Sabtu, 03 Agustus 2013

Sejarah PERMESTA

PERMESTA diproklamirkan
17 Februari 1958 Pada pukul 07.00 diadakan pertemuan di ruang rapat gedung Universitas Permesta di Sario Manado dengan tokoh² politik, masyarakat dan cendikiawan. MC (moderator) saat itu adalah Kapten Wim Najoan. Secara singkat, Panglima KDM-SUT memberikan gambaran tentang perkembangan di Sumatera dan putusan dibentuknya PRRI. Selanjutnya Panglima KDM-SUT memberitahukan pada rapat tersebut, putusan sbb:
"Permesta di Sulutteng menyatakan solider dan sepenuhnya mendukung pernyataan PRRI. Oleh sebab itu, mulai saat ini juga Permesta memutuskan hubungan dengan Pemerintah RI Kabinet Djuanda".
Tanpa dikomando hadirin bersama² berdiri dan menyambutnya dengan pekik: "Hidup PRRI! Hidup Permesta! Hidup Somba!" berulang². Setelah rapat diskors 30 menit untuk menyusun teks pemutusan hubungan dengan pusat oleh 3 orang (Mayor Eddy Gagola, Kapten Wim Najoan,...), maka pertemuan dibuka kembali dan teks tersebut dibacakan. Setelah itu emosi hadirin meledak. Pekik "Hidup Permesta! Hidup PRRI! Hidup Somba-Sumual!" menggema selama beberapa menit. Setelah itu Mayor Dolf Runturambi bertanya kepada hadirin, "Bagaimana, saudara² setuju?" Serentak dijawab: "Setuju! Setuju!". Kembali suasana dipenuhi oleh antusiasme yang berapi², walau tampak beberapa orang yang tetap bungkam.

Kemudian diadakan pertemuan umum raksasa di Lapangan Sario Manado pada pukul 11.00. Letkol D.J. SOMBA selaku Panglima/Gubernur Militer KDM-SUT (Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah) atas nama rakyat dan tentara Sulutteng, membacakan teks pemutusan hubungan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta. Isi dari teks tersebut adalah:

"RAKYAT SULUTTENG TERMASUK MILITER SOLIDER PADA KEPUTUSAN PRRI
DAN MEMUTUSKAN HUBUNGAN DENGAN PEMERINTAH RI"



Pukul 20.00 malam hari, Kastaf KDMSUT Mayor Dolf Runturambi membacakan teks pemutusan hubungan dengan pusat dalam bahasa Inggris melalui RRI (Radio Permesta).

Perangko PERMESTA
Kemudian, sebuah pesawat komersil Garuda dari maskapai penerbangan nasional GIA yang baru tiba, dibiarkan terbang kembali- berangkat ke Jakarta dan pada semua orang yang ingin segera meninggalkan Manado dengan pesawat tersebut hari ini juga diberikan kelonggaran sepenuhnya. Sekalipun demikian, banyak juga yang menemui Mayor Dolf Runturambi selaku Kastaf KDM-SUT untuk meminta semacam surat pas buat naik pesawat GIA terakhir ini, supaya mereka merasa aman.
Kemudian oleh Pemerintah Pusat (dan tentu saja PKI), gerakan ini disebut sebagai "pemberontakan PRRI/Permesta".

Pada saat itu Kolonel Permesta H.N.Ventje Sumual sedang berada di Manila. Beberapa hari kemudian, KDMSUT menerima radiogram bahwa Letkol Ventje Sumual telah bertolak ke luar negeri, Singapura, Manila terus ke Tokyo (Sebelumnya diketahui oleh para perwira KDM-SUT bahwa Letkol Sumual masih berada di Sumatera). Ia pergi bersama Mayor Jan M.J. Pantouw (Nun), sedangkan Mayor Arie W. Supit ditugaskan untuk pergi ke Roma.
 
Hari itu juga Pemerintah Pusat kemudian mengumumkan pemecatan dengan tidak hormat atas Letkol H.N. Ventje Sumual (pangkat yang dinaikkan KSAD menjadi Kolonel, namun belum dilantik secara resmi), Mayor D.J. Somba (Saat itu ia telah menerima kenaikan pangkat otomatis Overste (Letkol) selaku Gubernur Militer/KDM, tapi belum ada kenaikan pangkat resmi) dan Mayor Dolf Runturambi.

Beberapa hari kemudian KSAD memerintahkan untuk menangkap Letkol D.J. Somba, Mayor Dolf Runturambi, Gubernur SUT H.D. Manoppo dan Jan Torar.

Sebetulnya, dengan memutuskan hubungan dengan pusat maka gerakan Permesta sudah mati, karena hanya sekitar 16 dari 51 deklarator Piagam Permesta saja yang berasal dari Sulawesi Utara yang meneruskan gerakan Permesta. Istilah "Permesta" sendiri secara resmi tidak dipergunakan lagi oleh pejabat sipil dan militer di Sulawesi Utara karena sudah menjadi bagian (cabang) dari PRRI di Sumatera; tetapi dalam kenyataannya cabang pemberontakan PRRI Sulawesi utara sering disebut PRRI/Permesta. Selain itu, kata Permesta adalah kata bahasa baku yang dipergunakan oleh kalangan masyarakat umum untuk menyebutkan gerakan ini, bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali bahwa gerakan Permesta sudah dilebur ke dalam PRRI sedangkan yang lainnya menyebutkan "PRRI" sebagai suatu gerakan pemberontakan lain yang berdiri sendiri disamping gerakan Permesta (maupun DI/TII Kahar Muzakhar, Daud Beureueh, dll). 
 
Sejak saat itu, semua penduduk terutama kaum muda, yang semula dikerahkan memanggul alat pembangunan, tiba² diminta berganti peran. Pendaftaran mulai dilakukan dimana², baik untuk mendukung barisan pemuda maupun untuk dinas militer Permesta. Latihan kemiliteran pun mulai tampak dimana². Para pemuda, tak terkecuali gadis², mulai raib dari kampung². Mereka ikut mendaftarkan diri, lalu dikirim ke pusat² latihan. (Kaum wanita Permesta tergabung dalam Pasukan Wanita Permesta (PWP) dengan potongan rambut seperti Kowad/Polwan).
Pendidikan dan latihan secara militer dengan memakai senjata dipusatkan di daerah Mapanget, dilatih oleh para penasehat dari Korps Marinir AS. Pendidikan dengan latihan tempur dalam satuan kompi dan batalyon dilakukan di Remboken, Tompaso dan di daerah perbukitan Langowan. Latihan di sana dipimpin oleh seorang Mayor AD Filipina dengan beberapa perwira APRI (TNI) yang berpendidikan kompi.

Sejumlah penasehat militer Amerika Serikat diselundupkan ke Sumatera dan Minahasa. Berbagai macam persenjataan dikirimkan lewat kapal dan sejumlah pesawat terbang (antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu Mustang F-51, Beachcraft, Catalina dan pembom B-26 Invander yang berada dibawah Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) dengan sekitar 40 awak pesawatnya) juga ikut diperbantukan. Mereka melancarkan kegiatan tersebut dari Pangkalan Udara Militer Amerika Serikat di Clark Airfield, Filipina. Ada juga satuan kepolisian PRRI yang bernama Polisi Revolusioner (Polrev), dan badan intelejen Permesta yang diberi nama Permesta Yard.

Kiriman pertama yang terdiri dari berbagai senjata ringan serta amunisi untuk pasukan infanteri segera dikeluarkan dan dibagi²kan. Beberapa pucuk mitraliur anti pesawat terbang segera dipasang di tempat² strategis di sekitar daerah pelabuhan dan lapangan udara yang sudah ditetapkan sebelumnya. Bersama kiriman persenjataan tersebut juga tiba beberapa instruktur asing, sehingga latihan² pasukan baru dapat segera dimulai.

Permesta saat itu tidak pernah kekurangan senjata. Salah seorang pemasok peralatan militer Permesta dari luar negeri yaitu Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dari Italia pernah menawarkan kapal perang, tetapi tidak pernah bisa diambil karena alasan teknis. Demikian juga bantuan dana dan perbekalan, dengan mudah bisa didapatkan dari Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Filipina.

Timbunan senjata dan perlengkapan militer terkumpul di Okinawa dan di Filipina. Orang² PRRI dan Permesta, Filipina, Cina, Amerika Serikat dan para sedadu sewaan 'dari negara² lain' juga telah dilatih dan siap di Okinawa dan di Filipina untuk membantu PRRI dan Permesta.

Sekitar satu peleton anggota RPKAD (sekarang Kopassus) yang berasal dari Minahasa yang sedang cuti pulang kampung terjebak Pergolakan. Pasukan Nicholas Sulu tersebut kemudian menjadi tulang punggung WK-III di wilayah Tomohon. Selain itu ada juga sepasukan yang dipimpin oleh bekas anggota RPKAD fam Lahe yang merekrut pemuda² di kampungnya dan membentuk Kompi Lahe yang terkenal kejam akan pembantaian Pasukan Combat (kompi) Lahe di Raanan dan Tokin: Peristwa itu didahului oleh Simon Ottay dari GAP (Gerakan Anti Permesta) - yaitu salah satu organisasi bentukan komunis (PKI) yang menyamar dengan memakai pangkat Kapten Permesta (APREV) mendaftarkan penduduk dari kedua desa tersebut untuk menjadi "anggota" Pasukan Permesta.
 
Setelah ia lari karena diburu pasukan PRRI (Permesta), didapatilah daftar "anggota" tersebut. Tanpa pemeriksaan, langsung saja Kompi Lahe yang dipimpin oleh Montolalu membantai penduduk kedua desa tersebut. Karena tindakan ini dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan dan hukum (tanpa pemeriksaan secara saksama), maka Lahe dan Montolalu dikejar pasukan antara lain dari Kapten (?) Tumanduk. Montolalu ditangkap di Sinisir, dan dieksekusi di Mokobang, sedangkan Lahe ditangkap di Remboken.

Sejumlah besar anggota Komando Pemuda Permesta (KoP2) di wilayah Sulawesi Utara dan Tengah dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota pasukan Permesta. KoP2 atau yang lebih dikenal sebagai Kopedua ini dipimpin oleh Yan Torar.
Sebelum itu, kegiatan KoP2 adalah membantu pemerintah daerah masing² mengerahkan tenaga dan dana untuk melancarkan pembangunan di daerah².

Sebagian lagi, khususnya pelajar dan mahasiswa, disusun dalam satuan Permesta dengan nama Corps Tentara Peladjar (CTP) dipimpin Jimmy Noya, seorang pemuda asal Ambon (Maluku) serta Wilson H. Buyung. Lambang Corps-TP dan Badge dengan dasar hitam garis lima merah diagonal tersebut hasil inspirasi dari film perang 'To Hell and Back' yang hanya bergaris tiga sebab kebetulan sewaktu tercetusnya Permesta hanya film perang itu saja yang diputar berulang² di bioskop² Manado. Arti warnanya adalah merah hitam berarti berani mati untuk mempertahankan 5 [lima] garis merah berarti Pancasila. Penciptanya adalah Krishna Sumanti [Kris] ex. CTP Manado Jimmy boys.

Semangat pasukan Permesta ini dibakar oleh para ahli psywar dan agitasi, lewat teknik pendekatan dan pembinaaan yang jitu. Patahlangi, Putera Bugis yang terkenal sebagai orator dan agitator berbakat, setiap sore terdengar suaranya lewat Radio Permesta Manado, berpidato berapi² mengobarkan semangat Permesta di kalangan pendengar. Berbagai kehebatan dan keunggulan serta kekuatan Permesta ditonjolkan. Sebaliknya setiap kelemahan pihak lawan dipaparkan, dan keburukan ditelanjangi.
Slogan perjuangan saat itu adalah: "Permesta Pasti Menang".

Fenomena yang terjadi akibat situasi Pergolakan ini antara lain mewabahnya demam mistik. Kepercayaan terhadap kekuatan mistik Opo² yang sangat diyakini leluhur orang Minahasa, kembali mengental. Kekebalan tubuh terhadap bacokan atau tembakan senjata merupakan hal yang paling laris dalam situasi yang siap bertempur tersebut. Orang pintar yang disebut Tonaas bermunculan di kampung². Jimat² tersebut ada yang berbentuk batu cincin, keris, sapu tangan, atau ikat pinggang jimat. Yang paling disukai dan dianggap hebat kesaktiannya adalah ikat pinggang jimat, berupa batu² kecil ataupun akar²an yang telah dibungkus dengan kain merah, beruas² yang disebut Sembilan Buku (Ruas). Selain itu ada jimat penghilang tubuh serta jimat terbang yang juga menjadi 'dagangan' laris saat itu, dan ada juga jimat yang diberikan dalam bentuk air yang diminum atau dimandikan.
Tokoh² sakti yang menjadi idola saat itu antara lain adalah Nok Korompis, Daan Karamoy, Gerson (Goan) Sangkaeng, Len Karamoy, Yan Timbuleng, serta banyak lagi orang sakti lainnya yang menjadi pimpinan Permesta ketika itu.

Salah satu akibat utama dari mistik ini adalah banyak menimbulkan perpecahan bahkan lucut- melucuti senjata, serta kudeta kekuasaan di antara sesama pasukan. Hal ini merupakan kelemahan fatal bagi keutuhan dan kekuatan Permesta, sebab seorang bawahan yang merasa dirinya sakti, bisa saja melawan atasannya).
18 Februari 1958 Dalam putusannya, Pemerintah Pusat di Jakarta melalui siaran radio RRI Pusat, menyatakan bahwa Letkol D.J. Somba dan Mayor Dolf Runturambi dipecat dari dinas militer TNI-AD dalam APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).
19 Februari 1958 Letkol D.J. Somba hari ini secara sepihak melaksanakan pembagian KDM-SUT yang sudah lama direncanakan itu dalam dua resimen. Mayor Dolf Runturambi ditugaskan menjadi Komandan Sektor I/Resimen Team Pertempuran (RTP) "Ular Hitam", yang meliputi Sangihe-Talaud, Minahasa, dan Bolaang Mongondow; dan Mayor Jan Wellem (Dee) Gerungan dilantik sebagai komandan Sektor II Resimen Team Pertempuran "Anoa", di Sulawesi Tengah dengan markas besar di Poso. KSAD Mayjen A.H. Nasution menyatakan bahwa Angkatan Darat mendukung Demokrasi Terpimpin.
 
Masa ini adalah untuk pertama kalinya Presiden Soekarno merasa berada dalam dukungan ideologis dari pimpinan tentara. Ini menjadi salah satu kedekatan yang istimewa antara Presiden Soekarno dengan KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution. Sugesti dari pihak militer jelas sangat berperan pada keputusan Soekarno, yang kendati sejak awal berusaha berbaik dengan para panglimanya di daerah.
Presiden Ir. Soekarno bertemu dengan Drs. Mohammad Hatta guna membicarakan situasi yang terjadi akhir² ini. Mereka bertemu lagi tanggal 3 Maret.

