Tampilkan postingan dengan label Konstituen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konstituen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Pilwako Tomohon: Siapa Terkuat?

SEBAGAI Kota yang tergolong 'mungil' bukan lantas perhelatan pesta demokrasi langsung di kota Tomohon tahun ini tidak, dikategorikan 'adem.'

Setiap hari, saat ini, baik di media sosial, kendaraan, tidak terkecuali di sejumlah titik wilayah kaki Gung Lokon itu, telah ramai dengan tampilnya sejumlah 'wajah - wajah ganteng,' atau disingkat saja WWG (khusus yang kaum Adam dulu, ya). 

Sangat pantas disebut demikian lantaran pemunculan WWG telah melewati rangkaian tahapan 'pemolesan' kerjaan tata rias. Jadilah yang usianya di atas setengah abad terlihat 30 tahunan, dan yang lebih muda bahkan tampak masih ABG.

Aksi serupa, bahkan tentu saja lebih heboh, dilakukan para Wajah Wajah Cantik (WWC). Semua terlihat sangat cantik plus fresh.

Lepas dari 'rebutan' merias wajah, pertanyaan sederhana, namun akan terkesan sangat kuat, yakni : siapa yang terkuat?

Tentu saja semua akan mengaku terkuat. Terkuat Dana, terkuat wajah, terkuat keluarga dan terkuat - terkuat lainnya.

Terkadang, dan ini yang kerap membuat 'rasa geli,'  masing - masing merasa paling terkuat, sehingga justru kecolongan, karena bukankah yang terkuat adalah konstituen? Hmm...

Gugurnya Pencalonan, Siapa Rampok Siapa?

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada), siapa yang tidak tertarik? Baik subyek yang mencalonkan diri, Partai Politik, konstituen, institusi penyelenggara, lembaga pengawas tak terkecuali yang berkecimpung di dunia usaha, pastinya terkonsentrasi pada agenda berlabel 'Pesta Demokrasi Langsung' itu.
Daya tarik, namun sejujurnya sangat tidak diharapkan, atas materi Pilkada kian menguat manakala ada figur tertentu yang sudah mengibarkan panji 'perang' malah harus diturunkan, atau dipaksa untuk turun, entahlah.
Dan itulah yang berhasil masuk dalam catatan sejarah Pilkada di Sulut tahun 2015. Salah satu kandidat gubernur yang sudah dengan optimismenya, siap masuk dalam pertarungan, in actu, harus terhenti langkahnya (paling tidak fakta sampai saat ini).
Tergambarlah betapa pintu gerbang arena sungguh bukan terbuat dari bahan rongsokan, meski bukan berarti kekal dalam kekokohan.
Fakta itu pun melahirkan sebuah kebingungan, terutama dalam diri konstituen, sejauh memang berpijak di atas karpet menuju 'pesta.' Dan memang sebuah kepantasan jika pemilih merasa berada dalam nuansa demikian.
Gugurnya pencalonan, selanjutnya membawa daya nalar setiap orang, se-awam apapun dia, terkadang tiba pada pertanyaan "ada apa ini"? atau "kenapa begitu"?
Gugurnya pencalonan pun bisa menibakan setiap pemilik kepentingan, berpikir "siapa rampok siapa"? apakah terjadi perampokan atas HAM seseorang atau apakah terjadi perampokan atas hak konstituen, atau mungkinkah terjadi perampokan atas aturan normatif? 
Apapun itu, bukankah jauh sangat indah apabila pesta rakyat benar - benar dialami dan bukannya diimpikan? 
Satu lagi, gugurnya pencalonan, bukanlah fakta unik yang ingin dinikmati oleh para pemilik hak suara.