Tampilkan postingan dengan label Gagasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gagasan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 April 2014

Gubernur Sulut Panen Cabe di Pinabetengan

Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang sedang memetik cabe saat panen raya di Pinabetengan, Minahasa

Aksi Teatrikal Pawai Prosesi Paskah 2014 di Minahasa


Pemilu Legislatif 2014 dan Maling di Rumah Sendiri

PEMILU Legislatif tahun 2014 telah melewati tahapan pencoblosan dan pleno rekapitulasi suara di KPUD daerah masing - masing, baik tingkat Kabupaten/Kota maupun Provinsi.

Berdasarkan hasil rekapitulasi suara, akan ada banyak wajah baru yang bakal mendiami ruangan ber -AC di dalam gedung parlemen, meski tidak sedikit muka lama tetap menghiasi kembali perjalanan politik lembaga wakil rakyat itu.

Puas tidak puas, senang tidak senang, terima atau tidak, pesta demokrasi langsung lima tahunan tersebut telah menitipkan pesan yang berisikan pembelajaran bagi setiap insan nusantara, baik mereka yang mencalonkan diri, pun yang berdiri sebagai konstituen, apalagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan di Partai Politik.

Pesan itu sederhana, karena memang sangat mudah diselami, namun sungguh luar biasa dampaknya. Pesan itu adalah 'waspada dengan maling di rumah sendiri!'

Pesan ini menjadi pengingat betapa perhelatan demokrasi rakyat yang baru saja dilangsungkan di tanah air ini, penuh intrik curi suara oleh oknum caleg di dalam partainya sendiri.

Tertangkap tangan adalah kesulitan tersendiri untuk mengungkap skenario demikian. Namun, adanya aksi penahanan Formulir C1 baik oleh Ketua partai, pun oleh penguasa daerah bisa menjadi sinyal kuat , kenapa terjadinya penggelembungan suara.

Manuver itu pun seolah - olah menjadi kegemaran baru yang tidak perlu dicemaskan, lantaran penantian akan berteriaknya saksi di PPS, PPK dan KPUD, agaknya, dan ini telah terjadi, tidak terlalu menjelma. Saksi mana yang mau buka borok partainya sendiri?

Maka, dalam semangat kejujuran, momentum tahun ini, lagi - lagi belum berjalan sebagaimana ekspektasi murni segenap bangsa.

Caleg pun 'terpaksa' harus menerima satu kenyataan pahit, lebih pahit dari mengalirnya rupiah ratusan juta bahkan miliaran, yakni hasil jerih payah selama hampir setahun, hanya dalam hitungan hari, terjungkal oleh aksi curi suara, dan perihya lagi, aksi itu dengan santai dilakukan oleh mereka yang adalah  'sesama.'

Angin segar masih sedikit berhembus di atas kepedihan, saat ada petinggi Parpol menegaskan, tidak ada toleransi bagi caleg-nya yang ketahuan melakukan aksi curi suara, demi kepentingan pundi - pundi suaranya. Kita lihat saja follow up-nya.(Fian)
 

REALITA – Rihanna, termasuk salah satu selebriti Hollywood yang tak keberatan untuk tampil bugil di berbagai kesempatan. Salah satunya ketika didaulat untuk tampil topless di majalah Vogue edisi Brazil.
Tak mengenakan atasan apapun, Rihanna terlihat membelakangi kamera sambil meletakkan kedua tangannya yang dipenuhi dengan gelang berwarna emas di atas kepalanya. Sedangkan untuk menutupi bagian intim tubuhnya, pelantun hits ‘Umbrella’ itu mengenakan celana super pendek berwarna emas.
Mantan kekasih Chris Brown itu juga diminta untuk tampil sebagai sampul depan majalah Vogue Brazil yang merayakan ulang tahunnya yang ke-39. Spesial untuk para fans Rihanna, pada edisi yang terbit untuk bulan Mei 2014 tersebut, majalah Vogue menampilkan dua versi cover yang berbeda.
Untuk pemotretan tersebut, Rihanna harus terbang jauh ke pantai Grande di Rio de Janeiro, Brazil. Namun nampaknya, tampil topless di udara terbuka bukan menjadi masalah bagi penyanyi berusia 26 tahun tersebut.
Jadi, bagaimana penampilan Rihanna di majalah Vogue edisi Brazil menurut Anda? (dtk)
- See more at: http://realita.web.id/blog/2014/04/27/majalah-voque-rihanna-pose-toples/#sthash.pG3IbeLT.dpuf
REALITA – Rihanna, termasuk salah satu selebriti Hollywood yang tak keberatan untuk tampil bugil di berbagai kesempatan. Salah satunya ketika didaulat untuk tampil topless di majalah Vogue edisi Brazil.
Tak mengenakan atasan apapun, Rihanna terlihat membelakangi kamera sambil meletakkan kedua tangannya yang dipenuhi dengan gelang berwarna emas di atas kepalanya. Sedangkan untuk menutupi bagian intim tubuhnya, pelantun hits ‘Umbrella’ itu mengenakan celana super pendek berwarna emas.
Mantan kekasih Chris Brown itu juga diminta untuk tampil sebagai sampul depan majalah Vogue Brazil yang merayakan ulang tahunnya yang ke-39. Spesial untuk para fans Rihanna, pada edisi yang terbit untuk bulan Mei 2014 tersebut, majalah Vogue menampilkan dua versi cover yang berbeda.
Untuk pemotretan tersebut, Rihanna harus terbang jauh ke pantai Grande di Rio de Janeiro, Brazil. Namun nampaknya, tampil topless di udara terbuka bukan menjadi masalah bagi penyanyi berusia 26 tahun tersebut.
Jadi, bagaimana penampilan Rihanna di majalah Vogue edisi Brazil menurut Anda? (dtk)
- See more at: http://realita.web.id/blog/2014/04/27/majalah-voque-rihanna-pose-toples/#sthash.pG3IbeLT.dpuf