Volcano_Lokon_udara2-North
Areal Gunung Lokon dilihat dari udara
Hari ini, Gunung Lokon mulai menampakkan kegiatannya dengan sebuah letusan kecil yang memuntahkan lapili di sekitar kawah. Kemudian letusan Lokon terjadi pada tanggal 4, 16-17 Maret, 3-4 Mei tahun ini juga. Kegiatan letusan Lokon ini berlangsung sepanjang tahun. Letusan ini dilanjutkan hingga berakhir pada tanggal 23 Desember 1959- tahun berikutnya. Selama tahun 1959 Lokon memuntahkan abu diselingi letusan kuat yang melontarkan batu. Hujan abu turun di sekitarnya. Dalam bulan Agustus, September dan November tahun 1959 tidak terjadi letusan.
Konon, letusan Gunung Lokon ini dipercaya orang terjadi akibat peringatan dewa Minahasa (opo) berkaitan dengan mulainya prahara Pergolakan Permesta - perang saudara antara Pemerintah Pusat dengan PRRI di Minahasa.
20 Februari 1958 Perintah untuk melakukan operasi militer secara terbuka bergulir dari Jakarta pada tanggal 20 Februari 1958.
Keputusan ini diambil Jakarta sehubungan berakhirnya ultimatum pemerintah pusat kepada PRRI untuk menyerah. Maka hari itu, dua pesawat B-25 dengan penerbang Kapten Sri Muljono dan Mayor Soetopo mendapat perintah menyebarkan pamflet yang berisi himbauan agar PRRI menyerah. Sebelum menuju daerah tujuan, kedua pesawat mendarat di Astra Setra, Lampung agar tidak diketahui Letkol Barlian, Komandan Sumatera Selatan. Barulah esok paginya kedua pesawat terbang menyusuri pantai barat Sumatera. Setelah terbang sekitar hampir dua jam, mereka mulai memasuki pantai Padang dan menebarkan pamflet.

Permesta membalas perintah tersebut dengan mengumandangkan semboyan:
"HANJA KALAU KERING DANAU TONDANO, RATA GUNUNG LOKON, KLABAT DAN SOPUTAN BARU TENTARA DJUANDA DAPAT MENGINDJAKKAN KAKINJA DIMINAHASA."
 
Allen Pope
21 Februari 1958 Hari ini, pemerintahan PRRI-Permesta di Sulut menerima radiogram dari Letkol Ventje Sumual, yang memerintahkan untuk mengadakan telaahan staf mengenai persiapan² militer menghadapi ofensif Jakarta. Selanjutnya kepada Mayor J.W. (Dee) Gerungan ditugaskan untuk membuat konsep rencana ofensif terhadap ofensif pusat bersama Mayor Eddie Gagola, yang menyusun rencana pembentukan WK (Wehrkreisse).
 
 22 Februari 1958 Pada pagi hari, pesawat B-25 Mitchell AURI yang dikemudikan oleh Mayor (Pnb) Leo Wattimena dan Mayor (Pnb) Omar Dhani, menjatuhkan bom pada beberapa sasaran yang dianggap vital, antara lain studio RRI Manado (yang waktu itu adalah Studio Radio Permesta), Asrama Tentara, Markas Angkatan Darat Permesta di Jl. Sario, kompleks perumahan perwira² pimpinan Permesta di Sario, serta rumah mertua Ventje Sumual, dan juga Rumah Sakit "Gunung Maria" Tomohon, walaupun sudah dicat Palang Merah di atapnya.
Batalyon 714 hanya memiliki beberapa pucuk mitraliur 12,7 mm. Satuan itu segera diperintahkan untuk menempatkan di atas jip² guna menghadapi serangan ulang AURI.
 
 Pemboman terhadap Manado ini mempercepat kepulangan dua tokoh militer asal Minahasa yang berpengaruh yaitu Kolonel Alex E. Kawilarang (Atase Militer KBRI Wshington,DC/USA) dan Kolonel J.F. Warouw (Atase Militer KBRI Peking/Cina) ke daerah asalnya. KSAD Mayjen A.H. Nasution sebelumnya telah menerima beberapa kawat telegram dari Alex Kawilarang dan sebuah kawat dari Joop Warouw. Namun, kawat terakhir dari Alex Kawilarang beberapa saat sebelum pemboman atas Manado berisi kecaman keras atas tindakan Pemerintah Pusat terhadap daerah² yang bergolak.
23 Februari 1958 Pukul 14.00, muncul pesawat terbang dengan kode Filipina di Lapangan Mapanget yang membawa KSAD PRRI Letkol Ventje Sumual. Landasan beton saat itu telah dibarikade dengan truk², dan beberapa stomwals. Kemudian, pesawat yang membawanya lepas landas beberapa menit kemudian.
Pengiriman senjata² terhadap Permesta telah tiba hari ini di Manado. Bersamaan dengan tibanya Letkol Ventje Sumual dari luar negeri. Kolonel Sumual mengatakan bahwa mereka memperoleh persenjataan pertama untuk Permesta di Manila, Filipina dan Taipei, Taiwan.
24 Februari 1958 Dua hari setelah Manado dibom, KDM-SUT mengeluarkan seruan kepada semua bekas KNIL yang telah mendapat latihan dalam pasukan antipesawat udara dan senjata berat agar melapor untuk didinaskan. Kira² 2.000 orang melaksanakan seruan tersebut, termasuk diantaranya ayah Kolonel Joop Warouw.
26 Februari 1958 Letkol H.N.Ventje Sumual (NRP 15958) secara resmi dipecat dari TNI.
26-27 Februari 1958

RESOLUSI Konferensi Veteran Sulawesi Utara/Tengah jang dilaksanakan
di Manado dan dihadiri oleh tokoh² Veteran, wakil² kelaskaran serta
wakil dari daerah Luwuk Banggai, Posso, Palu/Donggala, Bolaang
Mongondow, Minahasa, Manado, Sangir Talaud dan Gorontalo membahas
setjara mendalam pergolakan² di tanah air pada saat itu, menjimpulkan
keputusan sebagai berikut:

A. 1. Mendukung sepenuhnja pernjataan KDM/Gubernur Militer SUT
jang ditetapkan tanggal 17-2-1958.
2. Mengutuk tindakan Djuanda & KSAD terhadap pergolakan
di Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara.
3. Sehidup semati dengan tokoh² Permesta seraja menentang keras
perintah KSAD tentang pemetjatan/penangkapan Somba cs.
B. 1. Mendesak supaja semua anggota Veteran dipersendjatai kembali,
untuk merealisasikan dan mempertahankan PERMESTA.
2. Supaya dibentuk kesatuan Veteran bersendjata
jang dipimpin oleh Veteran.
3. Agar penjusunan kesatuan² tersebut dipertjajakan kepada
Veteran, jang disesuaikan dengan ketentuan² Gubernur Militer.
4. Supaya segera menempatkan tenaga² Veteran pada segala bidang.

Atas nama Konperensi Veteran,
t.t.d. - 1. John F. Malonda (Ketua),
2. S.D. Wuisan,
3. Dj.A. Musmar,
4. A.F. Nelwan,
5. Theo Najoan,
6. H. D. Johannis,
7. W. Malele,
8. Kol. Tinangon,
9. R.R.Lumi,
10. Wim Gerungan,
11. John Somba,
12. Se8l Ali Sakibu,
13. Abd. Haris Renggah,
14. Anang Idjah,
15. F.S.U. Siwu,
16. Ibu Lasut-Monding,
17. Ibu Mewengkang-Tampi.

28 Februari 1958 Menurut harian Tan Kung Pau, Jan Pantouw berada di Hongkong hari ini.
Maret 1958 Dalam bulan ini, ada beberapa peristiwa penting:

Keadaan yang genting di Sulawesi Utara akibat pemutusan hubungan Permesta dengan Pusat menjadi faktor penting penentu situasi di kota Manado. Kota Manado pada waktu itu semakin dicekam rasa tak aman. Setiap detik warga kota seakan menanti meletusnya perang terbuka antara Pasukan Permesta dengan Tentara Pusat yang diperkirakan tak lama lagi bakal datang menyerbu daerah yang dikuasai Permesta. Karenanya warga kota Manado, berangsur² mulai mengungsi ke luar kota. Tak terkecuali instansi² pemerintah juga mulai melakukan evakuasi ke pedalaman. Kota Tomohon kemudian menjadi kota alternatif sesudah Manado.
Ketika Padang diserang, KSAD Mayjen A.H. Nasution memerintahkan agar Letkol Saleh Lahede dan semua tokoh Permesta di Makassar ditangkap.
J.M.J. "Noen" PANTOUW diutus ke Amerika Serikat untuk mendapatkan dukungan moril dan materil bagi Permesta. Kemudian bertemu Kolonel Ventje SUMUAL di Taipei serta tokoh² Kuomintang.
kawilarang_atase2 Kolonel Alexander Evert Kawilarang (saat itu ia telah mendapat kenaikan pangkat otomatis Brigjen, namun belum ada pelantikan secara resmi) berhenti sebagai Atase Militer RI pada Kedubes RI di Washington, DC - AS (yang dijabatnya sejak bulan September 1956), kemudian berhenti dari dinas militer, selanjutnya bergabung dengan Permesta (ia menolak sebutan PRRI).
Ia waktu itu didesak para perwira bekas bawahannya yang saat itu sedang mengikuti pendidikan di Fort Benning, AS agar mengirim kawat kepada KSAD A.H. Nasution. Dengan enggan ia mengirim beberapa kawat (telegram) protes atas tindakan pemerintah pusat terhadap daerah² yang bergolak. Jawaban yang diterimanya dari KSAD ringkasnya berbunyi "Tidak akan mengubah kebijaksanaan yang telah diambil, karena baru kembali dari kunjungan ke daerah² dan ternyata semua daerah mendukungnya." Selain itu, tembusan jawaban ini dikirim juga kepada semua atase pertahanan/militer di luar negeri. Komentarnya kepada para perwira yang sedang mengikuti pendidikan tersebut "...memang saya sudah menduga akan menerima jawaban semacam ini. Saya sudah pikir dari semula bahwa hal ini (kawat protes) akan percuma saja."
Dalam bukunya yang berjudul "A.E. Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih" ia menuliskan:
 
Sebelumnya saya sudah mengirimkan kawat ke KSAD, mengabarkan bahwa saya meletakkan jabatan saya, berhubung tidak setuju dengan tindakan Pemerintah Pusat di Jakarta. Sebelum saya keluar dari kantor KBRI itu, saya adakan dulu timbang terima. Keuangan saya bereskan dan saya serahkan seluruhnya. Begitu juga barang² dan dokumen² milik pemerintah RI yang ada pada saya, saya serahkan kepada yang harus menerimanya. Saya tinggalkan suasana hidup aman di Washington, DC dan saya tinggalkan ketenangan bekerja di kantor KBRI, menuju ke kehidupan yang bakal serba gelap dan tidak menentu. Untuk daerah memang nasi sudah jadi bubur. Deburan hati pula yang saya ikuti.
Bentrokan intern Indonesia tentu dipergunakan oleh beberapa negara lain untuk manfaatnya sendiri.
Tiga tahun lebih terjadi konfrontasi bersenjata yang berakhir dengan Permesta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Saya sendiri menganggap bahwa kehidupan saya sebagai tentara sudah berhenti sejak Maret 1958.
Sesudah kembali ke Jakarta tahun 1961, saya melihat hari depan sangat gelap untuk saya. Tetapi waktu itu saya melihat juga, bahwa untuk seluruh Indonesia hari depan sangat gelap.
Barulah sesudah peristiwa Oktober 1965 saya dan teman² saya dapat bernapas lebih lega dan mulai kelihatan terang untuk tahun-tahun kemudian. Di tahun 1966 ada seorang dari surat khabar yang bertanya, "Apakah sudah direhabilitasi?" Saya jawab "Siapakah yang harus merehabilitasikan siapa?! "

Presiden Republik Korea, Sygngman Rhee menyatakan bahwa Korea siap membantu PRRI dan Permesta di Indonesia dengan kekuatan Angkatan Darat, Laut dan Udaranya. Pers (terpimpin) Korea melancarkan berita² tentang kemungkinan Republik Rakyat Cina mengirim "Tentara Sukarelawan" ke Indonesia.
 
Presiden Republik Cina-Taipei (Taiwan) Chiang Kai Shek pernah merencanakan untuk mengirimkan 1 resimen marinir dan 1 skuadron pesawat tempur untuk merebut Morotai bersama² Permesta (PRRI), namun Menteri Luar Negeri Republik Cina (Taiwan) Yen Kung Chau menentang gagasan itu. Cina Daratan (RRC Komunis) dikhawatirkan akan ikut serta membantu Pemerintah Pusat di Jakarta dan memiliki alasan untuk mengintervensi Taiwan.
Taiwan telah mengirimkan bantuan berupa sejumlah perwira menengah untuk melatih pasukan Permesta, persenjataan dan dua squadron pesawat tempur ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner atau AUREV.
Bantuan Cina Taipei (Taiwan) kepada Permesta mengakibatkan pemerintah Indonesia mengambil tindakan terhadap WNI pro Kuomintang (WNI Keturunan Cina). Sekolah², surat² kabar dan beberapa perusahaan Cina ditertibkan. Tokoh² Cina yang pro Kuomintang ditahan, dicurigai mengadakan kegiatan subversif.
Bulan Agustus 1958, militer mengambil alih bisnis yang dipegang oleh penduduk WNI asal Taiwan.
Banyak perbekalan dan peralatan yang dibuat di Taiwan. Misalnya saja seragam berikut senapannya, dan perangko Permesta yang terdiri dari 50 sen, Rp 1,-, Rp 2,-, dan Rp 2,50 , dan juga ada granat Taipeh yang mirip botol kayu yang dilengkapi sumbuh yang diproduksi secara besar²an dan murah dilihat dari kualitasnya. Senjata semacam Bar Bren yang kemampuannya lebih dibandingkan Bren biasa, yaitu terletak pada untaian rantai pelurunya yang panjang. 
 
Ada pula senjata anti-tank yaitu Super Bazooka, juga senjata ringan jenis Thomson dan PM atau Parabuelem yang disebut juga pistol mitraliur. PM ini sekelas sten gun, tetapi keampuhannya karena magazinnya berisi sekitar empat puluh butir peluru, dan daya tembakan otomatisnya sangat cepat rentetannya, sehingga mampu menebas sebatang pohon. Senjata berat lainnya yang sangat dibanggakan, baik untuk penangkis udara maupun pemusnah jarak jauh, adalah senjata bernama recoilless-gun 75 mm yang juga disebut pom-pom.
Pemancar Radio Permesta diselamatkan sementara ke Tomohon, dan mendirikan pemancar darurat di desa Matani. Puluhan pria dari desa Kakaskasen Tomohon dikerahkan untuk mengangkut peralatan pemancar Radio Permesta di Sario Manado itu.
Sebagian peralatan Percetakan Negara Manado, yang digunakan untuk mencetak uang kertas Permesta juga sudah diungsikan ke Minahasa Selatan. Setelah dibawa ke desa Kanonang - Kec. Kawangkoan, kemudian diangkut lagi kedesa Tombasian Atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara. Pemancar Radio Permesta I juga kemudian dipindahkan ke desa Tombasian atas, lalu diteruskan ke lokasi perkebunan Kotamenara yang kelak di tempat itu berdiri desa Kotamenara, dan ditempatkan di sana sampai pergolakan Permesta berakhir. Kepala seksi pemberitaan Radio Permesta I ini adalah Freddy Ratag. Staf Pemerintahan Sipil Permesta yang dipimpin oleh Kolonel Joop Warouw sebagai Waperdam (Wakil Perdana Menteri) PRRI/Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi juga membangun markas di sini. Pemancar Radio Permesta II ditempatkan di Modoinding dengan memanfaatkan radio pemancar bekas milik kantor telegraf (TT) Manado.
 
