan bowohanggima berusaha membujuk Bataha agar menyetujui perjanjian. Bataha tetap saja menolak, lalu terjadilah pertempuran antara kedua pasukan.
Agar supaya tidak jatuh korban yang lebih banyak, Bataha langsung menghindar dari tempat itu. Dengan langkah cepat dia beranjak dari pantai lalu menuju Istana yang jaraknya tidak jauh. Setibanya diistana, terlihat keluarga dan kerabat dekat sedang berkumpul. Rupanya mereka sedang mebicarakan keadaan bataha. Sinadia sang anak dipeluknya, lalu mendekatlah sang ibu. Ibunya menyampaikan beberapa kata yang mendorong semangat juang bataha. Jadikanlah dirimu sekuat namamu “Bataha” bataha berarti sakti. Dengan beberapa puluh orang pengawal dan prajurit, mereka melanjutkan perjalanan ke arah bukit. Sebentar saja mereka sudah tiba di bowoluhu, lalu ke peka diatas bahoi dan kemudian berakhir di Batumbakara.
Bataha masuk kedalam, naik keatas batu sambil menatap indahnya pantai sangihe. Nampak dua pulau kecil di depan Tatahikang yang disebut “pinebentengang”. Kearah lain dia menatap Sahendaļumang, gunung para leluhur. Belum lama mereka berada di Batumbakara, muncullah dua sahabatnya yang nanti berkianat, Bawohanggima langsung masuk. Sebagai sahabat, batahapun mempersilahkan masuk. Sebelumnya bataha sudah mendengar kabar, jika bataha tidak mau menyetujui perjanjian taruhannya adalah rakyat, keluarga dan kerabat yang ada dikerajaan Manganitu akan dihukum.
Tanpa banyak tanya, bataha langsung turun sampai ke pantai paghulu. Disaksikan oleh beberapa keluarganya, dia naik keperahu VOC menuju ke Tahuna bersama-sama dengan perahu yang di tumpangi Sultan Sibori. Tak satupun keluarga yang berani menyapa. Sebelum perahu didayung, bataha sempat meneriakan “Nusa Kumbahang Katumpaeng”, seperti yang sering diucapkan selama peperangan. Perahu berlabuh di pantai Bungalawang - Tahuna. Dia langsung dibawa ke kantor VOC di dekat tanjung tahuna.
Didalam kantor sudah menunggu perwakilan dari Gubernur Padtbrugge (kedudukan markas VOC tepat di kantor kodim sekarang). Diatas meja sudah disiapkan surat kontrak untuk perjanjian berupa “lange contract”. Dengan perantara Sultan Sibori disampaikan pesan Gubernur. Bataha tetap pada pendirian, tidak mau menandatangani surat perjanjian. Dengan alasan itu, maka bataha dijatuhi hukuman mati. Satu regu tembak dipersiapkan. Tembakan sudah dilakukan. Semua pengikut bataha menundukkan wajah, kecuali Diamanti. Apa yang terjadi, bataha masih tetap berdiri. Karena kesaktiannya, tubuh bataha tidak dapat di tembus peluru. Tim eksekutor merubah cara eksekusi, bataha diantar ke tanjung Tahuna dan digantung ditiang gantungan. Ditempat inilah bataha digantung pada seutas tali. Pada saat itu bataha menghembuskan nafas. Menjelang senja, mayat bataha diturunkan dari tiang gantungan. Sultan sibori yang tidak yakin akan kematian bataha, memerintahkan untuk memenggal kepala bataha dari badannya. Hal ini sering dilakukan sebelumnya kalau membunuh orang-orang yang memiliki kesaktian, dengan maksud untuk memastikan bahwa orang yang dibunuh, benar-benar sudah mati.
Menjelang subuh, sapellah adik Santiago, seorang diri datang mengambil mayat bataha. Karena tubuh bataha sangat besar maka sapelah tidak mampu mengankat seluruhnya. Diputuskannyalah utuk membawa kepala bataha ke istana di Bowongtiwo. Ketika berada di paghulu, hari mulai terang. Agar tidak diketahui oleh pihak VOC dan kakitangannya,maka sapela membelokan haluan perahunya ke salah satu pantai dan menguburkan kepala bataha di antara akar pepohonan besar. Nama tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama “Nento”.
Bertahun-tahun kubur kepala bataha selalu dirahasiakan keberadaannya. Hanya orang-orang dekat kerajaan yang tahu dimana kubur kepala bataha. Sampai suatu hari tersibaklah rahasia itu dari mulut bapak Lepinus Musa sang penjaga makam. Diakhir tahun 1950 letak pasti kubur yang sebelumnya simpang siur akhirnya ditemukan. Sejak saat itu lengkaplah kenangan tentang Bataha Santiago. Sedangkan kubur badan bataha tidak pernah ditemukan. Inisiatif pencarian kubur kepala Santiago dilakukan oleh Christoporus Maneking, bapak Tiwa camat manganitu (keturunan Santiago dari isteri pertama) dan beberapa orang keturunan Santiago lainnya.
Makam dari Sapela (adik perempuan Santiago) pemimpin pasukan perang di lereng gunung. Menikah dengan Makahekung
Kehebatan dan kemahsyuran Santiago dalam berperang melawan penjajah, membuat nama Santiago diabadikan sebagai nama Komando Resort Militer Di Sulawesi Utara dengan nama Korem 131 Santiago.
Sumber : sangihepirua
Langganan:
Postingan (Atom)