Jumat, 20 Desember 2013

KPK Terus Pasang Perangkap 'Tikus'

NEGARA yang kaya raya ini, terus menjadi miskin akibat ulah para koruptor. Uang rakyat diperas tanpa sedikitpun merasa berdosa.
Mengharukan lagi, lantaran korupsi jadi lahan subur, tidak saja bagi politisi, namun pengusaha, Polisi dan abdi negara, baik yang berlatar belakang the have, maupun sedang - sedang saja.
fenomena korupsi di tanah air ini, pun ibarat sinetron, bersambung dan terkadang kehilangan ide untuk berhenti.
Sebagai penghalau setiap niat para perampok uang negara itu, secara konsttusional, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga saat ini masih menjadi 'pendekar sejati.'
Guna menjaga karakteristik pendekar sejati, KPK sangat butuh support masyarakat. dan hanya masyarakatlah yang terbukti mampu memberi 'jempol. ats prestasi KPK, pun dalam semangat 'sejati.'
Bertahannya sikap publik atas KPK, yang di dalamnya terkandung sikap mengawasi, niscaya akan selalu memampukan institusi itu dapat terus memasang perangkap tikus, tanpa cemas akan dirusak atau dicuri.



Sabtu, 27 Juli 2013

Kerajaan yang Hilang ( The Lost of Kingdom)

DUA buah catatan dialog Plato (427-347 SM) yakni buku Critias dan Timaeus menguraikan kisah tentang sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh tembok emas dan dipagari oleh dinding perak. Atlantis, begitu disebutnya, memiliki peradaban yang memukau. 

Di sana sudah terdapat pelabuhan dan kapal dengan perlengkapan yang sempurna, juga ada benda yang bisa membawa orang-orang terbang. Suatu saat ketika Atlantis baru akan melancarkan perang dengan Athena, tiba-tiba terjadi gempa dan banjir, tidak sampai sehari semalam Atlantis tenggelam tanpa bekas di dasar laut.

Kerajaan besar yang memiliki peradaban tinggi itu pun lenyap dalam semalam. Penyelidikan arkeolog menurut versi Plato, waku tenggelamnya Atlantis kurang lebih 11.150 tahun silam. Plato mengatakan bahwa kerajaan Atlantis diceritakan turun-temurun, bukan rekaan sendiri. 

Sejak ribuan tahun silam orang-orang menaruh minat yang sangat besar terhadap hal ini. Sejak tahun 1960-an sampai abad ke-20, laut bermuda yang terletak di bagian barat Samudera Atlantik berturut-turut diketemukan keajaiban yang menggemparkan dunia.

Pada tahun 1968, beberapa penyelam melihat sebuah jalan besar yang dibangun menggunakan batu persegi panjang yang disusun sangat rapi. Tahun 1979, ilmuan Amerika dan Perancis menemukan piramida di dasar laut bermuda. Diperkirakan bangunan-bangunan bawah laut tersebut adalah sisa-sisa kerajaan Atlantis yang telah tenggelam.

Sumber : unikbaca

Kamis, 18 Juli 2013

Kisah Mamanua dan Putri Kayangan : Legenda Telaga Tumatenden

BERIBU - ribu tahun sebelum bumi didiami banyak manusia, terdapat sebuah tempat pemandian air panas. Tempat pemandian itu hanya bagi putri kayangan. Pemilik pemandian itu bernama Mamanua, seorang yang kaya dan mempunyai banyak pesuruh. Tempat pemandian itu terletak disebuah desa bernama Tataaran. Nama mata air panas itu Rano ni Putiin, artinya air dari burung balam. 
 