Mutu cetak uang kertas Permesta dan juga mutu kertasnya agak rendah, kadang² dicetak pada kertas HVS bahkan pada kertas dinas bergaris. Uang kertas ini terdiri dari pecahan Rp 100, Rp 500,- dan Rp 1.000,- dan ditandatangani oleh Joop Warouw selaku Waperdam PRRI - Permesta. Uang kertas Rp.100,- nilainya masih dapat membayar ongkos makan dan minum kopi di warung, sedangkan uang kertas Rp.500,- masih cukup untuk membeli dua ekor ayam di pasar. Selain uang kertas cetakan Permesta, beredar juga secara sah uang lama RI yaitu uang kertas seri ZG pecahan seratus rupiah bergambar pahlawan Diponegoro yang dinamakan uang "ketek" atau keras. Uang seri ZG ini adalah uang yang dikuasai Permesta dari Bank Indonesia Cabang Manado, ketika terjadi pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat. Uang kertas seri ini dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah oleh pemerintah pusat.
 
Di Singapura, sebagai pangkalan lalu lintas orang² PRRI dan Permesta, telah ditawarkan oleh makelar² berupa sejumlah helikopter², kapal² pendarat, dan tank² pendarat kepada PRRI (dan Permesta).
Singapura sendiri, pada akhir bulan Maret 1958 terkesan bahwa banyak partisan PRRI (dan Permesta).
Permesta kemudian berhasil membeli pesawat pembom diantaranya 2 pesawat pembom jarak jauh B-29 berikut menyewa penerbang²nya dan mempergunakan pangkalan² udara Amerika Serikat Clark Airfield di dekat Manila - Filipina.
Penerbang² yang disewa itu terdiri antara lain anggota² pasukan Jenderal Claire Chenault dari pasukan Flying Tigers bekas penerbang² Perang Dunia II, dan penerbang² dari Taiwan.
Direktur CIA, Allan Dulles (saudara Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles), bersaksi di depan Senat Kongres Amerika, bahwa AS tidak "mencampuri urusan dalam negeri" Indonesia.
"Pos X", demikian nama pos informasi intelejen PRRI (dan Permesta), yang sebenarnya tidak banyak melebihi kualitas sebuah biro informasi. Kabar² yang diperoleh umumnya berasal dari orang² yang menyebut diri simpatisan PRRI-Permesta, yang sendirinya masih belum 100% dapat dipercaya. "Biro X" ini terdapat di Jakarta dan Singapura. Pusatnya berada di Singapura, dikepalai Jaksa E. Pohan yang masih aktif di perwakilan Ri di Singapura (KBRI).
3 Maret 1958 Hari ini diumumkan bahwa Letkol Saleh Lahede dipecat dari TNI, yang telah berlaku surut sejak tanggal 17 Februari 1958.
11-12 Maret 1958 Rapat rahasia Menlu negara SEATO (South East Asia Treaty Organization) di Manila diadakan dengan tokoh-tokoh PRRI. Dipertimbangkan untuk memberikan belligerent status (status negara yang sedang berperang) kepada PRRI, status demikian memungkinkan daerah² lain dapat memberikan bantuan terbuka kepada PRRI.
Menteri Luar Negeri Australia Robert Casey berpendirian lebih keras, menghendaki pesawat² Australia beroperasi di Indonesia, dan melakukan tindakan menghambat ekonomi Indonesia. Namun gagasan tersebut tidak disetujui Menteri Pertahanan Australia.
12 Maret 1958 Dalam merampungkan persiapan operasi di Sumatera menghadapi PRRI, Pangkalan Udara Tanjung Pinang dijadikan pangkalan induk pasukan APRI. Di pangkalan ini segala persiapan dilakukan untuk merebut Pekanbaru dan pangkalan udaranya. Menduduki pangkalan udara Pekanbaru menjadi prioritas utama APRI, sebelum memutuskan untuk menduduki Padang, Medan dan Palembang.
Persiapan telah rampung, tanggal 10 Maret diputuskan sebagai D-day. Namun rencana ini ditunda dan operasi diundur selama 48 jam. Khusus selama Operasi Tegas di Sumatera, semua pesawat B-25 tidak dimuati bom. Setidaknya empat B-25 dan enam P-51 mengudara pagi itu. Tugasnya adalah membersihkan daerah penerjunan (DZ) bagi satu Batalion PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan satu Kompi RPKAD dari tentara APRI.
Beberapa jam sebelumnya, pada pukul 01.30 dini hari, sebuah pesawat PBY-5A Catalina mendahului operasi subuh itu untuk memantau situasi sekaligus melaporkan keadaan cuaca di daerah operasi. Sekitar pukul 4, pesawat Catalina berputar² di atas Pangkalan Udara Simpang Tiga, Pekanbaru. Ada beberapa orang pasukan PRRI berkeliaran di sekitar landasan. Mereka tidak sedikitpun curiga ketika mendengar suara pesawat menderu² di kegelapan malam. Begitu juga dengan penerbang Catalina, tidak menyadari adanya kegiatan di bawah. Barulah ketika tiba² banyak lampu menyala, di sisi lain terlihat api² unggun dihidupkan, seperti isyarat. Ternyata saat bersamaan, orang² PRRI tengah menunggu pasokan senjata dari CIA.
Sesuai dengan flight plan, pukul 06.00 ditentukan semua pesawat sudah harus berada di atas Pangkalan Simpang Tiga. Kemudian sekonyong² pesawat P-51 disusul B-25 bergantian menghamburkan rentetan senapan mesin kaliber 12,7 ke pasukan PRRI yang tengah menunggu pasokan senjata dari CIA.
12 Maret 1958 Badan Pekerja Sinode GMIM dalam sidangnya mencetuskan sebuah seruan yang meminta agar kedua kubu (Permesta dan Pemerintah Pusat) segera meninggalkan dan menghentikan kekerasan dengan pemboman dan perang saudara antara 'kita dengan kita'.
Seruan ini disampaikan selaku Badan Pekerja Sinode GMIM yang memegang pimpinan atas 400.000 jiwa Kristen di Minahasa sampai daerah Gorontalo, Donggala, Palu dan Parigi. Dan ditandatangani oleh Ketua dan Panitera (Sekum) BPS GMIM masing² A.Z.R. Wenas dan P.W. Sambow.

Ds. A.Z.R. Wenas memangku jabatan Ketua Sinonde mulai tanggal 15 Mei 1956 bertepatan dengan terpilihnya Ds.M. Sondakh sebagai anggota DPR RI pada Pemilihan Umum, dan digantikan oleh Ds. R.M. Luntungan, namun juga R.M. Luntungan sudah menjadi Ketua GPI di Jakarta. Nanti pada tanggal 26 Mei 1957 dipilih dengan suara bulat selaku Ketua Sinode.
Bulan Agustus 1959 beliau ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI namun ditolaknya, juga oleh Sidang Sinode darurat tanggal 26-30 Oktober 1959
15 Maret 1958 Kolonel J.F. Warouw (Joop) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, hari ini diskors dari dinas militer TNI.
Dalam suatu pengakuannya, Mayor Daan E. Mogot mengakui bahwa dialah yang membujuk langsung Joop Warouw untuk bergabung dengan PRRI (gerakan Permesta).
16 Maret 1958 Empat hari setelah menduduki Pekanbaru, dua B-25 dengan penerbang Mayor Soetopo dan Kapten Sri Muljono serta sebuah P-51 yang diterbangkan Kapten Udara Rusmin Nurjadin dikerahkan ke Medan untuk menghadapi pasukan PRRI pimpinan Mayor Boyke Nainggolan. Peristiwa yang terkenal dengan "Peristiwa Nainggolan" itu dibungkam setelah serangan udara disusul penerjunan prajurit PGT, RPKAD, dan Batalion 332 Siliwangi. Sebagian lainnya melarikan diri ke Aceh dan Tapanuli.
17 Maret 1958 Letnan Satu Yus Tiendas (asal Sangir) dengan satu peleton pasukan Permesta berhasil merebut kembali kota Gorontalo dari tangan pasukan Nani Wartabone. Pasukan Nani Wartabone (dikenal sebagai Pasukan Rimba) kemudian masuk hutan.
31 Maret 1958 Pasukan TNI berhasil mendarat di daerah Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, dengan bantuan dari kompi TNI setempat dibawah Kapten Frans Karangan (asal Toraja) yang telah bergabung dengan TNI, dan pasukan Mobile Brigade (Mobrig, sekarang Brimob) setempat.
(Dikabarkan bahwa komandan batalyon Mayor Lukas J. Palar gugur dalam peristiwa ini)
Akhir Maret 1958 Menjelang akhir bulan Maret, dicapai persetujuan dengan gerombolan Jan Timbuleng (Pasukan Pembela Keadilan/PPK) untuk bekerja sama dengan Permesta di bawah naungan PRRI. Juga, turut bergabung gerombolan pemberontak lainnya, kurang lebih 300 orang dari satu kelompok (Sambar Njawa) yang dipimpin Daan Karamoy dan Len Karamoy (yang disebut terakhir ini adalah bekas istri Jan Timbuleng). Len Karamoy yang mempunyai nama baik sekali sebagai komadan pasukan, menawarkan diri untuk melatih sebuah laskar wanita untuk Permesta (PWP).
April 1958 OPERASI "DJAKARTA II" dilancarkan Permesta (PRRI) dibawah komando Panglima KDP II/Minahasa Letkol D.J. Somba.
Rencana ofensif secara bertahap terhadap ibukota RI Jakarta ini dibekali dengan persediaan senjata dan amunisi untuk satu divisi dan tenaga² prajurit yang cukup militan dalam latihan, serta air-cover (perlindungan udara) dari pesawat² AUREV.
Rencana Operasi Djakarta II itu adalah sebagai berikut:
a. merebut kembali daerah Palu/Donggala yang telah dikuasai Tentara pusat;
dari sana menyerang & menduduki Balikpapan dengan kekuatan 1 resimen RTP;
b. sasaran kedua adalah Bali;
c. sasaran ketiga adalah Pontianak;
d. sasaran terakhir adalah Jakarta.
Operasi ini bertujuan untuk menekan Pemerintah Pusat di Jakarta agar berunding dengan PRRI.

Perebutan kembali Parigi dan Toboli di Sulawesi Tengah oleh Overste D.J. Somba dengan membawa Bn.Q pimpinan (Mayor Lukas J. Palar) Mayor J. Lumingkewas, pasukan Daan Karamoy dengan beberapa ex KNIL yang membawa senjata recoillesss-gun 75 mm, basoka serta senjata berat lainnya, satu pasukan dari ex Pasukan Pembela Keadilan (PPK) - Brigade 999 yaitu sebanyak tiga batalyon (sebenarnya cuma berkekuatan beberapa kompi riil), antara lain dari Mayor Gerson (Goan) Sangkaeng dan Batalyon 2-nya, satu peleton pasukan RPKAD (21 orang) pimpinan Nicholas Sulu; dan Panglima KDP IV/Sulawesi Tengah Letkol J.W. (Dee) Gerungan. Semuanya berjumlah kira² 600 orang.

Sekitar 2/3 penduduk Poso masuk hutan karena takut pada pertikaian Pergolakan Permesta ini, dan kurang lebih 200 orang pemuda Poso dijadikan anggota pasukan PRRI (Permesta).
Pos² pasukan Permesta di daerah itu antara lain Poso, Tentena, Pendalo, Luwuk, Kolonedale, Parigi, Toboli, dan ada beberapa kota lainnya.
12 April 1958 Tiga pesawat pertama yang diperbantukan dalam pertahanan udara PRRI (dalam AUREV - Angkatan Udara Revolusioner) berupa pesawat B-26 Bomber diberangkatkan dari US Clarck Airfield di Filipina.

Kemudian AUREV PRRI (Permesta) menjatuhkan Slogan dan phamplet dari pesawat yang berisi pernyataan "maaf Bung Karno, kami tidak butuh Komunisme", yang dijatuhkan di daerah Manado, Tomohon, Gorontalo, dan Palu.
 
13 April 1958 Permesta yang tidak ingin diserang lebih dulu menyerang pada pertengahan bulan dengan pesawat² AUREV yaitu B-25 (pesawat Taiwan), pertama kali di Lapangan Mandai (sekarang Bandara Hasanuddin) Makassar pukul 5:35-5:51 pagi hari dibom oleh AUREV/Permesta.
Sebelumnya, pengeboman di LU Mandai Makassar sebenarnya akan menggunakan 2 pesawat pembom B-26. Namun pesawat yang satunya, yang dikendalikan oleh penerbang berkebangsaan AS jatuh setelah mengadakan take off dari LU Mapanget. Peristiwa ini mengakibatkan gugurnya 2 pilot AS, dan seorang serdadu telegrafis Permesta.
Menyusul Pelabuhan Donggala, Balikpapan, Ambon, Ternate, dan tempat lainnya menjadi target gempuran. Kapal perang TNI AL RI Hang Tuah ­ satu dari empat korvet yang dihibahkan Belanda yang sedang buang sauh di pelabuhan Balikpapan, dibom hingga kemudian tenggelam.

Lalu pengeboman dilakukan di Balikpapan (4 x yaitu 16 April, 22 April, 28 April dan 19 Mei), Ambon dengan lapangan udara Pattimura (7 x, mulai 27 April, 28 April, 1 Mei, 8 Mei, 15 Mei, 18 Mei), Ternate (5 x), Morotai (3x), Bitung, pelabuhan Palu-Donggala-Balikpapan (16 dan 20 April), Gorontalo, dll.

Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) PRRI dipimpinan oleh KSAU Comodore Muda (APREV) Petit Muharto Kartodirdjo, bekas Atase Militer AURI di Manila berpangkat Mayor AURI. Dan sebagai Wakil KSAU adalah Kapten AURI (Purn.) Hadi Sapandi, bekas komandan Squadron III - Pemburu di Cililitan (sekarang LU Halim Perdanakusumah) - Jakarta. Sebelum bergabungnya kedua orang etnis Jawa itu dengan PRRI, AUREV dipimpin oleh Z. Rambing yang menguasai Lapangan Udara Tasuka.
Markas AUREV terletak di sebuah rumah yang bernama "HUISE SABANG" di Jl. Sario Manado.
AUREV diperkuat oleh pesawat² pembom B-26, Mustang, B-26 B, B-29, dan beberapa pesawat pengangkut tipe C,/P-51, Catalina, Lochkeed, yang didatangkan dari luar negeri.
Lapangan Udara Mapanget diperkuat oleh "BAZOKA bolak-balik", Bar-bren, Panser-Wagen, Alertcraft, Dublelop (18 buah), 12.7, Watermantel dan senjata² berdiameter 20mm. Pesawat² pengangkut tipe C diserahkan kepada penerbang Taiwan yang berpangkalan di Lapangan Udara Tasuka (Kalawiran).
13 April 1958 Kepala Staf Angkatan Perang PRRI Alex Kawilarang (yang pada hari tiba di/dari Manila), Wakil Perdana Menteri PRRI Kolonel Joop Warouw bersama Menteri Perekonomian PRRI, tiba di Manado. Untuk menyambut kedatangan mereka diadakan pertemuan di gedung bioskop Tomohon dengan tokoh² politik dan masyarakat, pimpinan pemerintahan sipil dan militer, polisi, gerakan pemuda dan mahasiswa serta para cendikiawan. Dalam pertemuan itu berturut² berbicara: Panglima Ventje Sumual, Panglima Alex Kawilarang dan Waperdam Joop Warouw sebagai pembicara terakhir.
Luapan pernyataan dukungan masyarakat terhadap ketiga tokoh itu luar biasa gemuruhnya. Ucapan selamat disertai pekik: "Hidup PRRI! Hidup Permesta!" bergema di sekitar gedung bioskop tersebut yang penuh sesak oleh masyarakat yang menonton.
Koran² Manado pada tanggal 14 April mencetak perintah harian yang dikeluarkan atas nama Alex Kawilarang sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang PRRI, yang minta dukungan dari para pegawai negeri dan rakyat untuk berjuang melawan "mis management dan penjalahgunaan kekuasaan" pusat Jakarta.
15 April 1958 Letkol dr. Oscar E. Engelen, Ketua IPRI-Indonesia Timur, dan Kapten Bing Latumahina, Sekretaris IPRI-InTim, yang adalah perwira militer pro-Permesta yang paling penting yang masih berada di Makassar, hari ini dipecat dari TNI dan ditahan rumah sejak kira² tanggal 6 Mei.
Letkol dr. Engelen dan Kapten Bing Latumahina dikatakan telah mengadakan campur tangan dalam urusan Sersan Mayor Pangkey, yang mendaulat komandan artileri kompinya yang anti-Permesta itu dan mengarahkan enam buah meriamnya ke arah kota Makassar; mereka meyakinkan Serma Pangkey, jika tembakan dilepaskan maka bencana akan terjadi. Serma Pangkey ditangkap pada waktu bersamaan dengan Letkol dr Engelen dan Kapten Bing Latumahina ditangkap.
Setelah ditahan, tahun 1961, dr O.E.Engelen menjadi dokter pada PN Nupiksa Yasa Jakarta, dan pada tahun 1972-1987 menjadi Rektor Universitas Kristen Djaya (UKRIDA). Pada tanggal 2 Maret 1995, ia mendapat rehabilitasi oleh Presiden RI Soeharto akibat keterlibatannya dalam Permesta dan mendapat hak pensiun sesuai dengan SK No.14/ABRI/1995.
16 April 1958 Kota Balikpapan mulai diserang pesawat AUREV Permesta, dimana terjadi pengeboman dan penembakan atas obyek² di lapangan udara yang menyebabkan sebuah pesawat terbang milik BPM mengalami kerusakan dan beberapa bangunan mengalami rusak berat.
Tanggal 22 April, Balikpapan juga diserang dua pesawat pemburu AUREV Permesta. Selanjutnya, Balikpapan juga diserang tanggal 28 April dan 19 Mei.
17 April 1958 Pagi itu, pukul 04.00, empat pembom B-25 berangkat dari Lanud Palembang menuju Lanud Pekanbaru. Hari itu juga terus dilakukan penerbangan² formasi bersama pesawat P-51 yang disusun secara bergelombang dalam bentuk dua flights. Red Flight dan Blue Flight. Flight pertama bertugas melindungi pendaratan KKO di pantai Sumatera Barat dari kapal laut ALRI. Sementara Blue Flight melindungi penerjunan PGT dan RPKAD di Lanud Tabing. PGT dan RPKAD kemudian mulai diterjunkan dari beberapa pesawat Dakota. Sebagian pasukan PRRI yang melihat pasukan payung mulai berebutan turun, memilih lari masuk hutan. Dengan cepat landasan Tabing dibersihkan dari ranjau dan paku yang sengaja ditebarkan PRRI.
Akhirnya perlawanan PRRI dapat dihentikan dan hari itu juga Padang dapat diduduki APRI,
namun sebuah B-25 nomor M-464 yang diterbangkan Pedet Soedarman tertembus dihantam peluru musuh.
Esoknya, sekitar pukul 11.30, pesawat B-25 yang diterbangkan Kapten Sri Muljono segera mendarat di Lanud Tabing dengan selamat.
29 April 1958 OPERASI "DJAKARTA I" dilancarkan Permesta (PRRI) terhadap kedudukan pasukan Tentara Pusat di Morotai. Operasi ini dikomandoi oleh Panglima KDP I/Maluku Utara yang baru (menggantikan Mayor Abdul Kadir) yaitu Mayor Nun Pantouw dan wakilnya Letnan Jonkhy Robert Kumontoy dengan bantuan air-cover dari AUREV.
Morotai diserang oleh pesawat² terbang Permesta sebanyak 3 kali (dan terakhir kalinya diserang tanggal 28/29 April), disusul pendaratan dengan kapal² perang asing (2 buah) dan kapal pengangkut (2 buah) yang mengangkut satu batalyon Permesta dibawah pimpinan Mayor Nun Pantouw.
Dari pulau kecil ini Nun Pantouw menggeser pasukannya menyeberang ke Pulau Halmahera hingga menduduki Jailolo yang berada di bagian tengah Halmahera.

Melihat perkembangan ini, Pangdam XV/Pattimura Kolonel Herman Piters segera mengadakan rapat khusus dengan seluruh staf inti Kodam. Dari Jakarta muncul permintaan laporan situasi terakhir dari KSAD Jenderal Mayor A.H. Nasution, KSAL Laksamana Subyakto dan KSAU Laksamana Suryadi Suryadarma. Laporan yang sama juga diberikan ke istana atas permintaan Bung Karno.
Mei 1958 Dukungan Presiden Filipina Gracia dan Menteri Pertahanan Filipina Vargas untuk PRRI (dan Permesta). Hal ini dikecam keras oleh Duta Besar Filipina di Jakarta, Jose Fuentabella. Begitu juga surat² kabar Filipina, menuduh Menteri Luar Negeri Serano sebagai alat Amerika Serikat. Dalam menghadapi masalah pergolakan di Indonesia, Filipina dianggap terlalu banyak dikendalikan kedutaan Amerika Serikat di Manila.
Filipina juga telah mengirimkan bantuan berupa persenjataan dan 2 squadron pesawat tempur - yang dibeli Permesta (PRRI di Sulawesi Utara) dengan cara barter - ke Minahasa untuk Angkatan Udara Revolusioner PRRI (AUREV).
Pada pertengahan bulan ini, pemerintah Amerika Serikat mengubah kebijakan politik terhadap Indonesia, namun pemerintah Filipina tidak diberitahu, sehingga Menteri Luar Negeri Serano menyesalkan sikap Amerika Serikat ini.

Dalam upaya dukungan pemerintah Filipina tersebut, tercatat nama wartawan Ninoy Aquino, tokoh pers yang terkemuka, ikut dalam operasi tersebut sebagai reporter/wartawan. Dalam sebuah pengakuannya, Ninoy Aquino menyatakan sikap pemerintah Filipina dan juga Amerika Serikat yang menerlantarkan serta meninggalkannya dalam hutan² di Minahasa setelah pemerintah AS menarik diri segala operasinya di Indonesia akibat jatuhnya pesawat yang dikendalikan pilot Allan Lawrence Pope, seorang anggota CIA, yang membongkar keterlibatan pemerintah AS dalam masalah dalam negeri Indonesia (kelak istrinya akan menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada dekade tahun 80-an dan tampil sebagai Presiden negara itu.)
4 Mei 1958 Bukittinggi sebagai ibukota PRRI diduduki oleh pasukan APRI.
5 Mei 1958 Pesawat² tempur AURI membom posisi² pasukan PRRI (Permesta) di pulau Jailolo.
6 Mei 1958 Kolonel J.F. Warouw (alias Joop Warouw) sebagai Atase Militer RI di Peking (Beijing) Cina, setelah diskors dari dinas TNI, hari ini secara resmi dipecat dari TNI.
8 Mei 1958 Kota Parigi berhasil dikuasai pasukan Overste D.J. Somba dan 1 batalyonnya, yang menggunakan 4 buah kapal pengangkut (dua diantaranya berbendera asing/Belanda) dilindungi oleh 2 pesawat Permesta (B-26 dan Mustang). Dalam waktu beberapa hari, Permesta juga berhasil menguasai Toboli dan Kebon Kopi. Ikut juga dalam operasi tersebut yaitu Mayor J.W. Gerungan (Dee Gerungan) dan Mayor Lukas Palar.
Hari ini, di Teluk Ambon, Kapal "Sonny" dihujani bom dari pesawat Bomber B-26 AUREV namun tidak kena.
9 Mei 1958 Sejumlah pendukung Permesta di Makassar yang berani menyatakan pendapat ditangkap dan dipenjarakan hari ini.
10 Mei 1958 Empat buah Kapal Permesta yang digunakan untuk pendaratan di Parigi berhasil ditenggelamkan oleh pesawat² AURI. (Komandan batalyon Mayor Lukas Palar bersama pasukan pengawalnya gugur di perairan Poso, ketika sedang menyeberangi teluk dengan motorboat, disergap dan ditenggelamkan pesawat tempur AURI) Setelah itu pasukan Palar terpencar²; sebagian mengikuti Dee Gerungan masuk hutan Sulutteng, dan sebagian lagi menggabungkan diri dengan satuan² Resimen Ular Hitam.
10 (16) Mei 1958 Terjadi pengiriman senjata secara besar²an ke Sulawesi Utara melalui laut - pada peti² kayu dengan jelas terlihat tanda Angkatan Laut Amerika Serikat (US Naval). Kebanyakan muatan pertama kapal dikatakan terdiri dari senjata ringan dan hal ini menimbulkan beberapa persoalan karena para veteran KNIL yang bertanggung jawab melatih sukarelawan² muda Permesta kebanyakan ahli di bidang artileri berat. Pengiriman senjata pertama itu diterima pada Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus (Isa Al-Masih) yang jatuh pada hari ini. (Menurut perhitungan Dr. Barbara Sillars Harvey, Ph.D., Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus ini jatuh pada tanggal 16 Mei)
14 Mei 1958 Kekhawatiran pasukan "tentara pusat" bahwa pesawat B-29 akan dikerahkan Permesta dan CIA, bahwa kemungkinan akan terjadi dog fight. Untuk itulah, sembilan pesawat tempur yang terdiri dari empat B-25 (strafer dan bomber) serta lima P-51 digerakkan ke Indonesia Timur untuk menggelar operasi merebut keunggulan di udara pada tanggal 14 Mei 1958.
Target telah ditentukan: Pangkalan Udara Mapanget.
Secara keseluruhan, Mayor Udara Leo Wattimena ditunjuk sebagai flight leader dan Sri Muljono khusus leader pembom ­ Letnan Udara I Pedet Soedarman, Kapten Udara Suwondo, dan Letnan Udara I Suwoto Sukendar.

Seperti juga di Sumatera, demi keamanan keberangkatan dilakukan dari pangkalan yang berbeda. Dari Pangkalan Laha sebuah B-25 (Suwoto Sukendar) diberangkatkan dengan kawalan dua P-51. Lalu dari Liang dua B-25 (Sri Muljono dan Pedet Soedarman), dikawal sebuah P-51. Dan terakhir dari Amahai sebuah B-25 (Suwondo) disertai dua P-51.
Tepat pukul 04.00 subuh, mereka rendezvous di atas Pulau Manggole. Dari titik pertemuan, secara formasi mereka akan menuju pantai timur Manado.
Rencana operasinya: Sortie pertama, semua pesawat secara bersamaan akan menggempur dua target, Mapanget dan Tasuka. Teknisnya, setelah semua pesawat mendekati pantai Manado, kedua flight akan memecah menuju target masing². Jika gelombang pertama sukses, semua pesawat harus segera kembali ke pangkalan semula untuk reloading. Selanjutnya bergegas menuju Morotai dan Jailolo dengan tugas serupa. Sebaliknya jika serangan pertama gagal, dalam arti tidak berhasil menghancurkan setidaknya setengah dari jumlah pesawat AUREV, diperintahkan untuk menjauhi Morotai dan Jailolo dan menghindari kejaran pesawat AUREV.
Dalam situasi seperti itu, penerbang harus terbang menjauh dan terbang menuju pangkalan lain untuk menyiapkan diri dan kembali berkumpul di tempat semula malam harinya. Barulah besoknya mereka akan kembali terbang menyerang Morotai.
Dalam briefing juga disepakati "Plan B". "Kalau tertembak, usahakan loncat di laut yang persis di depan Kota Manado, karena di situ sudah stand by pasukan intel yang siap sewaktu² untuk menolong.
Setiap pembom diawaki oleh lima crew (pilot, co-pilot, bombardier, montir, dan radio telegrafis/gunner).
15 Mei 1958 Upaya Kedutaan Besar Amerika Serikat pada hari ini agar diadakan gencatan senjata antara pemberontak dengan pemerintah ditolak oleh PM Ir. Djuanda dan Presiden Ir. Soekarno dengan mengeluarkan pengumuman resmi, perundingan hanya akan dipertimbangkan setelah kaum pemberontak menyerah dengan tidak bersyarat dan Kementrian Penerangan menyatakan politik pemerintah adalah menumpas kaum pemberontak, tidak berunding dengan mereka.
15 Mei 1958 Pesawat² AUREV/Permesta yang terakhir berupa B-26, P-51, Catalina, Lochkeed dihancurkan AURI di Lapangan Udara Mapanget di Manado.
Dalam operasi itu, tiga pesawat B-25 plus tiga P-51 milik AURI menuju ke arah Mapanget, dan sebuah pesawat B-25 (Suwondo) dikawal dua pesawat P-51 membom pangkalan udara Tasuka.
Serangan B-25 dan P-51 secara bergantian telah melumpuhkan setengah dari kekuatan AUREV yang diperkirakan diperkuat delapan pesawat ­ P-51, B-26, Catalina, dan DC-3. Begitu juga di Tasuka, Suwondo menghancurkan landasan dengan baik.
Serangan mendadak itu tidak hanya menghancurkan pesawat diparkir di apron tapi juga tanki bahan bakar AUREV. Akibatnya dalam beberapa jam setelah serangan itu asap hitam membumbung ke angkasa pertanda terjadi kebakaran hebat, dan tidak ada lagi pesawat AUREV yang selamat serta landasan Mapanget dipenuhi lubang.
 
Pada Hari Doa Sedunia (hari ini?), 2 pesawat pembom AURI menghancurkan 4 buah pesawat pembom B-26 yang diawaki orang Taiwan (?) yang belum sempat tinggal landas di Lapangan Kalawiran - Kakas pada sore hari, sementara itu 4 pesawat Mustang AURI lainnya melancarkan tembakan mitraliurnya di tempat² yang dicurigai menjadi sarana² vital Permesta.

Peristiwa ini membuat umat Kristen Oikoumene yang sedang mengadakan Ibadah Hari Doa Sedunia di Lapangan GMIM Pinaesaan Langowan dalam posisi tiarap.
 
 Saat itu, J.Harry Rantung (kopral AURI di pangkalan Morotai yang kemudian bergabung dengan Permesta) dan Allan Laurence Pope (pilot berkebangsaan Amerika Serikat) dengan pesawat Pembom B-26 Invander lepas landas dari lapangan udara Mapanget dengan pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan oleh seorang pilot berkebangsaan AS yang bernama Connie Seigrist. Sasaran utamanya adalah Ambon.
Pesawat B-26 Invander yang diawaki Allan L. Pope ini menghancurkan PBY Catalina, yang berlokasi di Liang. Dalam peristiwa itu hampir menewaskan Kolonel AURI Sunardi dan Marsekal AURI Alamsyah (Deputi KSAU-AURI Ashadi Tjahyadi). Saat itu pesawat P-51 Mustang yang diterbangkan Letnan Udara I Nayarana Soesilo ditembak jatuh oleh senjata Penangkis Serangan Udara Permesta yang masih tersisa di sekitar landasan udara Morotai dalam operasi udara yang dipimpin Mayor Leo Wattimena.
Penerbang lainnya yang pesawatnya kena tembak adalah Letnan Udara I Loely Wardiman. Tidak seperti Nayarana, Loely masih sempat melompat sebelum pesawatnya jatuh ke laut. Loely diselamatkan oleh pasukan Magenda yang sudah menguasai pulau² di depan Kota Manado. Pesawat Pedet juga tertembak dalam second running dan bolong di beberapa tempat.
Dalam waktu 12 jam saja, Lapangan Udara Mapanget dan Kalawiran sudah memperoleh pesawat² pengganti, malah memperoleh tambahan beberapa buah lagi (menurut buku Dolf Runturambi).
16 Mei 1958 Pendaratan rahasia oleh pasukan APRI di pantai Wori dekat Manado, oleh satu peleton RPKAD pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI (yang kelak menjadi Panglima ABRI), dan satu peleton RPKAD pimpinan Letnan Soewono.
Tujuan dari pendaratan dan penyerbuan saat itu adalah lapangan udara Mapanget. Pertempuran di lapangan Mapanget menewaskan dua orang RPKAD yaitu Miskan, prajurit asal Madiun dan Sersan Mayor Tugiman, mantan anggota KNIL. Tugiman konon salah menduga bunyi tembakan Bar Bren Pasukan Permesta sebagai bunyi tembakan senjata jenis Bren biasa. Setelah menghitung jumlah tembakan otomatis senjata itu sesuai kapasitas peluru dalam magazin, ia mengira tembakan akan berhenti. Ia lalu melakukan gerakan maju sambil koprol. Padahal senjata yang digunakan Permesta adalah jenis Bar Bren yang pelurunya bersistem rantai. Ia gugur karena salah perhitungan.
Jenasah anggota pasukan RPKAD tersebut dimakamkan oleh Permesta secara militer. Sepuluh hari lamanya gerak pasukan pusat tersebut yang kemudian tertahan di sekitar Gunung Potong.
Saat pasukan pusat menduduki lapangan Mapanget itu kelak, diberi nama Lapangan Tugiman sementara waktu, untuk mengenang prajurit yang gugur tersebut.
18 Mei 1958 allan lawrence pope Allan Lawrence POPE, pilot sewaan/serdadu bayaran (soldier of fortune) Permesta (digaji sebesar USS 10.000,-) berkewarganegaraan AS dan merupakan anggota CIA, dengan disertai co-pilotnya, J.Harry Rantung yang berada di pesawat Pembom B-26, jatuh di Pulau Tiga Teluk Ambon oleh AURI dan ALRI.
Saat itu mereka serta sebuah P-51 Mustang yang dibawa oleh Connie Seigrist (seorang pilot Amerika juga), sedang menjalankan aksi membom kota Ambon yang menewaskan 6 warga sipil dan 17 tentara tewas.
Saat itu satu armada yang didukung oleh beberapa kapal perang, kapal pengangkut, dan penyapu ranjau, yang dipimpin oleh Letkol Herman Piters, komandan "Operasi Mena I", bergerak dari Pelabuhan Halong, Ambon, menuju Morotai untuk mendudukinya kembali dari pasukan pimpinan Mayor Permesta Nun Pantouw.
Pengakuan Harry Rantung mengenai peristiwa itu adalah sbb:

Pagi hari itu sekitar pukul 06.00-07.00 di pelabuhan Ambon, penangkis udara menyambut kedatangan B-26 tersebut. Allan Pope yang punya pengalaman tempur sejak dari Perang Korea, santai saja menuju sasaran. Sebuah bom dijatuhkan di lapangan terbang. Tembakan senapan mesin diarahkan ke kubu² pertahanan yang tersebar di sekitar lapangan terbang dan pinggiran Kota Ambon. Pertempuran jadi ramai. Pope tanpa ampun menghantam obyek² militer.
Harry Rantung, sebagai operator radio melapor ke Manado tentang operasi yang sedang berlangsung di Ambon. B-26 yang digunakan AS pada PD II itu masih lincah. Ketika pesawat berada pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, Pope berkata bahwa di bawahnya ada satu konvoi kapal dan langsung dilaporkan ke Manado. Dari Manado kemudian menginstruksikan untuk diteliti. Atas instruksi Manado itu, Pope turun sampai pada ketinggian sekitar 4.000 kaki, dan terlihat bahwa titik² itu adalah konvoi armada yang sedang melaju dalam kecepatan tinggi menuju utara. Pope melaporkan lagi ke Manado bahwa yang mereka lihat adalah satu konvoi armada kapal perang dan pengangkut RI. Untuk itu dia minta instruksi Manado. Hanya dalam waktu tidak cukup satu menit, datang instruksi dari Manado yang meminta agar armada yang sedang bergerak ke arah utara itu diserang.
Tanpa banyak komentar, Pope turun pada ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Allan Pope dengan pengalaman tempur yang cukup, langsung menukik dan menjatuhkan bom. Sasarannya Sawega. Namun meleset hanya beberapa meter dari buritan kapal. Berbarengan dengan jatuhnya bom, datang rentetan tembakan pengangkis udara dari kapal² perang yang mengawal Sawega. Saat itu saya melapor ke Manado bahwa pertempuran sudah berkobar. "Kami sudah menyerang dengan bom, tetapi sayang meleset," lapor Harry ke Manado.
Sesudah menghamburkan peluru maut dari mulut pesawat ke atas geladak kapal, Pope berputar naik keatas. Saat itu mereka merasa ada goncangan keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar, segera lapor Manado," kata Allan Pope. Api berkobar di bagian ekor pesawat. Manado sudah menerima laporan tentang tertembaknya B-26 itu dan menginstruksikan agar mereka berusaha untuk terbang ke arah Irian Barat. Dengan segala keahliannya, Pope berusaha mengendalikan B-26. Pope berusaha untuk berputar dan naik. Tetapi tidak bisa. Kobaran api semakin menjadi. Menghadapi situasi yang sangat gawat, Pope memerintahkan saya untuk terjun. Mereka jatuh di sebuah pulau kecil. Paha Pope robek.
Dari pinggangnya Pope mencabut pistol dan menyerahkan kepada saya. Kemudian dia membuka mulut, maksudnya agar Harry tembak. "No no", tolak Harry. Beberapa saat kemudian dua buah perahu karet merapat. Satu regu Marinir langsung mengepung. Pope dan Harry dibawa ke atas perahu karet. Dalam pemeriksaan awal, saya mengaku bernama Pedro, berkewarganegaraan Filipina. Akan tetapi saya tidak bisa menyembunyikan samaran. Soalnya di atas Sawega kebetulan ada seorang sersan AURI satu angkatan dengan saya di Morotai."

Dokumen di tangan Pope disita. Namun sebuah dompet yang berisi uang dan selembar foto istrinya dikembalikan. Dokumen itu berisi informasi yang fatal bagi perkembangan PRRI dan Permesta selanjutnya, karena Allan Pope sengaja membawa dokumen rahasia CIA. Dari dokumen yang ada diketahui bahwa Pope adalah seorang penerbang CAT (Civil Air Transport) dari Taiwan, dan punya kode 11 (sebelas) sebagai tentara sewaan yang digerakan CIA (Central Intelligence Agency) untuk mengacau Pasifik.
Kejadian ini membuat heboh dunia dan hal ini antara lain yang menyebabkan pihak AS/CIA menarik diri dari operasi ini karena desakan agar tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara.
 
Perubahan kebijakan Amerika Serikat tidak terlepas dari upaya keras dan pendekatan² yang dilakukan Duta Besar Amerika Serikat Howard Jones dan Atase Militer Kolonel George Benson di Jakarta, meyakinkan State Departement AS dan Pentagon. Mereka berhasil meyakinkan Washington bahwa satu²nya kekuatan masa depan yang bisa diandalkan melawan komunis di Indonesia justru berada ditangan para perwira di pemerintah Pusat.
Hal ini membuat para pemimpin Permesta marah terhadap AS karena, pihak AS hanya mengutamakan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kemitraannya terhadap gerakan Permesta yang se-'ideologi' (anti-komunis) dengannya.
18 Mei 1958 Letkol Andi M. Jusuf kembali ke Makassar setelah bertemu dengan Letjen A.H. Nasution dan juga dengan Presiden Soekarno, diberi wewenang untuk memangku komando KDM-SST dan diperintahkan untuk menangkap Letkol M. Saleh Lahede yang sebelumnya ditolak oleh Letkol Andi Mattalatta selaku Panglima KDM-SST.
19 Mei 1958 Gubernur Sulawesi Andi Pangerang sebagai ketua penguasa Perang Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara mengumumkan pelarangan apa yang dinamakan "Pemerintah Revolusioner" Republik Indonesia (PRRI) dan "pembekuan" organisasi Permesta, termasuk semua cabang dan rantingnya.
20 Mei 1958 Morotai jatuh kembali ke tangan APRI (sekarang TNI) dalam operasi khusus AURI "Nunusaku" dibawah pimpinan Letkol Huhnholz dari Angkatan Laut.
Di Pulau Halmahera, Operasi Mena I (Mena berarti menang) di bawah pimpinan Kapten Suptandar berhasil merebut kembali Jailolo dari tangan Permesta (PRRI di Indonesia Timur). Jailolo merupakan kota cukup strategis di Halmahera dengan lapangan terbangnya yang pernah digunakan oleh Jepang pada PD II. Operasi tidak berjalan mulus. Medan terlalu berat hingga hampir tidak ada samasekali hubungan darat.

Letnan Thom Nusi, mantan Komandan Baret Merat RMS (Republik Maluku Selatan) yang memimpin satu kompi Pattimura Muda terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasukan Permesta yang bertahan di atas bukit² kecil di pinggiran timur laut Jailolo. Walau pasukan Permesta dapat dipukul mundur hingga lari ke pedalaman Halmahera, beberapa orang anggota Nusi terluka. Karena medan sangat berat Kapten Suptandar, Komandan Operasi Mena I akhirnya naik kapal Bekaka ukuran 100 ton untuk bertolak menuju Desa Ibu yang terletak di pesisir barat Halmahera Tengah. Maksud Suptandar akan mengadakan gempuran dengan memotong dari pantai Desa Ibu. Perhitungannya dari Ibu untuk menjangkau pedalaman Halmahera lebih mudah. Akan tetapi pasukan bergerak ke arah pedalaman, hingga pasukan Suptandar mendapat perlawanan keras. Dua orang komandan peleton melapor bahwa medan sangat berat.

Menghadapi medan yang sangat berat itu, Kapten Suptandar beserta beberapa orang staf dengan kapal Bekaka menuju Morotai yang telah diduduki. Tiba di Morotai, mereka langsung menuju markas AURI. Di lapangan berjejer beberapa buah pesawat tempur P-51 Mustang (cocor merah) dan pembom PBY-5A Catalina.
Beberapa hari kemudian, Radio Australia yang cukup populer di Maluku menyiarkan berita tentang munculnya Mayor Nun Pantouw dan pasukannya di Irian Barat yang waktu itu masih dijajah Belanda. Penduduk Desa Kao (Teluk Kao) dan Desa Maba di pesisir timur Pulau Halmahera sebagai saksi mata mengatakan, pasukan Permesta turun dari hutan Halmahera tengah menuju Teluk Kao. Dengan perahu² kecil mereka menyeberangi Teluk Kao, untuk selanjutnya memotong gunung tiba di Desa Maba. Dari Maba dengan menggunakan perahu menyeberang ke Irian Barat.
Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles hari ini mengadakan konferensi pers mengenai masalah Indonesia.
Sejumlah tokoh² Permesta di Sulawesi Selatan hari ini ditangkap oleh Pemerintah Pusat.
Mereka diantaranya Letkol M. Saleh Lahede (Kastaf TT-VII/Wirabuana), Mochtar Lintang, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat, Kapten W.G.J. Kaligis, Letkol dr.Oscar E. Engelen (Ketua Ikatan Perwira RI - Indonesia Timur), Kapten Bing Latumahina.
Setelah melewati proses pemeriksaan, mereka dipenjarakan di Madiun dan Jakarta. Sejumlah perwira lainnya juga dikeluarkan dari dinas militer.
22 Mei 1958 Hari ini, kota Gorontalo dilepaskan pasukan Permesta dari pasukan Bn. S dibawah komando Mayor Wim Sigar ke tangan tentara TNI. Saat itu, Pasukan Rimba dari Nani Wartabone dengan bantuan air-cover dari AURI, berhasil menghalau pasukan PRRI (Permesta) yang harus mundur dan mengadakan pertahanan di luar kota Gorontalo. Pemerintah AS terpaksa menyetujui bantuan senjata dan ekonomi kepada Indonesia setelah bantuan operasi kepada Permesta (PRRI di Sulawesi) ditarik akibat peristiwa jatuhnya pesawat yang dikemudikan Allan L.Pope.
Salah satu alasannya adalah, bahwa di tubuh TNI di pusat, masih banyak perwiranya yang anti-komunis yang dapat diajak kerja sama.
23 Mei 1958 Daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sangir dan Morotai secara praktis sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dikuasai oleh Pasukan Permesta - serta jatuh ke tangan Pemerintah Pusat di Jakarta.
23-27 Mei 1958 Kota Parigi, Toboli dan Kebon Kopi dikuasai kembali oleh pasukan gabungan APRI dari Divisi Brawijaya, Kapten Frans Karangan (ia dan batalyon kecilnya membelot di Poso), kesatuan Polisi dibawah pimpinan Inspektur Polisi Suaeb, dengan bantuan pesawat² terbang AURI.
Operasi ini menewaskan 30 orang pasukan Permesta, dan 14 orang pasukan Permesta berhasil ditawan.
Tanggal 23 dan 27 Mei di daerah Situjuh dan Suliki terjadi teror terhadap kedua daerah tersebut, dimana terjadinya pembunuhan (pembantaian) massal oleh anggota pasukan ADREV PRRI (Permesta).
 