Dahulu negeri tempat air panas ini masih dikelilingi hutan. Selain itu terdapat pula genangan air jernih, serta tepian teduh, menambah indahnya tempat ini. Pohon-pohon besar tahun demi tahun merangkai bunga-bunga yang berteduh dibawah naungannya. Rusa, babi hutan, tikus ekor putih, soa-soa dan burung maleo masih berkeliaran disana. Jamur pun tumbuh liar dipohon. Daerah ini masih berupa hutan perawan. 
 
Setiap selesai berburu, Mamanua selalu singgah ditempat pemandian itu. Setelah selesai mandi, para pesuruhnya disuruh membersihkan tempat itu. Pada suatu hari, salah seorang pesuruh melapor pada Mamanua bahwa tempat pemandian itu kotor. Mamanua marah mendengar berita itu. Ia ingin melihat, siapa yang berani melakukan hal itu. Niat ini dilaksanakannya tanpa bantuan para pesuruh. Mamanua menunggu ditempat tersembunyi dekat tempat pemandian itu. 
 
Tiba-tiba ia mendengar bunyi angin ribut dari arah timur. Bunyi angin itu semakin lama semakin mendekat. Seketika itu juga tampaklah sekelompok burung balam putih berjumlah Sembilan ekor ditempat pemandian. Anehnya, kesembilan ekor burung itu kemudian berubah menjadi Sembilan putri cantik memakai sayap putih. Mereka menanggalkan sayap putih itu dan mandi.
 
Kegelisahan Mamanua saat itu berganti gembira. Rasa cinta pada putri-putri itu berbunga. Mamanua langsung mencuri dan menyembunyikan salah satu sayap putih itu. Setelah itu dia berlari ke tempat pemandian dimana para putri sedang mandi. Sayang sebelum Mamanua tiba ditempat itu,para putri kayangan segera berlari mengambil sayap- sayap mereka dan terbang. Calaka, sayap putri bungsu hilang sehingga ia tidak dapat terbang. Apa daya, para putri lain tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak dapat menolongnya. Adik mereka yang bungsu, Lumalundung namanya menangis. 
 
Kemudian datang Mamanua yang membujuk Lumalundung untuk tinggal bersamanya. Mamanua pun memperistrikan Lumalundung. Mereka hidup bahagia suami – isteri dan memperoleh anak yang diberi nama Walansendow. Waktu berjalan bumi berputar. Rupanya awan besar dan rendah yang menyebabkan hujan, Guntur, dan kilat melanda kehidupan mereka. Suatu ketika, saat Lumalundung sedang menyusui Walansendow, Mamanua melihat banyak kutu di kepala istrinya. 
 
Tanpa disuruh, Mamanua langsung mencari kutu, bahkan mencabut tiga helai rambut Lumalundung. Sebenarnya hal ini tidak boleh terjadi karena merupakan pantangan bagi Lumalundung. Bekas rambut yang tercabut itu langsung mengeluarkan darah tanpa henti. Mamanua bingung. Ia langsung berlari keluar rumah. Lumalundung segera mencari sayap yang disimpan Mamanua. Setelah sayap itu ditemukan, Lumaundung langsung memakainya dan terbang ke angkasa. Diluar rumah tampak awan putih rendah dan terpencar seperti gumpalan kapas. Awan itu membawa cuaca baik.
 
 
Apa yang tejadi dengan Walansemdow? Ia menangis tanpa henti. Mendengar tangisan Walansendow yang keras itu, Mamanuapun masuk ke kamar. Ternyata didalam kamar hanya ada Walansendow. Kepergian Lumalundung merupakan suatu kesedihan yang mendalam bagi Mamanua dan Walansendow. Segala jalan sudah dipikirkan Mamanua untuk bisa bertemu dengan Lumalundung. 
 
Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Lumalundung kemanapun juga. Jika perlu ke langit yang ke tujuh. Mulailah Mamnua melangkahkan kaki mencari Lumalundung dengan menggendong Walansendow. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan pohon besar yang sangat tinggi, biasa disebut Walangitan (pohon hitam). Mamanua bertanya pada pohon itu, “apakah engkau dapat menolong kami? Kami sedang mengalami kesulitan, istri saya atau ibu anak ini lari meninggalkan rumah entah ke mana.” Pohong hitam berkata “apakah yang dapat kamu berikan kepada saya sebagai balasan kalau saya dapat membantumu?” Mamanua menjawab, “pohonmu banyak dibutuhkan orang dan batangmu akan menjadi kuat dan baik.” Pernyataan ini disetujui oleh pohon hitam. Kemudian, Mamanua dan Walansendow naik keatas pohon hingga ke puncaknya. Akan tetapi, mereka belum bisa tiba dilangit. Akhir nya, turunlah keduanya dengan susah payah.
 
 
Perjalanan dilanjutkan da bertemulah mereka dengan rotan yang panjang. Hal yang sama dikemukakan Mamanua kepada rotan. Rotan hanya dapat membantu jika ada balas jasa. Jasa yang dijanjikan Mamanua adalah batang rotan akan dimanfaatkan orang menjadi barang yang berguna. Hadiah ini diterima rotan. Mamanua dan Walansendow disuruh berada diujung rotan. Lalu, mereka diangkat tinggi-tinggi oleh rotan, tetapi tidak sampai juga dilangit. Walaupun kecewa,Mamanua belum putus asa. Setelah berjalan kira-kira seratus meter dari tempat rotan, mereka bertemu dengan babi hutan. Mamanua menyampaikan maksudnya kepada babi hutan. Ternyata, tuntutannya sama. Balas jasa utnuk babi hutan adalah ia mendapatkan apa yang akan dimakan manusia. Setelah itu, babi hutan menyuruh Mamanua dan Walansendow naik ke atas punggungnya. Kemudian, dia berlari mendaki pegunungan dan menuruni lembah. Akhirnya, mereka tiba ditepi pantai dan beristirahat disitu. Sepanjang hari Mamanua selalu berpikir dan merenungkan hidupnya bersama Walasendow. Tiba-tiba seekor ikan besar muncul didepannya. Permintaan tolongpun disampaikan kepada ikan. Rupanya ikan pun mengharapkan balas jasa. Mamanua berkata kepada ikan, “apabila engkau berenang jangan lupa siripmu diangkat, engkau akan dapat terbang. Namamu akan disebut ikan layar.”Ikan sangat setuju. Mereka berdua boleh naik keatas pungungnya. Ternyata mereka belum juga beruntung. Tujuan yang ingin dicapai belum tiba walaupun mereka sudah berada ditempat terbitnya matahari.
 
Mereka berada disuatu daratan luas dan bertemu dengan seorang lelaki tua. Ditangan lelaki itu ada cemeti. Lelaki itu berjalan menuju mereka. Begitu bertemu, Walansendow dicambuk lelaki itu dengan cemeti. Anehnya Walansendow tidak merasa sakit dan tidak ada tanda cemeti ditubuhnya. Ternyata, lelaki itu ayah Lumalundung yang bernama Malaroya. Ia hanya bermaksud mengetahui apakah Walansendow mempunyai darah dewa. Malaroya segerah memangil seorang perempuan untuk menggendong Walansendow. Tanpa setahu Mamanua, mereka sudah berada didaerah bernama Pinontol, yaitu suatu tempat yang berada diantara langit dan bumi. Perempuan yang menggendong Walansendow bertanya kepada Mamanua, bagaimana ia bisa tiba ditempat ini. Mamanua menuturkan semua yang terjadi terhadap dirinya dan anaknya. Dengan penuh kasih, perempuan tu membawa Mamanua dan Walansendow ke tempat Sembilan putri berada. Mamanua disuruh memilih Lumalundung diantara kesembilan putri. Akan tetapi, ia bingung ketika berhadapan dengan para putri itu karena wajah mereka mirip satu sama lain. Ketika Mamanua sedang berpikir, muncullah seekor lalat besar. Mamanua tidak mau kesempatan ini lewat begitu saja. Ia langsung menyampaikan maksudnya kepada lalat mengingat Walansendow sudah lama tidak disusuinya. Setelah isi hatinya disampaikan, lalat besarpun meminta balas jasa. Mamanua berkata bahwa setiap makanan yang telah selesai dimasak, dialah yang akan mencicipi lebih dahulu.
 
Hadiah ini diterima lalat dengan gembira. Lalu, dengan senang hati dia memberitahu bahwa putri yang dia hinggapi adalah Lumalundung. Hal ini dilakukan Mamanua. Akhirnya, Walansendow disambut Lumalundung. Lumalundung segera menyusui Walansendow sambil bercerita dengan mamanua. Peristiwa ini membawa keributan dikayangan karena tercium bau manusia. Malaroyapun datang untuk memberi hukuman pada Mamanua. Akan tetapi, hukuman ini dapat dibatalkan juga syarat yang diajukan Malaroya terpenuhi. Syaratnya, sebatang buluh berlubang harus diisi air hinggah penuh. Jika Mamanua dapat mengerjakannya ia tidak akan menerima hukuman mati. Mamanua segera menuju sungai dan bertemu denngan sogili (belut). Ia meminta bantuan sogili. Sogili bersedia memberikan kendinya kedalam buluh itu. Setelah pekerjaan itu selesai dikerjakan sogili, kembalilah Mamanua menemui Malaroya. “buluh sudah terisi air,” kata Mamanua kepada Malaroya. Hukuman matipun tidak jadi dilaksanakan. Mamanua diperkenankan hidup dikayangan bersama istri dan anaknya.
 
Kesimpulan Cerita ini tidak pernah terjadi, hanya fantasi dan khayalan belaka. Akan tetapi, cerita ini banyak diketahui orang, terutama para orang tua. Pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita ini bahwa kita harus saling menolong satu sama lain. Demikian pula apabila kita bercita-cita tinggi, kita harus berusaha sekuat tenaga.
 