Karena pasukan ADREV PRRI (Permesta) sudah tidak lagi mendapatkan bantuan air-cover dari AUREV, maka operasi/ekspedisi untuk menguasai Sulawesi Tengah, Balikpapan, kemudian menyeberang ke pulau Jawa, terpaksa dibatalkan, dan dinyatakan gagal oleh Letkol D.J. Somba. Ia dan pasukannya kemudian mengadakan perjalanan long march kembali ke Minahasa selama dua bulan, dengan membagi dua pasukan yaitu satu menggunakan perahu (di Buol) dan lainnya berjalan kaki. Tiba di pelabuhan kecil Kwandang (sebelah utara Kabupaten Gorontalo), sebagian pasukannya naik perahu menuju Minahasa, serta sebagian lagi tetap melanjutkan perjalanan darat melewati Atinggola-Boroko di Bolmong. Setelah mereka berada di daerah Sumalata-Bolmong, mereka dijemput dengan truk oleh pasukan Resimen (RTP) Ular Hitam pimpinan Mayor Dolf Runturambi (pada bulan Juli 1958), dan baru tiba bulan Juli saat Minahasa Utara telah dikuasai Tentara Pusat.
27 Mei 1958 Peristiwa tertembaknya pesawat yang dikemudikan Allan Lawrence Pope hari ini diumumkan Pemerintah Pusat kepada pihak publik.
Alasan diumumkan kepada publik baru pada haru ini yaitu dengan maksud untuk tetap menjaga kerahasiaan operasi di Morotai yang masih dalam tahap penuntasan.
Bersama² dengan Letkol Saleh Lahede, juga yang ditangkap hari ini adalah Mochtar Lintang, dan 3 orang sekutunya yang turut dalam perundingan dengan Kahar Muzakkhar yaitu Kapten W.G.J. Kaligis yang bekerja di Sekretariat Team bantuan Pemerintah Militer dan erat hubungannya dengan Letkol Ventje Sumual; Kapten Anwar Bey, anggota Korps kerohanian KADIT, dan Naziruddin Rachmat dari Inspektorat Pendidikan Agama (yang dipimpin Mochtar Lintang).
Saleh Lahede dan Mochtar Lintang (keduanya termasuk dalam kabinet menteri PRRI) ditahan di Makassar hingga November 1958, lalu mereka mula² dikirim ke Denpasar dan kemudian ke Madiun tempat mereka ditahan hingga 1962. Ketiga orang yang ditangkap bersama² dengan mereka itu (Kaligis, Anwar Bey, Naziruddin Rachmat), dr. Engelen, Bing Latumahina dan Sersan Mayor Pangkey pada tanggal 29 Mei dikirim ke Jakarta dan ditahan di sana dan di Madiun hingga tahun 1962.
Jadi dalam sepekan, 15-23 Mei 1958, Permesta sudah tidak punya harapan lagi mendapat dukungan dari Sulawesi Selatan.
Juni 1958 Menjelang bulan Juni 1958, kekuatan bersenjata Permesta seluruhnya ditaksir lebih dari 15.000 orang.
8 Juni 1958 Kota Manado mulai ditembaki oleh ALRI; dan AURI ikut serta menyerang Pelabuhan Udara Mapanget di Manado, Tondano, dan Tomohon pada tanggal 11 dan 13 Juni.
13 Juni 1958 Pasukan² pemerintah, yang dirintis oleh RPKAD dan KKO, hari ini mulai mendarat di sebelah utara kota Manado.
 
Pendaratan pertama kali pasukan APRI secara besar²an di pantai Kema Minahasa dalam Komando Operasi Merdeka dibawah pimpinan Letkol Inf. Roekmito Hendraningrat dengan sekitar 4.000 orang prajuritnya. Pertempuran membendung Tentara Pusat ini dipimpin langsung oleh Kolonel Permesta Ventje Sumual selaku Komandan Angkatan Darat Revolusioner (ADREV) PRRI, setelah ia kembali dari operasi pembebasan pangkalan udara Morotai di Halmahera.
Overste D.J. Somba waktu itu masih dalam perjalanan long march dari Sulawesi Tengah bersama pasukannya, setelah menarik diri dari kawasan itu.

Kapten Bert Supit diangkat pemerintah pusat sebagai bupati/Kepala Daerah Minahasa (KDM) (menggantikan Laurens F. Saerang yang bergabung dengan Permesta) sampai tanggal 23 September 1958 karena menyatakan berhenti dan digantikan E. Alfianus (Nus) Kandou.
21 Juni 1958 Tanggal 21 dan 24 Juni dilakukan pendaratan pasukan APRI dari pantai Wori di Teluk Manado (sebelah utara Manado) dengan kapal perang jenis korvet, dibawah tembakan KRI "Rajawali" dibawah pimpinan Mayor (Overste?) John LIE dan beberapa peleton RPKAD dibawah pimpinan Letnan I Leonardus Benyamin (Benny) MOERDANI serta Komandan B.T.P. KKO Mayor Tukiran.
Waperdam PRRI Joop Warouw kemudian memerintahkan agar orang mengungsi keluar dari kota Manado.
24 Juni 1958 Kota Airmadidi hari ini jatuh ke tangan Tentara Pusat.
26 Juni 1958 Gerakan pasukan APRI ini dihadang Mayor John Ottay selaku Komandan Komando Militer Daerah Kota Besar (KMKB) Manado didampingi Mayor Willy (Wim) Joseph. Pukul 14.45 pasukan KKO masuk di kota Manado dari jurusan Kairagi/Airmadidi. Menjelang malam, pusat kota di Jl. Samrat berhasil diduduki pasukan gabungan APRI.
Pasukan Gabungan APRI tersebut sebelumnya ditahan 4 hari 4 malam di Jembatan Megawati, pintu gerbang masuk ke kota Manado, yang direbut silih berganti oleh pasukan Permesta dan APRI.
Mayor John Ottay kemudian dikabarkan sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Tomohon karena mengalami cedera pada bagian kaki, terkena tembakan dalam pertempuran tersebut.

Kemudian di tempat² seperti daerah operasi TNI di Kalasey, Togas, Koha, Tateli, Buloh, Mokupa, Tanahwangko dan Lemoh, TNI maju dengan cepat dengan tembakan mortir atau kanon artileri sebagai pembuka.
Serangan Tentara Pusat ini merupakan gabungan dari Bn. 517/Brawijaya pasukan "M" dibawah pimpinan komandannya Mayor Suwarno dibantu oleh satuan² Artileri dibawah pimpinan Letnan Tulus.

Arus pengungsi dari kota Manado terlihat makin panik hari ini. Iring²an rombongan manusia berjalan kaki sambil membawa barang apa adanya, tampak mengalir ke arah Selatan.
Setelah kota Manado jatuh, markas Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf ADREV PRRI dipindahkan dari Sario ke Pineleng, kemudian dipindahkan lagi ke desa Sarongsong - Tomohon saat Pineleng jatuh ke tangan APRI.
Juli 1958 Pertahanan pasukan Permesta di garis Manado-Tomohon diperkuat kubu² yang berlapis² mulai dari Warembungan sampai Tinoor. Situasi medan (topografi) sepanjang jalan raya yang menanjak ke kota Tomohon sangat mendukung suatu kekuatan defensif

(Pengalaman pada waktu Perang Dunia II telah membuktikan hal ini. Gelombang serangan serdadu Jepang, dari arah Manado menuju Tomohon, sangat kewalahan menembus kubu² pertahanan tentara KNIL waktu itu pimpinan Letnan Andries S.Purukan yang disapu oleh tembakan dari sarang mitraliur tersebut).
Bunker beton (pill box) sisa Perang Dunia II itu masih tetap utuh dan dimanfaatkan pasukan Permesta untuk membendung serangan TNI, dengan antara lain menggunakan senjata berat jenis recoilless-gun (STB). Sudah berkali² tentara Pusat mencoba untuk menembus garis pertahanan pasukan Permesta ini. Tapi baru di Warembungan, gerak maju tentara pusat sudah terhambat perlawanan Permesta.
Pesawat Mustang AURI maupun Bomber AURI hampir setiap hari terbang meraung² di angkasa lalu memuntahkan tembakan senapan mesin dan menjatuhkan bom roketnya di tempat² yang dianggap vital bagi pertahanan pasukan Permesta. Sesekali pesawat² tersebut menjatuhkan selebaran pamflet (di lokasi pasukan Permesta dan lokasi pengungsian penduduk) yang menyerukan agar Pasukan Permesta menyerah, serta membujuk rakyat agar tetap tenang dan berjanji tak lama lagi akan dibebaskan oleh pasukan APRI.
Untuk menyalurkan logistik Pasukan Permesta di garis depan, di Talete didirikan dapur umum Permesta, dan melakukan droping makanan di garis depan melalui sebuah mobil truk pengangkut makanan.

Serangan ke kota Tomohon akhirnya dialihkan ke arah Tondano lewat garis Airmadidi-Tanggari. Setelah selama seminggu diserang, barulah Tondano jatuh ke tangan APRI pada akhir bulan Juli. Wilayah Tondano pante ini dikuasai oleh Batalyon T pimpinan Mayor Togas.
 
 Akhir bulan Juli, pengiriman persenjataan Permesta (PRRI) lanjutan, mulai berdatangan (membanjiri) dan melengkapi senjata² pasukan Permesta yang lebih modern, yang didrop lewat darat maupun udara, yang mana belum pernah dimiliki APRI.

Dengan beralihnya strategi dan taktik perang Permesta (PRRI di Sulawesi) dari sistem frontal atau perang terbuka ke sistem perang gerilya, slagorde atau struktur organisasi militer Permesta juga mengalami perubahan. Struktur lama yaitu KDM-SUT yang berawal sejak medio 1957 ketika Territorium VII/Wirabuana dilikuidasi, telah dipecah menjadi empat KDP (Komando Daerah Pertempuran). Wilayah Operasi Daerah Minahasa, menjadi KDP II atau lebih populer dengan sebutan KDPM. Bekas Panglima KDM-SUT Letkol D.J. Somba, menjadi Panglima KDPM. Wilayah KDPM dibagi dalam empat Wilayah Militer yang dalam bahasa Jerman dinamakan Wherkreisse/WK. WK I menguasai wilayah Tonsea, dengan Letkol Fred Bolang selaku Komandan WK bermarkas di sekitar Desa Pinilih (Komandan WK I kemudian hari diganti oleh Letkol Agus Tuwaidan). WK II dipimpin Letkol John Ottay yang bermarkas di sekitar Desa Sawangan menguasai wilayah Tondano dan sekitarnya, termasuk Pegunungan Lembean. Letkol Wim Tenges menjadi Komandan WK III yang wilayahnya meliputi Tomohon, Remboken, Langowan, Kawangkoan dan Tumpaan, bermarkas di Desa Suluun - Rumoong Atas. WK IV meliputi wilayah Tombatu, Ratahan, Motoling dan Tompaso Baru, dengan komandan Letkol Joost A. Wuisan, bermarkas di sekitar Desa Keroit - Motoling. Tiap WK dipecah lagi menjadi beberapa Sub WK. Di wilayah KDPM seluruhnya terdapat 17 SWK yang masing² menggunakan nama gunung setempat, merupakan basis gerilya pasukan Permesta. Karenanya terdapat basis daerah gerilya seperti SWK Lokon, SWK Lengkoan, SWK Soputan, SWK Klabat, dan sebagainya.
Menurut perhitungan strategi perang gerilya Permesta, keampuhan pembentukan SWK sebagai basis daerah kantong gerilya, ialah menjadikan daya tempur pasukan lebih efektif. Menurut estimasi, satu SWK setiap hari minimal dapat menewaskan satu personil pasukan musuh. Ini berarti di wilayah KDPM setiap harinya dapat ditewaskan 17 orang musuh, atau dalam sebulan 510 kepala.
1 Juli 1958 Pemerintah sipil sementara dibentuk untuk Manado dan Minahasa dibawah pimpinan Kapten Bert Supit; dan pada 19 Juli E. Alfianus (Nus) Kandou, pimpinan PNI di Minahasa, diangkat menjadi sekretaris pemerintahan militer itu. Pada tanggal 23 September Nus Kandou diangkat menjadi penjabat Kepala Daerah Minahasa dan Jan Piet Mongula (dari PKI) diangkat menjadi penjabat Walikota Manado.
2 Juli 1958 Seruan Badan Pekerja Sinode GMIM disiarkan via Radio Permesta supaya perang saudara dengan pembunuhan dan penumpahan darah di tanah Minahasa yang tanah Kristen, yang telah berlangsung dalam waktu 14 hari terakhir, agar segera berakhir. Juga diserukan agar diusahakan jalan pertemuan dan perundingan untuk penyelesaian persoalan-persengketaan Pusat dan Daerah Minahasa. Seruan ini ditandatangani oleh Ketua BPS GMIM Ds. A.Z.R. Wenas dan Panitera (Sekum) P.W. Sambow.
Beliau kelak berjasa dalam penghubung dalam rangka Perdamaian antara Permesta dan Tentara Pusat.
12 Juli 1958 (?) Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat sejak tahun 1904.
(Laporan Letusan G.Api Mahawu tanggal 12 Djuli 1958, djam 22.44, oleh M. Pantouw, Direktorat Geologi RI - 1959).
21 Juli 1958 Kota Tondano hari ini jatuh ke tangan TNI, 26 hari setelah kota Manado jatuh. Arah gerak maju pasukan Tentara Pusat sudah dialihkan dari Manado menuju Tomohon, ke jalur Airmadidi, Tanggari, Tondano dan kemudi an Tomohon.
23 Juli 1958 Dalam sebuah artikel harian Republik terbitan hari ini, menulis:
Alex Kawilarang ketika menyaksikan daya tempur Permesta di dalam mempertahankan kota Manado, ia merasa tertipu. Dengan nada kesal dan tersenyum sinis, Kawilarang berkata: "Saja merasa tertipu, kamu orang semua sudah kaja, ja..."
25 Juli 1958 Letkol D.J. Somba hari ini tiba di Minahasa, setelah mengadakan perjalanan jauh long march dari Sulawesi Tengah, dan menggunakan beberapa truk dari Bolmong.
28 Juli 1958 Perdana Menteri RI Ir Djuanda dalam Sidang Pleno DPR DPR tanggal 28 Juli dan 16 Agustus, mengatakan bahwa Pemerintah Pusat telah mengambil tindakan² dan melakukan usaha² untuk menumpas PRRI dan Permesta.
29 Juli 1958
(ralat tgl) Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah.
D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa. Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat.
Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park - Tomohon.
 