Sumber: pesonaminut.blogspot

Kamis, 11 Juli 2013

Sejarah Terbentuknya Kota Kotamobagu

Bicara sejarah Kotamobagu tidak bisa lepas dari Bolaang Mongondow. Penduduk asli Bolaang Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Awalnya mereka tinggal di gunung Komasaan (Bintauna). 
Kemudian menyebar ke timur di tudu in Lombagin, Buntalo, Pondoli', Ginolantungan sampai ke pedalaman tudu in Passi, tudu in Lolayan, tudu in Sia', tudu in Bumbungon, Mahag, Siniow dan lain-lain. Peristiwa perpindahan ini terjadi sekitar abad 8 dan 9. Nama Bolaang berasal dari kata "bolango" atau "balangon" yang berarti laut. Bolaang atau golaang dapat pula berarti menjadi terang atau terbuka dan tidak gelap, sedangkan Mongondow dari kata ‘momondow’ yang berarti berseru tanda kemenangan.
Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu. Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.
Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik (kuat), berani, bijaksana, cerdas, serta mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan kelompok dan keselamatan dari gangguan musuh. Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasarkan kesepakatan seluruh bogani. Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama). Sejak Tompunu’on pertama sampai ketujuh, keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing). 
Perubahan total mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu’on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah Tompunu’on menjadi Datu (Raja). Tadohe dikenal seorang Datu yang cakap, sistem bercocok tanam diatur dengan mulai dikenalnya padi, jagung dan kelapa yang dibawa bangsa Spanyol pada masa pemerintahan Mokoagow (ayah Tadohe). Tadohe melakukan penggolongan dalam masyarakat, yaitu pemerintahan (Kinalang) dan rakyat (Paloko’). Paloko’ harus patuh dan menunjang tugas Kinalang, sedangkan Kinalang mengangkat tingkat penghidupan Paloko’ melalui pembangunan disegala bidang, sedangkan kepala desa dipilih oleh rakyat.
Tadohe berhasil mempersatukan seluruh rakyat yang hidup berkelompok dengan boganinya masing-masing, dan dibentuk sistem pemerintahan baru. Seluruh kelompok keluarga dari Bolaang, Mongondow (Passi dan Lolayan), Kotabunan, Dumoga, disatukan menjadi Bolaang Mongondow. 
Di masa ini mulai dikenal mata uang real, doit, sebagai alat perdagangan. Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk daerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo yang dibawa oleh Syarif Aloewi yang kawin dengan putri raja tahun 1866. 
Karena keluarga raja memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama (menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz). P
ada tanggal 1 Januari 1901, Belanda dibawa pimpinan Controleur Anton Cornelius Veenhuizen bersama pasukannya secara paksa bahkan kekerasan berusaha masuk Bolaang Mongondow melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. 
Raja Riedel Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan oleh Belanda, maka Belanda melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah 41.417 jiwa.
Pada tahun 1906, melalui kerja sama dan kesepakatan dengan raja Bolaang Mongondow, W. Dunnebier mengusahakan pembukaan Sekolah Rakyat dengan tiga kelas yang dikelola oleh zending di beberapa desa; yakni : desa Nanasi, Nonapan, Mariri Lama, Kotobangon, Moyag, Pontodon, Pasi, Popo Mongondow, Otam, Motoboi Besar, Kopandakan, Poyowa Kecil dan Pobundayan dengan total murid sebanyak 1.605 orang, sedangkan pengajarnya didatangkan dari Minahasa. 
Pada tahun 1937 dibuka di Kotamobagu sebuah sekolah Gubernemen, yaitu Vervolg School (sekolah sambungan) kelas 4 dan 5 yang menampung lepasan sekolah rakyat 3 tahun.