 Hari ini terjadi letusan dari kawah Gunung Mahawu yang beristirahat sejak tahun 1904.
Letusan ini terjadi pada pukul 22.44 waktu setempat selama 40 menit dengan nyala api yang sangat besar sehingga cahaya terangnya sampai ke desa Kakaskasen bahkan ke kota Tomohon. Sebelumnya tampak angin kencang dengan kilat listrik/petir serta suara gemuruh. Gejala pendahuluan tidak diketahui secara pasti karena pada saat tersebut, Gunung Lokon juga sedang giat mengalami letusan yang telah dimulai sejak awal pergolakan tahun ini. Letusan berlangsung singkat, terekam oleh seismograf mekanik yang mencatat getaran letusan selama 76 menit. Titik letusan ada di dasar kawah puncak sebelah utara. Bahan letusannya disemburkan agak miring ke selatan. Akibat letusan, hutan di sekitar puncaknya hancur terlanda jatuhan lumpur belerang dan bongkahan lava (bongkahan lava lama), yang meluas ke arah selatan berjarak sekitar 700 m (hutan yang dirusak oleh letusan ini ±10 km²). Semua lumpur dilontarkan hingga sejauh 3 km dari kawahnya.
Lahar lumpur belerang panas dari kawah Gunung Mahawu melewati desa Kakaskasen, memotong jalan antara Tomohon-Manado dan mencapai Kali (Sosoan) Ranowangko serta melanda tempat pengungsian penduduk di lereng gunung tersebut. Korban saat itu adalah sepuluh orang luka² dan seorang ibu meninggal akibat lumpur panas tersebut.

Konon, letusan tersebut dipercaya orang akibat amarah dewa Minahasa (opo) akibat pengkhianatan Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong (selaku Komandan Sektor III wilayah sekitar Tomohon) terhadap Permesta.

(Sumber lain mengatakan bahwa letusan Mahawu dan Rapat Staf Komando KDP II di Sarongsong terjadi sehari sebelum Tomohon jatuh ke tangan Tentara Pusat (TNI) atas penyerahan diri Mayor Eddy Mongdong dan pasukan pertahanannya.)
6 Agustus 1958 Hari ini, Mayor Eddy Mongdong mengirimkan seorang kurir kepada pasukan Tentara Pusat dari kesatuan Diponegoro di Tondano yang sedang bersiap² menyerang Tomohon untuk memberitahukan pasukan tersebut, dia dan 1.500 orang dalam Sektor III-nya bersedia menyerah kepada pasukan pemerintah.
Mayor Eddy Mongdong mempengaruhi para anggota pasukannya termasuk KNIL untuk bergabung dengan TNI. Ia mengatakan bahwa Alex Kawilaranglah yang menyuruhnya untuk bergabung dengan itu. Hal inilah yang menyebabkan timbul kecurigaan kepada Alex Kawilarang, yang memuncak pada pertemuan 17 Agustus di Kiawa. Meskipun demikian, Jenderal Alex Kawilarang menolak tuduhan semacam itu. Menurut perwira Permesta lainnya, Mayor Eddy Mongdong sengaja menggunakan nama Alex Kawilarang, karena pengaruh, nama besar, serta wibawa Alex Kawilarang diantara pasukannya, baik TNI dan Permesta sangat besar.
10 Agustus 1958 Di Warembungan pada hari ini sekitar 200 orang anak buah Mayor Mongdong menyerahkan diri.
Sebelumnya sudah terjadi beberapa kali penggabungan / penyerahan diri ("pengkhianatan / pembelotan") pasukan dari Sektor III/Lokon.
13 Agustus 1958 Washington, D.C. mengadakan perjanjian ekonomi dengan Pemerintah Pusat di Jakarta.
Sejak saat itu, bantuan tenaga teknis dari Amerika Serikat di Minahasa serentak ditarik.
14 Agustus 1958 Pasukan Permesta hari ini mengadakan serangan balasan dengan menyerang Pineleng, sebagai daerah bekas markas besar Permesta tersebut.
Provinsi Sunda Kecil dimekarkan menjadi provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berdasarkan UU No. 64/1958.
Pelaksanaannya nanti pada bulan Oktober 1958.
15 Agustus 1958 Sehari sebelum insiden Kasuang yang membuka topeng Mayor Mongdong, Letkol D.J. Somba masih sempat mengunjungi kubu pertahanan Tomohon dan memberikan instruksi kepada Mayor Eddy Mongdong, supaya pertahanan ditingkatkan berhubung dengan jatuhnya Tondano ke tangan musuh. Malah, Mayor Eddy Mongdong masih turut memberikan petunjuk dan dorongan kepada pasukannya, supaya semangat perjuangan mereka ditingkatkan.

Rapat Staf Komando Permesta yang masih berada di Tomohon diadakan malam hari ini di markas komando KDP II di desa Sarongsong, dibawah pimpinan Overste D.J. Somba yang saat itu baru tiba dari Sulawesi Tengah.
D.J. Somba dalam slagorde baru pasukan Permesta telah menjadi Panglima KDP II Minahasa. Anehnya Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong selaku Komandan Sektor III yang punya peran dan tanggung jawab besar untuk mempertahankan kota Tomohon, malam itu tidak tampak dalam rapat.
Kota Tomohon sendiri berstatus KDG (Komando Daerah Garnisun) dengan Komandannya Kapten Lantang yang bermarkas di dekat Kateluan Park - Tomohon.
16 Agustus 1958 Mayor F.H.L.W. (Eddy) MONGDONG, Komandan SWK III/Lokon Permesta dan pasukannya menyerahkan diri kepada APRI ("Tentara Pusat").
Tentara APRI (TNI) pagi ini masuk dan menduduki kota Tomohon lewat Rurukan dengan leluasa yang dijemput oleh Dan SWK III/Lokon - Mayor F.H.L.W. (Eddy) Mongdong bersama pasukan inti pengawalnya Kompi Lokon dengan Komandannya Piter Tumurang. Sebagian besar anggota pasukan Mayor Eddy Mongdong menyerahkan diri kepada TNI lengkap dengan persenjataan yang ada. Pasukan APRI yang masuk kota Tomohon ini berasal dari Bn. 501/Brawijaya dibawah pimpinan Mayor Sumadi.
Kasus pengkhianatan/pembelotan Mayor Eddy Mongdong sangat mempengaruhi moril dan materil Permesta. Sekitar 600 orang pasukannya juga ikut, bersama² dengan senjata² recoillesss-gun 75 mm, mitraliur 12,7 mm dan mortir dalam jumlah yang begitu besar. Kota Tomohon memang ditargetkan untuk menjadi benteng pertahanan Permesta terkuat karena begitu strategis letaknya. Kubu pertahanan kota Tomohon saat itu dianggap terbaik dan terkuat di wilayah Permesta.
 
 Di daerah Kasuang (perbatasan Tomohon dan Tondano) terjadi "Peristiwa Kasuang", yaitu kontak senjata antara pasukan APRI dengan pasukan pengawal Letkol Dolf Runturambi, Komandan KDP III/Bolmong-Gorontalo. Dalam peristiwa ini, Letkol Dolf Runturambi dikabarkan tewas. Kontak senjata itu terjadi secara tiba², ketika kedua pasukan berpapasan secara mendadak. Pagi itu Kolonel Dolf Runturambi bersama pengawalnya yaitu 7 orang anggota Corps Tentara Peladjar (CTP) yang dipimpin Sersan Mayor Bolu Kindangen, dan diikuti juga oleh Kapten Nontji Gerungan, Kapten Herman R, dan adiknya Freddie Runturambi sedang mengendarai kendaraan Jeep Komando menuju Tondano, karena mengira waktu itu pasukan Permesta (PRRI) masih menguasai wilayah Tataaran sampai desa Koya. Di desa Kaaten, yaitu batas kota Tomohon sekitar pukul 09.00. Rombongan KDP III, yang langsung membalas teriakan awak tank TNI dalam logat Ambon: "Eh ale, apa itu tentara Permesta?" dengan senjata bregun dan beberapa pistol mitraliur Swedia pasukan pengawal KDP III. Pasukan TNI yang membawa tank bersama pasukan infanteri kemudian menyerang dengan senjata mesin dan kanon dari tank.
Siang itu rombongan menyingkir ke posko KDP II di Sarongsong. Panglima Besar Alex Kawilarang dan stafnya meninggalkan daerah Kinilow-Kakaskasen menuju Kawangkoan via Tomohon, sempat singgah di posko KDP II dan berkata kepada Yus Somba di depan posko: "Hei Somba, Dolf telah tewas, dan jip komandonya hancur kena tembakan kanon tank musuh, sedang nasib anak buahnya belum diketahui." Namun, saat itu Letkol Dolf Runturambi sedang berada di dalam ruang kerja Yus Somba, dan kaget saat diajak Somba masuk ruangan, lalu berkata: "En zij rapporteren mij, dat je gesneuveld bent in Kasuang bij een overval op weg naar Tondano." (Mereka -Tentara Pusat- melaporkan, bahwa anda sudah gugur pada suatu sergapan di Kasuang dalam perjalanan ke Tondano). Di wilayah Sektor III Permesta dalam beberapa hari sebelumnya, ada perintah bahwa semua pasukan Permesta menjelang hari Proklamasi 17 Agustus, harus mengenakan pita merah putih sebagai kode. Ternyata pita merah putih itu adalah kode kesepakatan antara Mayor Eddy Mongdong dan TNI sebagai tanda pengenal pasukan Permesta yang akan bergabung dengan TNI. Karenanya semua pasukan Permesta yang masih setia, segera diperintahkan menanggalkan pita merah putih tersebut.
Mayor Eddy Mongong ketika itu juga menjadi pusat caci-maki semua pasukan Permesta yang terpaksa harus meninggalkan kota Tomohon bergerak menuju daerah Selatan dan dicap sebagai pengkhianat Permesta yang menjual Tomohon, yang adalah kampung halamannya sendiri.

Sore ini, rombongan eksodus yang terdiri dari penduduk pro-Permesta maupun Pasukan Permesta bergerak ke arah Selatan dan memadati jalan raya Tomohon - Kawangkoan - Amurang - Motoling. Fanatisme Permesta masih tercermin dari eksodus ini. Ikut pula dalam eksodus ini empat buah panser Permesta bercat loreng yang masing² diberi nama gunung yang ada di Minahasa seperti Kalabat, Lokon, dan Soputan, yang sudah tidak dapat dioperasikan lagi karena telah kehabisan bahan bakar. Dalam eksodus ini, banyak orang yang ditangkap dan ditahan sebagai mata² musuh, atau mereka yang punya niat bergabung dengan pihak lawan. Tugas ini ditangani oleh pasukan Combat yang dipimpin Letnan Sam Langi, dan dikenal sebagai Combat Langi.
Konsul Filipina, Mr. Renato Valensia bersama Nyonya Maria bersama ketiga putra-putrinya, mengungsi dari Manado ke Sonder dan mendirikan kantor Konsulat darurat di sana. Filipina membuka konsulat pertama di zaman Permesta, dengan mengontrak rumah Keluarga Tambuwun asal Sonder di wilayah Titiwungen Manado.
Dari desa Leilem sudah terdengar ledakan² dasyat yang berasal dari pemusnahan gudang mesiu bawah tanah yang terdapat di desa Kiawa. Pemusnahan mesiu itu dilakukan karena tak sempat diangkut ke wilayah Selatan. Daripada mesiu² itu jatuh ke tangan Pasukan APRI (TNI), lebih baik dimusnahkan. Hal ini membuktikan bahwa pimpinan Permesta waktu itu, tak menduga sama sekali bahwa Tomohon sudah akan jatuh ke tangan Pasukan TNI dalam waktu secepat itu. Ledakan pemusnahan gudang mesiu di desa Kiawa ini berlangsung dari pagi hingga malam hari. 
 
17 Agustus 1958 Hari ini di Kiawa, diadakan pertemuan antara Waperdam (Wakil Perdana Menteri/WPM) Joop Warouw, Panglima Besar PRRI Mayor Jenderal Alex Kawilarang, Kepala Staf ADREV PRRI Brigadier Jenderal HN Ventje Sumual dan Panglima KDP II Letkol D.J. Somba, dan Panglima KDP III Letkol Dolf Runturambi. Pertemuan ini untuk membahas masalah pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong dan berita tewasnya Komandan KDP III Dolf Runturambi dalam Peristiwa Kasuang. Letkol Dolf Runturambi pagi itu berada di Sonder, dan dijemput Yus Somba dengan mobil.
Pertemuan itu digambarkan bahwa suasana saat itu tegang, karena ada tuduhan yang dialamatkan kepada Panglima Besar Alex Kawilarang berdasarkan saksi anggota Mobrig (Brimob sekarang) Pitoy yang melarikan diri dari pasukan Mayor Mongdong ketika akan bergabung dengan pasukan TNI di Rurukan. Sebelum Letkol Dolf Runturambi dijemput dari Sonder, KSAD Ventje Sumual mengancam akan menembak mati Panglima Besar Alex Kawilarang, apabila memang benar Letkol Dolf Runturambi tewas di daerah Kasuang. Akhirnya rapat tersebut ditutup, dan kasus pengkhianatan Mayor Eddy Mongdong akan langsung diurus sendiri oleh atasan, yaitu Waperdam/Menteri Pertahanan ad interim PRRI Joop Warouw. Kolonel Joop Warouw menyusun naskah bertanggal hari ini yang berjudul "Azas² dan tudjuan perdjoangan PRRI". Hari ini (atau tanggal 1 Agustus sebelumnya), Perguruan Tinggi Manado (PTM) berdiri di bekas Universitas Permesta dengan 4 fakultas (Fakultas Hukum, Ekonomi, Sastra, & Tatapradja), atas inisiatif dari masyarakat Sulutteng dan tokoh² masyarakat, yaitu Kapten TNI Bert A. Supit (Bupati Minahasa), E. Alfianus (Nus) Kandou (Ketua PNI Sulutteng), dr R.D. Kandou (Kepala Rumah Sakit Umum Manado), F.J. Gerungan SH, Dr W.F.J.B. Tooy, Pastoor Dr Th. Lumanauw, Dr Kaligis, Dr W.J. Ratulangi, dr Letkol TNI Sien Tjoan Po, Drs R.H. Lalisang, Jan Piet Mongula (Walikota Manado).
Bulan Oktober berganti nama menjadi Universitas Sulawesi Utara Tengah (UNSUT), lalu tahun 1960 menjadi UNISUT kemudian pada tanggal 4 Juli 1961 menjadi UNSULUTENG. Tahun 1963, Fakultas Pertanian dan Peternakan dipisahkan, Agustus 1964 berdiri Fakultas Sosial Politik, 1 September 1964 berdiri pula Fakultas Teknik. Tanggal 14 september 1965 dengan SK Presiden No. 277/1965 UNSULTTENG diubah menjadi Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) dengan 7 fakultasnya dan tahun 1965 diresmikan pula Fakultas Sastra. Kemudian bertambah Fakultas Perikanan.
19 Agustus 1958 Langowan berhasil diduduki APRI dari kesatuan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin yang bertempur selama 2½ hari (sebelumnya direncanakan akan memakan waktu 6 hari). Bom² milik Permesta seberat 50-100 kg yang bertaburan di Lapangan Tasuka, rumah² dan di tepi jalan disita APRI. Juga berhasil disita sebuah truck, 2 oto pick up, 3 jeep dan sebuah sepeda motor milik PRRI (Permesta).
23 Agustus 1958 Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah (KDM-SUT) resmi dibubarkan hari ini.
Sebagai penggantinya, didirikanlah Komando Daerah Militer XIII (KODAM XIII) Merdeka.
25 Agustus 1958 Kawangkoan berhasil diduduki APRI dan Bn. 513/Divisi Brawijaya dipimpin Mayor Sudarmin setelah sebelumnya mengadakan pembersihan di daerah Remboken, Parepei, Pulutan & Tondegesan. Pasukan APRI pimpinan Mayor Kusworo yang bergerak ke arah Sonder, berhasil menemukan 25 peti peluru berbagai ukuran di rumah orang tua Overste D.J. Somba.
23 September 1958 (Tanahwangko berhasil direbut pasukan APRI.)
25 September 1958 Amurang digempur dari arah laut oleh pasukan KKO. Kemudian pasukan KKO pimpinan Mayor Ali Sadikin tersebut berhasil mendaratkan pasukannya dan menduduki kota Amurang. Untuk mengenangnya, didirikanlah Tugu Pembebasan kota Amurang oleh Pasukan KKO yang terletak di simpang empat kota Amurang di Uwuran yaitu persimpangan menuju Tombatu.
 
 Kota Amurang ini sebelumnya merupakan titik konsolidasi pasukan Permesta yang datang dari Minahasa Utara dan Tengah, sekaligus merupakan kota transit untuk menuju ke wilayah Minahasa Selatan dan Bolaang Mongondow.

Sejak saat itu, secara de facto wilayah Minahasa Selatan yang meliputi garis Ratahan - Tombatu - Motoling - Tompaso Baru yang memiliki kawasan hutan cukup lebat dan luas, masih utuh di tangan kekuasaan Permesta, dan sangat strategis dijadikan tempat rendezvous dalam taktik perang gerilya.
Oktober 1958 Bulan ini dihasilkannya "Muktamar Tambelang", yang dilaksanakan di Tambelang, Tompaso Baru dimana Pemerintah Revolusioner RI (PRRI) mengajak lapisan rakyat berjuang menyusun bersama pemerintah PRRI hal² yang perlu untuk memenangkan perjuangan PRRI dan memusnahkan rejim Soekarno cs. Ada 3 golongan yang terbagi dalam visi dan misi Permesta:
(1) golongan yang ingin mempertahankan gagasan PRRI dan Permesta yang hanya menuntut sistem pemerintahan Indonesia.
Golongan ini dipimpin oleh Kepala Pemerintahan Sipil PRRI di Sulawesi Kol.J.F. Warouw.
(2) golongan yang tidak jelas tujuannya
Golongan ini terutama Pasukan Triple Ninenya Jan Timbuleng, yang dulunya adalah PPK (Pasukan Pembela Keadilan) yang dikenal sebagai pasukan pengacau keamanan /GPK di daerah Minahasa sebelum Pergolakan Permesta.
(3) golongan yang menghendaki untuk menggabungkan diri kembali dengan APRI (Angkatan Perang RI).
Desember 1958 16 pesawat AUREV PRRI/Permesta di Pangkalan AS Clark Airfield di Manila Filipina dipindahkan keluar dari sana oleh Amerika Serikat. Diantara pesawat terbang itu, terdapat pesawat B-29 Bomber, P-54 (Mustang), dan B-26 Invander.
4 Desember 1958 Ada 8 kali penerbangan gelap di atas Kalimantan Barat yaitu di atas Pangkalan Udara AURI Singkawang dan Kota Ledo dalam waktu 9 hari di ketinggian 3.000-7.000 kaki.
Peristiwa itu terjadi tanggal 4 Des (2x penerbangan), 5 Des (2x), 9 Des, 10 Des, 13 Des (2x).
awal Januari 1959 Setelah kiriman² senjata, amunisi dan perbekalan militer yang diangkut oleh kapal yang berlabuh di Labuan Uki yang merupakan sebuah teluk di pantai sebelah Barat Bolmong yang terlindung dari udara dan laut. Di tempat ini, pembongkaran dan pemuatan mudah dilakukan. Kapal dapat merapat pada tebing² pantai yang cukup terjal. Airnya dalam dan tenang, sehingga tidak ada kekuatiran kapal akan kandas. Di tempat itu pernah digunakan kapal perang Jerman "Von Emden" pada Perang Dunia I untuk bersembunyi dari kejaran kapal² perang Sekutu sampai akhirnya selamat dari kejaran tersebut. Di tempat ini pula, kapal "Black Snake" (nama aslinya "Seabird") ditenggelamkan bulan ini karena hampir ketahuan 3 kapal perang ALRI dengan beberapa pesawat AURI yang mengawasi perairan itu.

Senjata² dan amunisi seperti pistol mitraliur (PM) eks Swedia, bregun, mitraliur dengan ban² pelurunya @ 250 butir, basoka, recoilless-gun 75 mm, mortir, senjata² panjang, mitraliur 12,7 dan pom-pom dengan amunisinya. Sejumlah tertentu dari senjata dan amunisi tersebut diambil oleh KASD Brigjen Ventje Sumual, yang cukup untuk memperlengkapi satu resimen tempur untuk mengadakan pertempuran frontal. Sisanya diperuntukkan bagi pasukan² gerilya.
Akibatnya, ada kesatuan yang membutuhkan senjata dan amunisi untuk dua kompi, tetapi yang diperoleh hanya perlengkapan untuk satu kompi dan ada juga kesatuan yang sama sekali tidak memperoleh senjata sepucuk pun. Dengan sendirinya mereka sangat kecewa. Mereka sudah menempuh puluhan bahkan ratusan kilometer secara sia². Biasanya, mereka melampiaskan kesalahannya dengan sumpah serapah, maki² dan ancaman. Sejak diadakan pembagian senjata, daerah KDP III dibawah komando Kolonel Dolf Runturambi semakin sering mendapatkan kunjungan pasukan², tidak hanya untuk meminta atau menerima pembagian tetapi juga untuk merampas ternak dan bahan makanan rakyat. Perbuatan mereka telah menimbulkan rasa kecewa, amarah dan tidak percaya pada Permesta dari kalangan penduduk setempat (Bolmong).
 
 5 Februari 1959 Reorganisasi susunan pemerintahan PRRI dimana Brigjen TNI Alexander Evert KAWILARANG kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat Jenderal Mayor.
Walaupun demikian, Alex Kawilarang tidak pernah menerima/menghendaki jabatan itu. Ia lebih menyukai disebut sebagai Panglima Besar Permesta ketimbang Panglima Besar PRRI.
Gayanya dalam berpakaian adalah dengan memakai celana pendek dengan sendal jepit. Akibatnya, pernah ia dilucuti jam tangannya oleh bawahannya yang tidak mengetahui siapa yang dihadapinya itu. Meskipun demikian, wibawanya terhadap pasukannya sangat tinggi, dan ia sangat dihormati dan disegani oleh seluruh pasukan Permesta.

17 Februari 1959 Serangan Umum besar²an pasukan Permesta (PRRI) serantak di Minahasa yang diberi nama "Operation Djakarta Special One" atau "Operasi Jakarta Spesial I".
 
Sasaran dari serangan itu adalah menduduki tempat² strategis seperti kota Kawangkoan, Langowan, Tondano dan Amurang-Tumpaan dan menghancurkan sarana² personil dan materiil lawan, senjata² berat, panser², artileri dan bahan² logistiknya, seperti bensin, solar dan amunisi.
Perintah penyerangan "Jakarta Spesial I" berbunyi:
- Kekuatan lawan di Kawangkoan dan desa² sekitarnya, diperkirakan satu resimen tim tempur dengan senjata² bantuan pesawat AURI, artileri, mortir 80 mm, mitraliur 12,7 m dan panser.
- Kekuatan Permesta untuk menyerang Kawangkoan terdiri dari: Bn.Q, Bn.T dan Bn.O masing² dipimpin Mayor J. Lumingkewas, Kapten Boetje Togas dan Kapten David Pantouw, ditambah satu batalyon dari WK-III. Senjata² beratnya terdiri dari 2 recoillesss-gun 75 mm untuk menghancurkan kubu² pertahanan lawan di Bukit Emung - di selatan Kawangkoan, kendaraan panser, sarang² mitraliur dan basoka yang dibangun di sekitar bukit itu. Di suatu tempat strategis di dekat jalan raya Tareran - Kayuuwi, ditempatkan dua recoillesss-gun 75 mm dan satu mitraliur 12,7 mm.
- Sasaran pasukan² sayap: menyerang Amurang dan Tumpaan dengan 500 orang anggota Brigade 999 dibawah pimpinan Letkol Yoost Wuisan. Sementara itu Langowan diserang oleh pasukan Laurens Saerang (Brigade Manguni), sedang Tomohon dibawah koordinasi Kolonel D.J. Somba dengan tujuan utama, supaya Tomohon tidak dapat memberi bantuan pada Kawangkoan.
- Pada hari H, yaitu, tanggal 17 Februari 1959, semua satuan di seluruh WK² harus secara serentak mengadakan serangan terhadap semua pos² yang berada di daerah operasi masing².
Serangan inti terhadap Kawangkoan dan sekitarnya dipimpin oleh Kolonel Dolf Runturambi. Konsentrasi pasukan diadakan di sekitar Kotamenara dekat Gunung Soputan. Pada hari H, satu jam sebelum waktu yang ditentukan untuk bergerak, semua pasukan tempur sudah siap di garis awal masing².
- Hari H adalah tanggal 17 Februari 1959; waktunya pukul 04.00.
Alat komunikasi yang ada dengan posko "Jakarta Spesial I" Ventje Sumual code X, posko serangan inti Kolonel Dolf Runturambi code X2, posko Kolonel D.J. (Yus) Somba code X3 dan posko Letkol Joost A. Wuisan code X4.

Selanjutnya, Gerakan Operasi "Operation Jakarta Special One" ini dibagi dua:
* Daerah Pertempuran A: Mencakup Minahasa Utara yang berbatasan dengan garis Kawangkoan-Tumpaan dibawah komando Kolonel D.J. Somba (Dan KDP II)
* Daerah Pertempuran B: Mencakup Minahasa Selatan dengan batas dari garis jalan raya Amurang-Kawangkoan-Langowan, dibawah komando Letkol Dolf Runturambi (Dan KDP III)

Ada beberapa kota yang berhasil diduduki pasukan Permesta selama beberapa jam seperti Kawangkoan, Amurang, dll. Menjelang tengah hari, bala bantuan pusat dengan mengerahkan panser² dibawah perlindungan air-cover pesawat² AURI. Menjelang sore, bala bantuan TNI sudah tiba di Kawangkoan. Korban yang terbanyak di desa Kayuuwi Kawangkoan dimana ada 14 orang dalam Bn. Y yang dikomandoi Mayor Baybay, 12 orang dari Bn. T Boetje Togas, selain beberapa lagi dari Brigade Manguni.
Kode untuk pasukan Permesta yang ikut dalam Operasi Djakarta Special I adalah daun parundak (daun muda pohon seho) di lengan tangan kanan
Tujuan serangan ini adalah juga untuk memberi moril kepada pasukan PRRI di Sumatera.
18 Februari 1959 "Operasi Jakarta Spesial I" Hari H ke-2.
Setelah Bn.Q, Bn.T, Bn.O serta pasukan WK-III Letkol Wim Tenges yang tetap bertahan di garis awal, mengadakan serangan kedua yang ditentukan diadakan pada hari H kedua, pukul 04.00 sesuai dengan tujuan yang sama dengan hari H pertama "Operasi Jakarta Spesial I". Pasukan² Permesta menduduki kota Kawangkoan dan banyak menimbulkan kerugian kepada pihak lawan, tapi tidak berusaha mendudukinya, sedangkan perebutan Bukit Emung oleh Bn.Q sekali lagi gagal. Pasukan Permesta kemudian mundur pada pukul 11.30, tetapi tetap bertahan di sekitarnya menunggu instruksi selanjutnya.
19 Februari 1959 "Operasi Jakarta Spesial I" Hari H ke-3.
Pukul 14.00 diadakan serangan terhadap Rumoong Atas (Tareran) yang diduduki oleh satu kompi Tentara Pusat dengan senjata bantuan 1 peleton panser. Serangan ini dipimpin oleh Komandan KDP III Kolonel Dolf Runturambi yang diperbantukan dari Bolmong. Tareran dihujani dengan roket² 75 mm dan pasukan WK-III Letkol Wim Tenges diperintahkan menduduki kota itu. Namun di berbagai sudut kota, terdapat pertahanan Tentara Pusat berupa panser² yang terlindung dari recoilles-gun, selain pesawat AURI.
Setelah malam hari pasukan Permesta meninggalkan daerah pertempuran dengan hasil yang tidak memuaskan. Meskipun kerugian dari pihak Tentara Pusat sangat besar, tapi Permesta juga cukup banyak memberikan korban jiwa dan material. Batalyon T pimpinan Boetje Togas kehilangan 8 orang dan 4 orang luka berat dan ringan, Batalyon Q pimpinan Mayor J. Lumingkewas gugur satu orang dan luka satu orang, pasukan Corps Tentara Peladjar (CTP) dari WK-III Letkol Wim Tenges satu orang luka ringan yaitu Nicky Nelwan. Menurut keterangan penduduk, banyak anggota pasukan Tentara Pusat yang gugur dan luka berat disamping hilangya perbekalan mereka yang sangat besar.

Setelah malam hari, pasukan dikumpulkan, meninggalkan daerah pertempuran dengan hasil yang tidak memuaskan. Dari Bn.T (Mayor Boetje Togas) kehilangan 8 orang dan 4 orang luka berat dan ringan, Bn.Q gugur satu orang dan luka ringan satu orang, CTP dari WK-III Letkol Wim Tenges satu orang luka ringan, yaitu Nicky Nelwan. Sedangkan di pihak lawan (TNI), menurut keterangan penduduk, banyak yang gugur dan luka berat disamping hilangnya perbekalan yang sangat besar.
Dalam serangan selama tiga hari ini, Batalyon T (Batalyon Togas) dapat mengusir TNI dari desa² antara Tondegesan dan Remboken. Mereka lari ke Tondano. Kemudian Bn. Togas meminta untuk tetap tinggal di daerah ini, dan tidak ingin kembali lagi ke daerah KDP III di Bolmong.

Pasukan Permesta kehilangan lebih dari seratus orang dalam serangan umum "Operasi Jakarta Spesial I" ini. Ironisnya, KSAD Brigjen Ventje Sumual sendiri justru tidak ikut terjun langsung dalam Operasi Serangam Umum "Operation Special One" tersebut.
Tujuan utama dari serangan ini gagal dilaksanakan, yaitu menguasai point² (titik²) strategis seperti Bukit Emung di Kawangkoan, sedangkan Langowan hanya sempat dikuasai selama beberapa jam saja.
Tujuan lain adalah untuk meningkatkan moril PRRI di Sumatera dan untuk memukul moril pasukan Tentara Pusat.
21 Maret 1959 Sebuah universitas Sulawesi Utara dan Tengah telah dibuka di Manado (IKIP Manado) dengan dukungan Kodam XIII/Merdeka, dan diperkirakan banyak tentara muda Permesta akan diterima sebagai mahasiswa di perguruan itu.
 
 
 
 
 
 
Poskan Komentar