Ibukota Bolaang Mongondow sebelumnya terletak disalah satu tempat di kaki gunung Sia’ dekat Popo Mongondow dengan nama Kotabaru. Karena tempat itu kurang strategis sebagai tempat kedudukan controleur, maka diusahakan pemindahan ke Kotamobagu dan peresmiannya diadakan pada bulan April 1911 oleh Controleur F. Junius yang bertugas tahun 1910-1915. Pada tahun 1911 didirikan sebuah rumah sakit di ibukota yang baru Kotamobagu. Rakyat mulai mengenal pengobatan modern, namun ada juga yang masih mempertahankan dan melestarikan pengobatan tradisional melalui tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat dan sampai sekarang dibudayakan secara konvensional.
Sejak semula, masyarakat Bolaang Mongondow mengenal tiga macam cara kehidupan bergotong royong yang masih terpelihara dan dilestarikan terus sampai sekarang ini, yaitu : Pogogutat (potolu adi’), Tonggolipu,’ Posad (mokidulu). Tujuan kehidupan bergotong royong ini sama, namun cara pelaksanaaannya agak berbeda. Penduduk pedalaman yang memerlukan garam atau hasil hutan, akan meninggalkan desanya masuk hutan mencari damar atau ke pesisir pantai memasak garam (modapug) dan mencari ikan. 
Dalam mencari rezeki itu, sering mereka tinggal agak lama di pesisir, maka disamping masak garam mereka juga membuka kebun. Tanah yang mereka tempati itulah yang disebut Totabuan yang dapat diartikan sebagai tempat mencari nafkah. Bila ada tamu yang bertandang pada masa kerajaan, biasanya disuguhi sirih pinang, tamu pria atau wanita terutama orang tua. Sirih pinang diletakkan dalam kabela' (dari kebiasaan ini diciptakan tari kabela sebagai tari penjemput tamu). Tamu terhormat terutama pejabat di jemput dengan upacara adat. 
Tarian Kabela sampai saat ini tetap lestari di bumi Totabuan. Tarian yang ada di Bolaang Mongondow cukup beragam diantaranya tarian tradisional yang terdiri dari Tari Tayo, Tari Joke', Tari Mosau, Tari Rongko atau Tari Ragai, Tari Tuitan; juga tarian kreasi baru seperti Tari Kabela, Tari Kalibombang, Tari Pomamaan, Tari Monugal, Tari Mokoyut, Tari Kikoyog dan Tari Mokosambe. 
Upacara monibi terakhir diadakan pada tahun 1939 di desa Kotobangon (tempat kedudukan istana raja) dan di desa Matali (tempat pemakaman raja dan keturunannya). 
Transmigran ke Bolaang Mongondow pertama kali datang pada tahun 1963 dengan jumlah 1.549 jiwa (349 KK) & ditempatkan di Desa Werdhi Agung. Para transmigran berikutnya ditempatkan di desa Kembang Mertha (1964), Mopuya (1972/1975), Mopugad (1973/1975), Tumokang (1971/1972), Sangkub (1981/1982), Onggunai (1983/1984), Torosik (1983/1984) dan Pusian/Serasi 1992/1993). lengkapnya lihat hal. 90. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Bolaang Mongondow menjadi bagian wilayah Propinsi Sulawesi yang berpusat di Makassar, kemudian tahun 1953 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 1953 Sulawesi Utara dijadikan sebagai daerah otonom tingkat I. 
Bolaang Mongondow dipisahkan menjadi daerah otonom tingkat II mulai tanggal 23 Maret 1954, sejak saat itu Bolaang mongondow resmi menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan PP No.24 Tahun 1954. 
Atas dasar itulah, mengapa setiap tanggal 23 Maret seluruh rakyat Bolaang Mongondow selalu merayakannya sebagai HUT Kabupaten Bolaang Mongondow.
Seiring dengan Nuansa Reformasi dan Otonomi Daerah, telah dilakukan pemekaran wilayah dengan Kota Kotamobagu melalui Undang-Undang RI No. 4 Tahun 2007 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Bolaang Mongondow. 
Tujuan utama pembentukan Kota Kotamobagu adalah untuk memajukan daerah, membangun kesejahteraan rakyat, memudahkan pelayanan, dan memobilisasi pembangunan bagi terciptanya kesejahteraan serta kemakmuran rakyat totabuan.
Sumber: humas pemkot Kota Kotamobagu

Minggu, 30 Juni 2013

Video Demo Pengusaha dan Pekerja Hiburan Malam di Manado

MANADO - Kebijakan Pemerintah, sering berbenturan dengan nasib masyarakatnya sendiri.
Sebut saja kebijakan menaikkan pajak tempat hiburan malam yang digelontorkan Pemkot Manando beberapa waktu lalu.
Sontak kebijakan itu menimbulkan keresahan bagi pengusaha. Tidak hanya pengusaha, karyawan/pekerja-nyapu turut galau.
Sebagai wujud dari sikap protes, aksi demo pun menjadi solusi alternatif.
berikut salah satu aksi demo yang berhasil terekam oleh fianka73.


Video Tournament of Flower Kota Tomohon


Peserta Tournament of Flower mulai berpawai sambil menunjukkan kekahasannya masing-masing

Fik

Topeng Apa yang Saya Pakai ?


Sangat langka kita bisa mengetahui kejahatan orang hanya dengan melihat wajahnya saja.Kita nanti bisa mengatakan sesorang berwajah pembunuh setelah mengetahui bahwa ia memang pembunuh.Saya sering terkejut kita mereka menunjuk seseorang yang telah membunuh 5 orang,karena orang tersebut tidak terlihat atau tidak nampak sebagai seorang pembunuh. Bukan tampang pembunuh kata orang.
Mencoba mengetahui sifat seseorang dari wajahnya memang bisa keliru ,kita bisa tertipu.karena hampir setiap orang memiliki “  topeng  “ atau kemampuan untuk  menyamar sehingga tidak ketahuan  siapa dia sebenarnya,bagaimana sifat aslinya.
Hati manusia digambarkan sebagai hati yang licik,itulah sebabnya kita bisa melakukan kejahatan dalam keadaan tersenyum,kita bisa membunuh orang sambil tertawa, kita bisa gembira orang lain celaka karena perbuatan kita.
Akan lebih hebat lagi kalau kita memiliki “topeng,” apakah itu topeng jabatan,apakah itu kekuasaan,apakah itu uang ,apakah itu suatu keahlian,tapi topeng yang terbaik adalah agama, karena ketika kita ber “topeng agama,” maka semua yang kita lakukan akan dianggap benar dan suci.Agama dan ritual ritualnya menjadi “ topeng “yang sangat efektif. 
Dengan topeng agama kita bisa melakukan kejahatan tanpa rasa bersalah,dengan topeng agama seorang isteri bisa tidur dengan suami suami orang lain ber-ganti ganti tanpa merasa bersalah, karena dia melakukan itu di sela -sela  persekutuan doa yang rutin dilakukan,ataupun seorang suami dengan isteri isteri orang lain.
Kejahatan seperti ini akan makin lancar kalau dilengkapi dengan “topeng “ jabatan dan kekuasaan.Siapa yang bisa melarang kalau pimpinan,orang orang nomor satu “ rapat tertutup “ ber-jam jam.
Bagi kita manusia memang tersedia banyak “topeng “ terserah pada pilihan kita mana yang cocok, toh resikonya kita juga yang menanggungnya, tapi wai bagi para pemimpin ,orang orang nomor satu ,kepada mereka tergantung nasib banyak orang, nasib rakyat, bercermin dari kisah kisah Perjanjian Lama setiap kali pemimpin bangsa berpaling dari Allah maka yang akan menderita adalah juga rakyatnya.
Apakah Soputan dan Lokon sekedar batuk batuk biasa atau suatu peringatan dini bagi topeng topeng yang kita pakai hari hari ini ?                                    

FRESH

Benarkah Demokrasi ?


DPR dan DPRD yang dianggap perwujudan demokrasi malah merupakan sarang koruptor. Jual beli aneka RUU, utak atik anggaran, pemekaran daerah, pemilihan kepala daerah, proyek pembangunan, pemilihan pejabat, dan sebagainya ditenggarai menjadi lahan basah korupsi para anggota dewan.
Gaji dan tunjangan yang “tak seberapa” membuat para penguasa atau wakil rakyat mencari cara cepat mengembalikan biaya politik dalam proses pemilu tersebut, yaitu dengan cara korupsi. Inilah lingkaran setan korupsi dalam sistem demokrasi.
Dari fakta diatas seharusnya bukan hanya KPK yang layak dibubarkan tapi sistem politik dan pemerintahan demokrasi pun harus segera dibubarkan. Sebagai gantinya adalah system dan pemerintahan Islam.
Mencermati alur berpikir dari penulis dapat disimpulkan bahwa penulis adalah salah satu dari sebahagian rakyat indonesia yang sudah sangat kecewa dan prihatin dengan maraknya penyakit korupsi yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Kekecewaan dan keprihatinan ini adalah suatu hal yang sangat wajar, karena sebagai warga Negara Indonesia  yang cinta pada negaranya, yang sebahagian besar rakyat masih hidup digaris kemiskinan, dilain pihak Negara terus berhutang kepada Negara lain dengan jumlah hutang yang terus bertambah, maka pantaslah kalau kita semua harus kecewa dan prihatin.
Akan tetapi benarkah yang menyebabkan terjadinya korupsi adalah sistim politik demokrasi ? Selama ini kita mengenal arti dari demokrasi itu adalah pemerintahan atau kedaulatan berada ditangan rakyat, diwujudkan melalui pemilihan umum legislative dimana rakyat memilih dan menentukan wakilnya  lewat pemberian suara ,dengan one man one vote, satu orang satu suara (sangat adil) sementara untuk memilih presiden sebagai kepala Negara ,dan para kepala daerah, dipilih lewat pemilihan umum presiden  ( Pilpres ) dan   pemilihan umum kepala daerah ( Pilkada ). Sistim ini sudah sesuai dengan asas “ dari rakyat , oleh rakyat , dan untuk rakyat.
Karena para anggota legislative, presiden dan kepala daerah dipilih untuk mensejahterahkan rakyat melalui fungsi dan tugasnya. Asas kedaulatan rakyat atau demokrasi adalah asas yang berasal dari Pancasila sebagai dasar Negara kita yaitu sila keempat ,Kerakyatan yang di[pimpin oleh hikmah kebijaksanaan, dalam permusyawaratan, perwakilan.
Dengan demikian demokrasi sebagai suatu sistim politik sudah sesuai dengan Pancasila baik sebagai dasar Negara maupun sebagai ‘ the way of life’ pandangan hidup dan filosofi bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu kekecewaan dan keprihatinan kita pada korupsi tidak boleh membawa kita pada kesimpulan yang keliru bahwa demokrasi telah menyebabkan maraknya korupsi sehingga sistim demokrasi dan pemerintahan harus bubar dan diganti dengan sistim Negara islam atau Khilafah.
Apakah kita harus mengganti rumah kita atau merombak rumah kita karena banyak tikus berkeliaran didalamnya ? atau  masuk diakal kita harus mengganti agama kita hanya karena banyak teman seagama tidak menjalankan hukum agama secara benar ?
Sebenarnya kalau kita secara tenang dan jernih mencari apa penyebab dari korupsi maka akar penyebabnya jelas bukan sistim demokrasi, tapi akar pokoknya adalah kemiskinan. Kemiskinan materi dan kemiskinan moral dan kemiskinan pendidikan politik.
Sebagai perbandingan ( bukan untuk mengagungkan) di Amerika Serikat sesorang yang akan mencalonkan diri sebagai anggota Kongres ,harus memiliki minimal 2 juta dolar,artinya bahwa secara financial dia sudah mapan sehingga tidak memanfaatkan status anggota kongresnya untuk mencari uang, seperti memperdagangkan ayat ayat rancangan undang undang,.
Untuk menjadi calon presiden AS ,rakyatlah yang menyumbang biaya kampanye ,karena rakyat yang pendidikan politiknya sudah baik akan rela mengeluarkan uangnya untuk membantu calon presiden yang program program cocok dengan keinginan rakyat tersebut. Berbeda di Indonesia karena pendidikan politik belum merata ( banyak rakyat yang belum tersentuh dengan pendidikan politik, antara lain karena terlalu lama mengalami depolitisasi dijaman orde baru) ,dan tingkat ekonomi yang rendah ( miskin) maka rakyat tidak begitu peduli dengan program, kapabilitas, dan integritas calon, rakyat lebih tertarik dengan hal hal yang pragmatis, uang, sembako, dll.
Sementara di Indonesia sebagian calon baik legislative maupun eksekutif banyak yang secara financial masih sangat lemah sehingga jabatan jabatan politik yang harusnya adalah wahana untuk pengabdian kepada masyarakat, membawa masyarakat pada kesejahteraan, justru menjadi tempat untuk mengumpulkan uang atau mendapatkan kekayaan.
Faktor lain, sistim demokrasi dan era tranparansi ini mestinya didukung oleh penegakan hukum yang adil , tidak pandang bulu, yang profesional ,karena demokrasi dan hukum harus seperti dua sisi dari satu mata uang, ternyata juga masih jauh dari harapan, karena Negara yang tergolong miskin ini juga belum mampu memberi kesejahteraan kepada para penegak hukum. Akibatnya banyak yang masih tergoda untuk menjual belikan pasal pasal keadilan, banyak yang masih bisa ditunggangi oleh pihak pihak yang berduit.
Tetapi kita juga tidak menutup mata masih banyak orang yang memiliki moral yang kuat, para anggota Dewan yang mampu menahan diri, para Kepala daerah yang betul betul mengabdi, para hakim, jaksa, polisi, pengacara yang tawakal, hidup dalam kesederhanaan dan kejujuran.
Dengan segala hormat pada pendapat Novia Asri Putriyanti, saya ingin menyampaikan bahwa tidaklah tepat menyalahkan sistim demokrasi sebagai akar dari masalah korupsi di Indonesia karena masalah korupsi adalah masalah yang sangat kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Demokrasi adalah sistim yang paling beradab karena tidak ada asas yang lebih tinggi “dari rakyat ,oleh rakyat, dan untuk rakyat”, Ingat “ Vox populi Vox Dei “ Suara rakyat suara Tuhan, Yang dimaksud tentunya adah suara hati nurani rakyat, yang pasti tidak sama dengan suara rakyat dari para politisi yang sudah sarat dengan berbagai kepentingan.

FRESH

Jumat, 28 Juni 2013

Pentas Dramatis

KALAU ada yang bilang salah satu pentas dramatis adalah pentas demokrasi langsung, ada benar juga.

Sebab, bagi yang menang no problem, tapi yang kalah, pasti berakhir dramatis.

Itulah pentas dramatis! Dan memang, fakta kekalahan, bagi sebagian, bisa juga seluruh kontestan yang kalah, biasanya masih berlanjut dengan sikap menolak putusan lembaga penyelenggara pesta demokrasi itu.

Kecurangan lantas menjadi klausul paling pas dan mujarab atas sikap penolakan.
Memang dramatis, manakala klausul itu juga yang ‘konon’ didendangkan oleh yang kalah.

Lantas, siapa yang paling dramatis?

Fian Kaunang